Kembali
NILAI TUKAR RUPIAH MELEMAH TERHADAP DOLAR AS
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi data Automatic Data Processing (ADP) Employment Change AS untuk September 2026 yang meningkat menjadi 90 ribu dari 38 ribu pada bulan sebelumnya.
"Data tersebut menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja AS, sehingga turut mendukung permintaan terhadap dolar AS," ujar dia di Jakarta, Kamis.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, bergerak melemah 41 poin atau 0,229 persen menjadi Rp17.925 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.884 per dolar AS.
Sementara itu, indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed, yaitu Personal Consumption Expenditures (PCE), tercatat lebih rendah dari ekspektasi. PCE Price Index tetap berada di level 3,4 persen year on year (yoy) pada Agustus 2026, di bawah konsensus sebesar 3,7 persen yoy.
Sejalan dengan headline inflation, Core PCE Price Index juga tidak berubah di level 3,0 persen yoy, lebih rendah dari ekspektasi sebesar 3,3 persen yoy.
Melihat sentimen domestik, rupiah disebut memperoleh sentimen positif berkat ketegasan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Pernyataan tersebut memberikan reassurance kepada investor terkait prospek stabilitas rupiah," ujar dia.
Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) juga menjadwalkan rilis data neraca perdagangan Agustus 2026 dan inflasi September 2026.
"Kami memperkirakan surplus neraca perdagangan meningkat dari 0,12 miliar dolar AS pada Juli 2026 menjadi 0,93 miliar dolar AS pada Agustus 2026, didukung oleh kenaikan harga komoditas. Sementara itu, inflasi headline diperkirakan meningkat menjadi 3,35 persen yoy pada September 2026 dari 3,19 persen yoy pada bulan sebelumnya, didorong oleh kenaikan harga volatile dan administered prices," kata Josua. (end/ant)
"Data tersebut menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja AS, sehingga turut mendukung permintaan terhadap dolar AS," ujar dia di Jakarta, Kamis.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, bergerak melemah 41 poin atau 0,229 persen menjadi Rp17.925 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.884 per dolar AS.
Sementara itu, indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed, yaitu Personal Consumption Expenditures (PCE), tercatat lebih rendah dari ekspektasi. PCE Price Index tetap berada di level 3,4 persen year on year (yoy) pada Agustus 2026, di bawah konsensus sebesar 3,7 persen yoy.
Sejalan dengan headline inflation, Core PCE Price Index juga tidak berubah di level 3,0 persen yoy, lebih rendah dari ekspektasi sebesar 3,3 persen yoy.
Melihat sentimen domestik, rupiah disebut memperoleh sentimen positif berkat ketegasan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Pernyataan tersebut memberikan reassurance kepada investor terkait prospek stabilitas rupiah," ujar dia.
Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) juga menjadwalkan rilis data neraca perdagangan Agustus 2026 dan inflasi September 2026.
"Kami memperkirakan surplus neraca perdagangan meningkat dari 0,12 miliar dolar AS pada Juli 2026 menjadi 0,93 miliar dolar AS pada Agustus 2026, didukung oleh kenaikan harga komoditas. Sementara itu, inflasi headline diperkirakan meningkat menjadi 3,35 persen yoy pada September 2026 dari 3,19 persen yoy pada bulan sebelumnya, didorong oleh kenaikan harga volatile dan administered prices," kata Josua. (end/ant)

