Kembali
HEINEKEN : KENAIKAN BAHAN BAKAR PICU KENAIKAN BIAYA PRODUKSI DI ASIA
Kenaikan biaya bahan bakar yang dipicu oleh perang di Iran mendorong kenaikan biaya produksi bir Heineken di Asia, menurut Presiden Heineken untuk kawasan Asia-Pasifik, Jacco van der Linden.
"Kami melihat dampaknya pada biaya bahan baku kami, terutama di Asia," katanya dalam wawancara dengan Bloomberg TV pada Senin (28 Sep). "Di Asia, kami lebih bergantung pada minyak yang berasal dari Timur Tengah, dan cadangannya relatif lebih sedikit."
Perusahaan bir asal Belanda ini membebankan sekitar 70 hingga 80 persen kenaikan harga kepada konsumen, sementara mengandalkan peningkatan efisiensi produksi untuk menanggung sisanya, kata Van der Linden.
"Biaya input terus meningkat, sehingga produktivitas serta manajemen pendapatan menjadi semakin penting bagi kami," katanya.
Kenaikan biaya ini terjadi di tengah upaya produsen bir di seluruh dunia menghadapi konsumen yang semakin mengurangi konsumsi dan mengalami pergeseran selera, termasuk beralih ke minuman yang lebih sehat.
Heineken tertinggal dari pesaingnya, AB InBev dan Carlsberg, dalam upaya memulihkan bisnis setelah mengalami kemerosotan pasca-pandemi Covid-19.
Rafael Oliveira, calon CEO yang akan menjadi orang luar pertama yang memimpin Heineken, akan menghadapi kondisi penjualan yang lesu di Eropa dan Amerika Serikat saat ia mulai menjabat pada bulan Oktober.
Hal itu membuat pertumbuhan di pasar negara berkembang semakin penting. Heineken memanfaatkan permintaan yang terus meningkat di Asia, Afrika, dan negara-negara berkembang lainnya untuk mengimbangi kelesuan di Eropa dan Amerika.
Volume penjualan melonjak 13 persen di Asia-Pasifik dan 3,5 persen di Afrika serta Timur Tengah pada kuartal kedua, sementara turun 4,1 persen di Amerika.
Heineken perlu terus berinvestasi di Asia, Afrika, dan Amerika Latin serta lebih gencar memasarkan produk-produk premium untuk mengatasi penurunan penjualan di pasar-pasar yang sudah matang, menurut analis Bloomberg Intelligence, Ignacio Canals Polo.
Vietnam dan Meksiko "menunjukkan bagaimana strategi tersebut dapat berhasil", tulisnya dalam catatan riset tanggal 10 September.
Perusahaan ini berfokus pada pasar-pasar pertumbuhan utama terutama di Asia, seperti Vietnam, India, dan Tiongkok, di mana konsumen lebih menyukai bir yang lebih ringan kata Van der Linden. (end/Bloomberg)
"Kami melihat dampaknya pada biaya bahan baku kami, terutama di Asia," katanya dalam wawancara dengan Bloomberg TV pada Senin (28 Sep). "Di Asia, kami lebih bergantung pada minyak yang berasal dari Timur Tengah, dan cadangannya relatif lebih sedikit."
Perusahaan bir asal Belanda ini membebankan sekitar 70 hingga 80 persen kenaikan harga kepada konsumen, sementara mengandalkan peningkatan efisiensi produksi untuk menanggung sisanya, kata Van der Linden.
"Biaya input terus meningkat, sehingga produktivitas serta manajemen pendapatan menjadi semakin penting bagi kami," katanya.
Kenaikan biaya ini terjadi di tengah upaya produsen bir di seluruh dunia menghadapi konsumen yang semakin mengurangi konsumsi dan mengalami pergeseran selera, termasuk beralih ke minuman yang lebih sehat.
Heineken tertinggal dari pesaingnya, AB InBev dan Carlsberg, dalam upaya memulihkan bisnis setelah mengalami kemerosotan pasca-pandemi Covid-19.
Rafael Oliveira, calon CEO yang akan menjadi orang luar pertama yang memimpin Heineken, akan menghadapi kondisi penjualan yang lesu di Eropa dan Amerika Serikat saat ia mulai menjabat pada bulan Oktober.
Hal itu membuat pertumbuhan di pasar negara berkembang semakin penting. Heineken memanfaatkan permintaan yang terus meningkat di Asia, Afrika, dan negara-negara berkembang lainnya untuk mengimbangi kelesuan di Eropa dan Amerika.
Volume penjualan melonjak 13 persen di Asia-Pasifik dan 3,5 persen di Afrika serta Timur Tengah pada kuartal kedua, sementara turun 4,1 persen di Amerika.
Heineken perlu terus berinvestasi di Asia, Afrika, dan Amerika Latin serta lebih gencar memasarkan produk-produk premium untuk mengatasi penurunan penjualan di pasar-pasar yang sudah matang, menurut analis Bloomberg Intelligence, Ignacio Canals Polo.
Vietnam dan Meksiko "menunjukkan bagaimana strategi tersebut dapat berhasil", tulisnya dalam catatan riset tanggal 10 September.
Perusahaan ini berfokus pada pasar-pasar pertumbuhan utama terutama di Asia, seperti Vietnam, India, dan Tiongkok, di mana konsumen lebih menyukai bir yang lebih ringan kata Van der Linden. (end/Bloomberg)

