Kembali
RESERVE BANK OF AUSTRALIA NAIKKAN BUNGA ACUAN
Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 15 tahun sebesar 4,6 persen pada hari Selasa (29/9) kenaikan keempat tahun ini dengan alasan bahwa inflasi terlalu tinggi dan bank sentral siap untuk kembali menaikkan suku bunga jika diperlukan.
Langkah ini sudah diperkirakan secara luas, sehingga nilai tukar dolar Australia tidak banyak berubah dan bertahan di level US$0,7014 setelah sempat mengalami lonjakan sesaat. Menyusul langkah terbaru ini, pasar kini memperhitungkan adanya peluang sebesar 43 persen untuk kenaikan suku bunga lanjutan pada bulan November.
"Sejak pertemuan bulan Agustus, perkembangan utama bagi RBA adalah data inflasi dan aktivitas ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan; hal ini membuat bank sentral semakin sulit untuk meyakini bahwa inflasi akan kembali ke tingkat target secara bertahap," ujar Adam Bowe, Kepala Manajemen Portofolio Australia di PIMCO.
"Meskipun Bank Sentral tetap membuka peluang untuk pengetatan lebih lanjut, kami memperkirakan bahwa dilema antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi akan menjadi semakin menantang ke depannya."
Dalam penutup rapat kebijakan bulan September, dewan RBA memutuskan secara bulat untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, sehingga total kenaikan suku bunga tahun ini mencapai satu poin persentase penuh.
"Sejak rapat sebelumnya, sejumlah risiko kenaikan inflasi mulai menjadi kenyataan," ungkap dewan tersebut. "Telah terjadi gangguan lebih lanjut pada pasokan minyak global, dan data terkini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi serta inflasi di Australia lebih tinggi daripada perkiraan."
"Dewan akan terus melakukan langkah-langkah yang dianggap perlu untuk mengembalikan inflasi ke tingkat target secara berkelanjutan, termasuk menaikkan kembali target suku bunga acuan jika diperlukan," tambah Dewan tersebut.
Pasar telah sepenuhnya mengantisipasi kenaikan suku bunga mengingat inflasi pada bulan Juli tercatat lebih tinggi dari perkiraan, harga minyak kembali melonjak di tengah minimnya tanda-tanda penyelesaian konflik di Teluk, serta adanya peringatan berulang dari para pembuat kebijakan mengenai potensi risiko inflasi yang mulai nyata.
Harga minyak mentah Brent telah naik hampir 20 persen sejak pertemuan terakhir RBA pada bulan Agustus, yang memicu kekhawatiran akan meluasnya tekanan harga.
Kenaikan biaya bahan bakar diperkirakan telah mendorong kembali inflasi umum ke angka 4,1 persen pada bulan Agustus jauh melampaui kisaran target RBA sebesar 2 hingga 3 persen sementara inflasi inti kemungkinan tetap tinggi di angka 3,6 persen, menurut prakiraan data yang akan dirilis pada hari Rabu.
"Setelah sempat muncul optimisme awal bahwa dampak penyesuaian harga dari perusahaan ke rumah tangga ternyata lebih moderat daripada yang dikhawatirkan, bukti-bukti terkini justru menunjukkan hal sebaliknya, dengan inflasi inti yang bergerak naik," ujar Harry Murphy Cruise, kepala riset ekonomi di Oxford Economics Australia.
"Terdapat pula semakin banyak bukti bahwa suku bunga tidak seefektif yang diperkirakan sebelumnya dalam menekan permintaan."
Lonjakan investasi pusat data, yang menurut estimasi Westpac bernilai hingga A$175 miliar (US$122,8 miliar), turut mendorong permintaan domestik. Deputi Gubernur RBA, Andrew Hauser, baru saja kembali dari Amerika Serikat dengan kekhawatiran lebih besar mengenai inflasi setelah menyaksikan langsung hiruk-pikuk investasi yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI). (end/Reuters)
Langkah ini sudah diperkirakan secara luas, sehingga nilai tukar dolar Australia tidak banyak berubah dan bertahan di level US$0,7014 setelah sempat mengalami lonjakan sesaat. Menyusul langkah terbaru ini, pasar kini memperhitungkan adanya peluang sebesar 43 persen untuk kenaikan suku bunga lanjutan pada bulan November.
"Sejak pertemuan bulan Agustus, perkembangan utama bagi RBA adalah data inflasi dan aktivitas ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan; hal ini membuat bank sentral semakin sulit untuk meyakini bahwa inflasi akan kembali ke tingkat target secara bertahap," ujar Adam Bowe, Kepala Manajemen Portofolio Australia di PIMCO.
"Meskipun Bank Sentral tetap membuka peluang untuk pengetatan lebih lanjut, kami memperkirakan bahwa dilema antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi akan menjadi semakin menantang ke depannya."
Dalam penutup rapat kebijakan bulan September, dewan RBA memutuskan secara bulat untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, sehingga total kenaikan suku bunga tahun ini mencapai satu poin persentase penuh.
"Sejak rapat sebelumnya, sejumlah risiko kenaikan inflasi mulai menjadi kenyataan," ungkap dewan tersebut. "Telah terjadi gangguan lebih lanjut pada pasokan minyak global, dan data terkini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi serta inflasi di Australia lebih tinggi daripada perkiraan."
"Dewan akan terus melakukan langkah-langkah yang dianggap perlu untuk mengembalikan inflasi ke tingkat target secara berkelanjutan, termasuk menaikkan kembali target suku bunga acuan jika diperlukan," tambah Dewan tersebut.
Pasar telah sepenuhnya mengantisipasi kenaikan suku bunga mengingat inflasi pada bulan Juli tercatat lebih tinggi dari perkiraan, harga minyak kembali melonjak di tengah minimnya tanda-tanda penyelesaian konflik di Teluk, serta adanya peringatan berulang dari para pembuat kebijakan mengenai potensi risiko inflasi yang mulai nyata.
Harga minyak mentah Brent telah naik hampir 20 persen sejak pertemuan terakhir RBA pada bulan Agustus, yang memicu kekhawatiran akan meluasnya tekanan harga.
Kenaikan biaya bahan bakar diperkirakan telah mendorong kembali inflasi umum ke angka 4,1 persen pada bulan Agustus jauh melampaui kisaran target RBA sebesar 2 hingga 3 persen sementara inflasi inti kemungkinan tetap tinggi di angka 3,6 persen, menurut prakiraan data yang akan dirilis pada hari Rabu.
"Setelah sempat muncul optimisme awal bahwa dampak penyesuaian harga dari perusahaan ke rumah tangga ternyata lebih moderat daripada yang dikhawatirkan, bukti-bukti terkini justru menunjukkan hal sebaliknya, dengan inflasi inti yang bergerak naik," ujar Harry Murphy Cruise, kepala riset ekonomi di Oxford Economics Australia.
"Terdapat pula semakin banyak bukti bahwa suku bunga tidak seefektif yang diperkirakan sebelumnya dalam menekan permintaan."
Lonjakan investasi pusat data, yang menurut estimasi Westpac bernilai hingga A$175 miliar (US$122,8 miliar), turut mendorong permintaan domestik. Deputi Gubernur RBA, Andrew Hauser, baru saja kembali dari Amerika Serikat dengan kekhawatiran lebih besar mengenai inflasi setelah menyaksikan langsung hiruk-pikuk investasi yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI). (end/Reuters)

