Kembali
BEI : TUJUH PERUSAHAAN ANTRE GELAR IPO DI PASAR MODAL INDONESIA
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan terdapat tujuh perusahaan berada dalam pipeline (antrean) melangsungkan Initial Public Offering (IPO) di pasar modal Indonesia hingga periode 2 Oktober 2026.
"Hingga saat ini, terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Dari tujuh perusahaan dalam antrean IPO, Saidu mengungkapkan sebanyak dua perusahaan beraset skala besar di atas Rp250 miliar, tiga perusahaan beraset skala menengah antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar, serta dua perusahaan beraset skala kecil di bawah Rp50 miliar.
Adapun, klasifikasi skala aset perusahaan tersebut merujuk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017.
Dari sisi sektor tujuh perusahaan dalam antrean IPO, Saidu merincikan sebanyak empat perusahaan sektor kesehatan, dua perusahaan sektor energi, dan satu perusahaan sektor industri.
Sepanjang tahun hingga 2 Oktober 2026, BEI melaporkan telah terdapat tujuh perusahaan yang melangsungkan IPO dengan dana dihimpun total senilai Rp2,16 triliun.
Dengan demikian, total perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia tercatat sebanyak 963 perusahaan, dan BEI menargetkan terdapat sebanyak 1.100 perusahaan tercatat pada tahun 2030 mendatang.
Sementara itu, BEI mencatat penerbitan sebanyak 135 emisi dari 62 penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dengan dana yang dihimpun senilai Rp132,98 triliun hingga 2 Oktober 2026.
Sampai periode tersebut, Saidu mengungkapkan terdapat 24 emisi dari 17 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline (antrean) untuk menerbitkan emisi EBUS, yang terdiri dari berbagai sektor.
Sementara itu, untuk aksi rights issue (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu/HMETD), terdapat 15 perusahaan yang telah melangsungkan aksi rights issue dengan total nilai Rp16,23 triliun sampai 2 Oktober 2026.
Dalam antrean right issue, terdapat satu perusahaan yang akan melangsungkan aksi rights issue, yang terdiri dari sektor properti. (end/ant)
"Hingga saat ini, terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Dari tujuh perusahaan dalam antrean IPO, Saidu mengungkapkan sebanyak dua perusahaan beraset skala besar di atas Rp250 miliar, tiga perusahaan beraset skala menengah antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar, serta dua perusahaan beraset skala kecil di bawah Rp50 miliar.
Adapun, klasifikasi skala aset perusahaan tersebut merujuk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017.
Dari sisi sektor tujuh perusahaan dalam antrean IPO, Saidu merincikan sebanyak empat perusahaan sektor kesehatan, dua perusahaan sektor energi, dan satu perusahaan sektor industri.
Sepanjang tahun hingga 2 Oktober 2026, BEI melaporkan telah terdapat tujuh perusahaan yang melangsungkan IPO dengan dana dihimpun total senilai Rp2,16 triliun.
Dengan demikian, total perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia tercatat sebanyak 963 perusahaan, dan BEI menargetkan terdapat sebanyak 1.100 perusahaan tercatat pada tahun 2030 mendatang.
Sementara itu, BEI mencatat penerbitan sebanyak 135 emisi dari 62 penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dengan dana yang dihimpun senilai Rp132,98 triliun hingga 2 Oktober 2026.
Sampai periode tersebut, Saidu mengungkapkan terdapat 24 emisi dari 17 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline (antrean) untuk menerbitkan emisi EBUS, yang terdiri dari berbagai sektor.
Sementara itu, untuk aksi rights issue (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu/HMETD), terdapat 15 perusahaan yang telah melangsungkan aksi rights issue dengan total nilai Rp16,23 triliun sampai 2 Oktober 2026.
Dalam antrean right issue, terdapat satu perusahaan yang akan melangsungkan aksi rights issue, yang terdiri dari sektor properti. (end/ant)

