Kembali
NILAI TUKAR RUPIAH MELEMAH TERHADAP DOLAR AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa, bergerak melemah 14 poin atau 0,078 persen menjadi Rp17.994 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.980 per dolar AS.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipicu ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
"Rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan imbal hasil obligasi AS yang terus meningkat,"ucapnya di Jakarta, Selasa.
Mengutip Xinhua, pasar investor menduga adanya peningkatan ekspektasi mengenai pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh Federal Reserve.
Menurut data CME FedWatch, para pelaku pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 70 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin lagi pada pertemuan The Fed tanggal 28 Oktober. Langkah ini menyusul kenaikan suku bunga pertama sejak tahun 2023 yang dilakukan bank sentral tersebut pada 16 September, yang menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75 persen hingga 4 persen.
Lukman menganggap kenaikan ekspektasi ini dipengaruhi sikap Presiden AS Donald Trump yang menolak proposal terbaru Iran yang disampaikan kepada Washington dalam negosiasi tidak langsung di New York pekan ini, sebagaimana laporan Anadolu.
Teheran mengusulkan pembukaan kembali jalur perairan strategis tersebut dan dimulainya kembali pembicaraan nuklir dalam waktu satu minggu, sebagai imbalan atas pencabutan blokade angkatan laut oleh Washington, penghapusan sanksi terhadap penjualan minyak Iran, dan pemulihan gencatan senjata di seluruh kawasan. Namun, AS justru sedang mempertimbangkan serangan baru usai pemilihan umum sela di AS pada bulan November 2026. (end/ant)
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipicu ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
"Rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan imbal hasil obligasi AS yang terus meningkat,"ucapnya di Jakarta, Selasa.
Mengutip Xinhua, pasar investor menduga adanya peningkatan ekspektasi mengenai pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh Federal Reserve.
Menurut data CME FedWatch, para pelaku pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 70 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin lagi pada pertemuan The Fed tanggal 28 Oktober. Langkah ini menyusul kenaikan suku bunga pertama sejak tahun 2023 yang dilakukan bank sentral tersebut pada 16 September, yang menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75 persen hingga 4 persen.
Lukman menganggap kenaikan ekspektasi ini dipengaruhi sikap Presiden AS Donald Trump yang menolak proposal terbaru Iran yang disampaikan kepada Washington dalam negosiasi tidak langsung di New York pekan ini, sebagaimana laporan Anadolu.
Teheran mengusulkan pembukaan kembali jalur perairan strategis tersebut dan dimulainya kembali pembicaraan nuklir dalam waktu satu minggu, sebagai imbalan atas pencabutan blokade angkatan laut oleh Washington, penghapusan sanksi terhadap penjualan minyak Iran, dan pemulihan gencatan senjata di seluruh kawasan. Namun, AS justru sedang mempertimbangkan serangan baru usai pemilihan umum sela di AS pada bulan November 2026. (end/ant)

