Kembali
KORSEL LUNCURKAN RENCANA TRANSISI ENERGI SENILAI US$747 MILIAR HINGGA 2035
Pemerintah Korea Selatan pada hari Rabu (7 Oktober) meluncurkan strategi transisi energi dan dekarbonisasi senilai 1.000 triliun won (US$747 miliar) yang berlaku hingga tahun 2035, dengan tujuan memperluas penggunaan energi terbarukan, mentransformasi industri berat, dan menciptakan penggerak pertumbuhan baru.
Rencana K-GX, atau *Korea-Green Transformation* (Transformasi Hijau Korea), mencakup belanja fiskal sebesar 200 triliun won, pendanaan iklim lebih dari 790 triliun won, serta investasi sektor swasta terpisah sebesar 220 triliun won; demikian disampaikan oleh Menteri Keuangan Lee Hyoung-il dalam sebuah presentasi yang dihadiri oleh para pejabat senior dan pemimpin bisnis.
Presiden Lee Jae Myung menyerukan agar Korea Selatan memanfaatkan keunggulan inovasinya untuk memosisikan diri di garis depan ekonomi hijau global.
"Kita harus beralih dari kebiasaan mengejar pihak lain dan menjadi perancang serta pemimpin pasar hijau itu sendiri," ujar Lee.
Menurut sebuah pernyataan, pemerintah menargetkan kapasitas energi terbarukan sebesar 100 gigawatt pada tahun 2030 dan berencana memberikan dukungan bagi berbagai industri, termasuk baja hijau, baterai, tenaga surya, energi angin, hidrogen, serta reaktor modular kecil.
Pemerintah juga menargetkan kendaraan listrik dan kendaraan berbahan bakar hidrogen mencakup lebih dari 70 persen penjualan kendaraan baru pada tahun 2035, sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk melakukan elektrifikasi transportasi dan mengurangi emisi.
Strategi ini bertujuan untuk mempercepat dekarbonisasi di lima industri penghasil emisi tertinggi di Korea Selatan yaitu baja, petrokimia, penyulingan, semen, serta semikonduktor dan layar sembari mengembangkan 10 industri hijau, termasuk kendaraan listrik, semikonduktor daya, dan teknologi penangkapan karbon.
Pemerintah menyatakan ambisinya untuk memimpin pasar baja hijau global dengan menjadi negara pertama yang memproduksi baja hasil reduksi hidrogen secara massal, sekaligus mendukung industri generasi mendatang seperti baterai canggih dan reaktor modular kecil (SMR).
Selain itu, strategi ini juga menargetkan komersialisasi sel surya tandem pada tahun 2028 serta pembangunan rantai pasok dalam negeri untuk teknologi energi bersih yang krusial. (end/Reuters)
Rencana K-GX, atau *Korea-Green Transformation* (Transformasi Hijau Korea), mencakup belanja fiskal sebesar 200 triliun won, pendanaan iklim lebih dari 790 triliun won, serta investasi sektor swasta terpisah sebesar 220 triliun won; demikian disampaikan oleh Menteri Keuangan Lee Hyoung-il dalam sebuah presentasi yang dihadiri oleh para pejabat senior dan pemimpin bisnis.
Presiden Lee Jae Myung menyerukan agar Korea Selatan memanfaatkan keunggulan inovasinya untuk memosisikan diri di garis depan ekonomi hijau global.
"Kita harus beralih dari kebiasaan mengejar pihak lain dan menjadi perancang serta pemimpin pasar hijau itu sendiri," ujar Lee.
Menurut sebuah pernyataan, pemerintah menargetkan kapasitas energi terbarukan sebesar 100 gigawatt pada tahun 2030 dan berencana memberikan dukungan bagi berbagai industri, termasuk baja hijau, baterai, tenaga surya, energi angin, hidrogen, serta reaktor modular kecil.
Pemerintah juga menargetkan kendaraan listrik dan kendaraan berbahan bakar hidrogen mencakup lebih dari 70 persen penjualan kendaraan baru pada tahun 2035, sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk melakukan elektrifikasi transportasi dan mengurangi emisi.
Strategi ini bertujuan untuk mempercepat dekarbonisasi di lima industri penghasil emisi tertinggi di Korea Selatan yaitu baja, petrokimia, penyulingan, semen, serta semikonduktor dan layar sembari mengembangkan 10 industri hijau, termasuk kendaraan listrik, semikonduktor daya, dan teknologi penangkapan karbon.
Pemerintah menyatakan ambisinya untuk memimpin pasar baja hijau global dengan menjadi negara pertama yang memproduksi baja hasil reduksi hidrogen secara massal, sekaligus mendukung industri generasi mendatang seperti baterai canggih dan reaktor modular kecil (SMR).
Selain itu, strategi ini juga menargetkan komersialisasi sel surya tandem pada tahun 2028 serta pembangunan rantai pasok dalam negeri untuk teknologi energi bersih yang krusial. (end/Reuters)

