Kembali
KAWASAN INDUSTRI MAKIN PADAT, BISNIS INFRASTRUKTUR CDIA BERPELUANG MELESAT
Perkembangan kawasan industri turut meningkatkan kebutuhan terhadap berbagai infrastruktur penunjang, mulai dari listrik, air, kepelabuhanan, fasilitas penyimpanan hingga jasa logistik. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) untuk mengembangkan bisnis infrastruktur yang terintegrasi dengan ekosistem industri di Cilegon, Banten.
Head of Equity Research KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, mengatakan CDIA memiliki empat pilar bisnis, yakni energi, air, kepelabuhanan dan penyimpanan, serta logistik. Infrastruktur tersebut terhubung dengan aktivitas industri di Kawasan Industri Krakatau (KIK) dan wilayah sekitarnya yang menjadi salah satu kawasan industri berat dan petrokimia.
"CDIA berada pada ekosistem yang kebutuhan infrastrukturnya mengikuti perkembangan aktivitas industri. Karena itu, pertumbuhan kawasan dapat membuka peluang bagi peningkatan permintaan terhadap energi, utilitas maupun layanan logistik," ujar Fikri.
Berdasarkan laporan riset KB Valbury Sekuritas, pendapatan CDIA pada semester I 2026 mencapai US$82,1 juta, tumbuh 22,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh bisnis energi dan logistik. Pendapatan segmen energi tercatat US$51,8 juta atau meningkat 5,4% secara tahunan, sedangkan pendapatan logistik tumbuh 80,2% menjadi US$27 juta.
Pertumbuhan pendapatan tersebut terjadi di tengah peningkatan biaya. Biaya pendapatan naik 30,9%, sementara beban operasional melonjak 103,2% secara tahunan. Di sisi lain, perkembangan kawasan industri masih menjadi salah satu faktor yang membuka ruang pertumbuhan bagi bisnis infrastruktur CDIA.
Fikri mengatakan KIK I dan KIK II telah mencatat tingkat okupansi masing-masing sekitar 73% dan 92%. Sementara itu, KIK III masih dalam tahap pengembangan untuk mendukung ekosistem petrokimia dan kendaraan listrik, dengan sekitar 253 hektare lahan yang belum dikembangkan.
Ekspansi kawasan tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan energi dan utilitas. Riset KB Valbury Sekuritas memperkirakan konsumsi listrik nasional tumbuh sekitar 5% per tahun hingga 2034. Sementara itu, kebutuhan listrik sektor industri diproyeksikan tumbuh lebih tinggi, sekitar 5,9% per tahun.
Potensi permintaan juga dapat berasal dari proyek Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik Chandra Asri Pacific. Proyek tersebut terdiri atas fasilitas Chlor Alkali berkapasitas 400 KTA dan EDC 500 KTA. Hingga Juli 2026, progres konstruksi proyek telah mencapai 72% dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Bagi CDIA, pengembangan CA-EDC berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap listrik, air, kepelabuhanan, penyimpanan, dan layanan logistik. Namun, besaran kontribusi proyek tersebut terhadap pendapatan maupun laba CDIA belum dapat dipastikan karena belum terdapat estimasi spesifik yang diungkapkan.
Keterkaitan CDIA dengan ekosistem industri juga terlihat dari kontribusi transaksi pihak berelasi yang mencapai 22,3% terhadap pendapatan pada semester I 2026. Pada bisnis logistik, Chandra Asri Group menyumbang sekitar 60% kapasitas pengiriman CDIA, dengan kontrak time charter yang umumnya memiliki tenor hingga masa ekonomis kapal.
Dengan demikian, perkembangan bisnis CDIA tidak hanya bergantung pada pertumbuhan masing-masing lini usaha, tetapi juga pada ekspansi ekosistem industri yang menjadi basis permintaannya. Pertumbuhan kawasan industri, peningkatan kebutuhan listrik sektor industri, serta ekspansi fasilitas produksi berpotensi menciptakan tambahan kebutuhan terhadap layanan infrastruktur yang dimiliki CDIA. (end)
Head of Equity Research KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, mengatakan CDIA memiliki empat pilar bisnis, yakni energi, air, kepelabuhanan dan penyimpanan, serta logistik. Infrastruktur tersebut terhubung dengan aktivitas industri di Kawasan Industri Krakatau (KIK) dan wilayah sekitarnya yang menjadi salah satu kawasan industri berat dan petrokimia.
"CDIA berada pada ekosistem yang kebutuhan infrastrukturnya mengikuti perkembangan aktivitas industri. Karena itu, pertumbuhan kawasan dapat membuka peluang bagi peningkatan permintaan terhadap energi, utilitas maupun layanan logistik," ujar Fikri.
Berdasarkan laporan riset KB Valbury Sekuritas, pendapatan CDIA pada semester I 2026 mencapai US$82,1 juta, tumbuh 22,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh bisnis energi dan logistik. Pendapatan segmen energi tercatat US$51,8 juta atau meningkat 5,4% secara tahunan, sedangkan pendapatan logistik tumbuh 80,2% menjadi US$27 juta.
Pertumbuhan pendapatan tersebut terjadi di tengah peningkatan biaya. Biaya pendapatan naik 30,9%, sementara beban operasional melonjak 103,2% secara tahunan. Di sisi lain, perkembangan kawasan industri masih menjadi salah satu faktor yang membuka ruang pertumbuhan bagi bisnis infrastruktur CDIA.
Fikri mengatakan KIK I dan KIK II telah mencatat tingkat okupansi masing-masing sekitar 73% dan 92%. Sementara itu, KIK III masih dalam tahap pengembangan untuk mendukung ekosistem petrokimia dan kendaraan listrik, dengan sekitar 253 hektare lahan yang belum dikembangkan.
Ekspansi kawasan tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan energi dan utilitas. Riset KB Valbury Sekuritas memperkirakan konsumsi listrik nasional tumbuh sekitar 5% per tahun hingga 2034. Sementara itu, kebutuhan listrik sektor industri diproyeksikan tumbuh lebih tinggi, sekitar 5,9% per tahun.
Potensi permintaan juga dapat berasal dari proyek Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik Chandra Asri Pacific. Proyek tersebut terdiri atas fasilitas Chlor Alkali berkapasitas 400 KTA dan EDC 500 KTA. Hingga Juli 2026, progres konstruksi proyek telah mencapai 72% dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Bagi CDIA, pengembangan CA-EDC berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap listrik, air, kepelabuhanan, penyimpanan, dan layanan logistik. Namun, besaran kontribusi proyek tersebut terhadap pendapatan maupun laba CDIA belum dapat dipastikan karena belum terdapat estimasi spesifik yang diungkapkan.
Keterkaitan CDIA dengan ekosistem industri juga terlihat dari kontribusi transaksi pihak berelasi yang mencapai 22,3% terhadap pendapatan pada semester I 2026. Pada bisnis logistik, Chandra Asri Group menyumbang sekitar 60% kapasitas pengiriman CDIA, dengan kontrak time charter yang umumnya memiliki tenor hingga masa ekonomis kapal.
Dengan demikian, perkembangan bisnis CDIA tidak hanya bergantung pada pertumbuhan masing-masing lini usaha, tetapi juga pada ekspansi ekosistem industri yang menjadi basis permintaannya. Pertumbuhan kawasan industri, peningkatan kebutuhan listrik sektor industri, serta ekspansi fasilitas produksi berpotensi menciptakan tambahan kebutuhan terhadap layanan infrastruktur yang dimiliki CDIA. (end)

