Kembali
WIKA KEMBALI FOKUS KE BISNIS KONSTRUKSI DAN BIDIK PASAR SWASTA
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) akan kembali memperkuat fokus pada bisnis inti konstruksi setelah melakukan diversifikasi usaha. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang perseroan untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pasar.
Manajemen WIKA mengatakan diversifikasi usaha yang telah dilakukan masih memiliki peluang untuk dikembangkan agar memberikan kontribusi yang lebih optimal. Namun, dalam strategi jangka panjangnya, perseroan akan kembali fokus pada industri konstruksi sebagai bisnis inti.
Untuk mendukung langkah tersebut, WIKA melakukan perbaikan tata kelola, metode kerja, serta harga pokok penjualan (HPP). Perbaikan tersebut ditujukan untuk meningkatkan daya saing perseroan.
Dalam satu tahun terakhir, industri konstruksi menghadapi tantangan seiring kondisi pasar konstruksi. Kendati demikian, WIKA tetap menyasar pasar di luar pemerintah, khususnya sektor swasta.
Perseroan juga membidik proyek yang mendukung program hilirisasi pemerintah, salah satunya proyek smelter. Pengalaman mengerjakan proyek tersebut dinilai dapat menjadi bekal bagi WIKA untuk memperkuat kompetensi di bidang Engineering, Procurement, Construction and Commissioning (EPCC).
Pengalaman tersebut juga diharapkan membuka peluang bagi WIKA untuk menciptakan pasar baru di luar proyek pemerintah, termasuk di sektor swasta maupun BUMN lainnya.
Margin Laba Ditargetkan 8%-10%
Di sisi kinerja, WIKA mengarahkan margin laba dalam RKAP pada kisaran 8% hingga 10%. Manajemen menjelaskan capaian margin laba pada semester I 2026 turut didukung oleh strategi penagihan piutang lama serta penyelesaian sejumlah proyek yang telah berjalan dan mendekati tahap akhir.
Pada semester I 2026, terdapat sejumlah proyek yang dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat sehingga memberikan kontribusi positif terhadap kinerja perseroan.
Manajemen berharap capaian tersebut dapat menjadi salah satu tolok ukur bagi kinerja WIKA ke depan. Namun, target margin laba perseroan dalam RKAP tetap berada pada kisaran 8%-10%.
WIKA Siapkan EBITDA Rp850 Miliar
Sementara itu, WIKA induk memiliki kewajiban utang berbunga yang perlu dikelola untuk mendukung keberlanjutan keuangan perusahaan. Kewajiban tersebut terdiri atas kredit perbankan sebesar Rp17,6 triliun dan obligasi serta sukuk sebesar Rp10,2 triliun.
Untuk mengelola kewajiban tersebut, WIKA tengah menjalankan program restrukturisasi komprehensif guna mencapai kesepakatan dengan perbankan serta pemegang sukuk dan obligasi melalui wali amanat.
Proses restrukturisasi kepada pemegang sukuk dan obligasi dilakukan melalui Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) dan Rapat Umum Pemegang Sukuk (RUPSU).
Selain restrukturisasi, WIKA akan terus meningkatkan operation excellence pada seluruh proyek yang sedang berjalan. Melalui langkah tersebut, perseroan menargetkan kemampuan menghasilkan EBITDA sebesar Rp850 miliar.
EBITDA tersebut diharapkan dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban kepada pemegang obligasi dan sukuk serta mendukung kebutuhan operasional perseroan.
Manajemen meyakini strategi tersebut dapat mendukung kemampuan WIKA dalam menyelesaikan kewajiban jangka panjang. Komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan juga terus dilakukan secara intensif. (end)
Manajemen WIKA mengatakan diversifikasi usaha yang telah dilakukan masih memiliki peluang untuk dikembangkan agar memberikan kontribusi yang lebih optimal. Namun, dalam strategi jangka panjangnya, perseroan akan kembali fokus pada industri konstruksi sebagai bisnis inti.
Untuk mendukung langkah tersebut, WIKA melakukan perbaikan tata kelola, metode kerja, serta harga pokok penjualan (HPP). Perbaikan tersebut ditujukan untuk meningkatkan daya saing perseroan.
Dalam satu tahun terakhir, industri konstruksi menghadapi tantangan seiring kondisi pasar konstruksi. Kendati demikian, WIKA tetap menyasar pasar di luar pemerintah, khususnya sektor swasta.
Perseroan juga membidik proyek yang mendukung program hilirisasi pemerintah, salah satunya proyek smelter. Pengalaman mengerjakan proyek tersebut dinilai dapat menjadi bekal bagi WIKA untuk memperkuat kompetensi di bidang Engineering, Procurement, Construction and Commissioning (EPCC).
Pengalaman tersebut juga diharapkan membuka peluang bagi WIKA untuk menciptakan pasar baru di luar proyek pemerintah, termasuk di sektor swasta maupun BUMN lainnya.
Margin Laba Ditargetkan 8%-10%
Di sisi kinerja, WIKA mengarahkan margin laba dalam RKAP pada kisaran 8% hingga 10%. Manajemen menjelaskan capaian margin laba pada semester I 2026 turut didukung oleh strategi penagihan piutang lama serta penyelesaian sejumlah proyek yang telah berjalan dan mendekati tahap akhir.
Pada semester I 2026, terdapat sejumlah proyek yang dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat sehingga memberikan kontribusi positif terhadap kinerja perseroan.
Manajemen berharap capaian tersebut dapat menjadi salah satu tolok ukur bagi kinerja WIKA ke depan. Namun, target margin laba perseroan dalam RKAP tetap berada pada kisaran 8%-10%.
WIKA Siapkan EBITDA Rp850 Miliar
Sementara itu, WIKA induk memiliki kewajiban utang berbunga yang perlu dikelola untuk mendukung keberlanjutan keuangan perusahaan. Kewajiban tersebut terdiri atas kredit perbankan sebesar Rp17,6 triliun dan obligasi serta sukuk sebesar Rp10,2 triliun.
Untuk mengelola kewajiban tersebut, WIKA tengah menjalankan program restrukturisasi komprehensif guna mencapai kesepakatan dengan perbankan serta pemegang sukuk dan obligasi melalui wali amanat.
Proses restrukturisasi kepada pemegang sukuk dan obligasi dilakukan melalui Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) dan Rapat Umum Pemegang Sukuk (RUPSU).
Selain restrukturisasi, WIKA akan terus meningkatkan operation excellence pada seluruh proyek yang sedang berjalan. Melalui langkah tersebut, perseroan menargetkan kemampuan menghasilkan EBITDA sebesar Rp850 miliar.
EBITDA tersebut diharapkan dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban kepada pemegang obligasi dan sukuk serta mendukung kebutuhan operasional perseroan.
Manajemen meyakini strategi tersebut dapat mendukung kemampuan WIKA dalam menyelesaikan kewajiban jangka panjang. Komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan juga terus dilakukan secara intensif. (end)

