Kembali
MENKO ZULHAS SEBUT AKAN TAMBAH KEBUN TEBU UNTUK PROGRAM E20
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan akan menambah kebun tebu untuk memenuhi kebutuhan program bahan bakar nabati (BBN) bioetanol E20 tanpa mengganggu ketahanan pangan, dalam hal ini gula.
"Ya, kebunnya ditambah," ujar Zulhas ketika dijumpai di sela-sela acara Indonesia International Sustainability Forum yang digelar di Jakarta, Selasa.
Zulhas menjelaskan bahwa bahan baku untuk E20 tak hanya berasal dari tebu. Pemerintah juga bisa memanfaatkan bahan baku lainnya, seperti singkong.
Akan tetapi, untuk saat ini, apabila pasokan bahan baku E20 mengandalkan tebu, maka Zulhas kembali menegaskan bahwa pasokannya belum cukup.
"E20 itu kan antara lain bisa dari tebu, bisa dari singkong, bisa dengan yang lain. Ya, kalau sekarang kan kurang? Nah, kalau kita mau tebu, ya harus buka kebun baru," ujar Zulhas.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan Indonesia tidak perlu mengimpor produk bahan bakar minyak (BBM) jika menerapkan bioetanol 50 (E50).
Meskipun demikian, Bahlil menyampaikan pemerintah tidak ingin kebutuhan etanol dalam program E50 mengandalkan impor dari negara lain.
Keharusan impor etanol untuk memenuhi kebutuhan E50, menurut Bahlil, sama saja dengan bergantung kepada negara lain.
"Kami tidak mau menerapkan E10, E20, atau E50 tetapi etanolnya diimpor dari luar. Sama saja itu. Kami ingin untuk memanfaatkan produksi kita dalam negeri," ucap dia. (end/ant)
"Ya, kebunnya ditambah," ujar Zulhas ketika dijumpai di sela-sela acara Indonesia International Sustainability Forum yang digelar di Jakarta, Selasa.
Zulhas menjelaskan bahwa bahan baku untuk E20 tak hanya berasal dari tebu. Pemerintah juga bisa memanfaatkan bahan baku lainnya, seperti singkong.
Akan tetapi, untuk saat ini, apabila pasokan bahan baku E20 mengandalkan tebu, maka Zulhas kembali menegaskan bahwa pasokannya belum cukup.
"E20 itu kan antara lain bisa dari tebu, bisa dari singkong, bisa dengan yang lain. Ya, kalau sekarang kan kurang? Nah, kalau kita mau tebu, ya harus buka kebun baru," ujar Zulhas.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan Indonesia tidak perlu mengimpor produk bahan bakar minyak (BBM) jika menerapkan bioetanol 50 (E50).
Meskipun demikian, Bahlil menyampaikan pemerintah tidak ingin kebutuhan etanol dalam program E50 mengandalkan impor dari negara lain.
Keharusan impor etanol untuk memenuhi kebutuhan E50, menurut Bahlil, sama saja dengan bergantung kepada negara lain.
"Kami tidak mau menerapkan E10, E20, atau E50 tetapi etanolnya diimpor dari luar. Sama saja itu. Kami ingin untuk memanfaatkan produksi kita dalam negeri," ucap dia. (end/ant)

