Kembali
VIETNAM RAIH PERINGKAT LAYAK INVESTASI PERTAMANYA
Peringkat kredit negara (sovereign rating) tingkat layak investasi (*investment-grade*) yang pertama bagi Vietnam dari lembaga pemeringkat kredit Jepang dapat membuka jalan baru untuk mendanai rencana ambisius negara tersebut dalam mencapai pertumbuhan ekonomi dua digit.
Namun, para analis berpendapat bahwa manfaatnya mungkin terbatas sampai lembaga pemeringkat global utama lainnya turut memberikan peringkat serupa.
Pada hari Kamis (8 Oktober), Rating and Investment Information (R&I) menaikkan peringkat penerbit dalam mata uang asing Vietnam dari BB+ menjadi BBB- dengan prospek stabil, menjadikannya lembaga pertama yang memberikan peringkat layak investasi bagi negara tersebut.
Keputusan tersebut mencerminkan optimisme terhadap arah perekonomian Vietnam. Lembaga tersebut memperkirakan pertumbuhan yang kuat akan terus berlanjut setelah ekspansi sekitar 9 persen pada sembilan bulan pertama tahun 2026, yang didukung oleh investasi publik, modal asing, dan reformasi struktural termasuk program reformasi generasi kedua pemerintah yang dikenal sebagai "Doi Moi 2.0".
Nguyen Quang Thuan, pimpinan FiinRatings dan FiinGroup yang berbasis di Hanoi, mengatakan bahwa keputusan tersebut sangat signifikan bagi investor institusional Jepang karena R&I diakui oleh Badan Jasa Keuangan Jepang (Financial Services Agency) sebagai lembaga pemeringkat yang ditunjuk.
"Institusi yang aturan investasinya mensyaratkan peringkat 'BBB- atau lebih tinggi dari setidaknya satu lembaga yang ditunjuk' kini dapat memasukkan Vietnam ke dalam portofolio mereka," ujar Thuan dalam pernyataan tertulis.
"Sebaliknya, institusi yang menerapkan aturan 'peringkat terendah' atau 'peringkat terbaik kedua' tetap terkendala oleh peringkat BB+ dari 'Big Three'."
Saat ini, R&I memberikan peringkat negara (*sovereign rating*) yang lebih baik dibandingkan lembaga pemeringkat global lainnya untuk beberapa negara ekonomi di Asia Tenggara. Vietnam masih berada di bawah tingkat layak investasi (*investment grade*) menurut metodologi S&P, Moody's, dan Fitch atau tiga lembaga pemeringkat global utama (Big Three) yang lebih banyak digunakan oleh investor institusional internasional.
Pembedaan ini berarti peningkatan peringkat tersebut dapat membuka sejumlah saluran pendanaan yang sebelumnya terbatas, tanpa serta-merta memicu reklasifikasi menyeluruh atas utang Vietnam dalam portofolio investasi global.
Berdasarkan pendekatan standar Basel III, bobot risiko regulasi untuk obligasi pemerintah Vietnam dalam mata uang asing juga dapat turun dari 100 persen menjadi 50 persen bagi bank-bank yang diizinkan menggunakan peringkat dari R&I, tambah Thuan.
Penurunan tersebut akan mengurangi modal yang diperlukan untuk memegang eksposur tersebut, sehingga berpotensi membuat surat utang negara Vietnam lebih menarik bagi lembaga keuangan yang memenuhi syarat.
Tyler Manh Dung Nguyen, kepala strategi pasar di Ho Chi Minh City Securities Corporation, menulis dalam sebuah catatan pada hari Kamis bahwa peningkatan peringkat ini dapat menguntungkan pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar yang terkait dengan negara termasuk VietinBank, Agribank, dan Vietnam Electricity dengan meningkatkan akses mereka terhadap investor institusional Jepang serta obligasi Samurai dalam denominasi yen.
Peningkatan peringkat ini menyusul langkah terbaru Jepang penyedia bantuan bilateral terbesar bagi Vietnam untuk mendanai pembangunan negara tersebut. Sehari sebelumnya, Japan International Cooperation Agency (JICA) mengumumkan rencana untuk memberikan pinjaman bantuan pembangunan resmi tahunan kepada Vietnam senilai lebih dari 100 miliar yen (US$630 juta).(end/bussinesstimes)
Namun, para analis berpendapat bahwa manfaatnya mungkin terbatas sampai lembaga pemeringkat global utama lainnya turut memberikan peringkat serupa.
Pada hari Kamis (8 Oktober), Rating and Investment Information (R&I) menaikkan peringkat penerbit dalam mata uang asing Vietnam dari BB+ menjadi BBB- dengan prospek stabil, menjadikannya lembaga pertama yang memberikan peringkat layak investasi bagi negara tersebut.
Keputusan tersebut mencerminkan optimisme terhadap arah perekonomian Vietnam. Lembaga tersebut memperkirakan pertumbuhan yang kuat akan terus berlanjut setelah ekspansi sekitar 9 persen pada sembilan bulan pertama tahun 2026, yang didukung oleh investasi publik, modal asing, dan reformasi struktural termasuk program reformasi generasi kedua pemerintah yang dikenal sebagai "Doi Moi 2.0".
Nguyen Quang Thuan, pimpinan FiinRatings dan FiinGroup yang berbasis di Hanoi, mengatakan bahwa keputusan tersebut sangat signifikan bagi investor institusional Jepang karena R&I diakui oleh Badan Jasa Keuangan Jepang (Financial Services Agency) sebagai lembaga pemeringkat yang ditunjuk.
"Institusi yang aturan investasinya mensyaratkan peringkat 'BBB- atau lebih tinggi dari setidaknya satu lembaga yang ditunjuk' kini dapat memasukkan Vietnam ke dalam portofolio mereka," ujar Thuan dalam pernyataan tertulis.
"Sebaliknya, institusi yang menerapkan aturan 'peringkat terendah' atau 'peringkat terbaik kedua' tetap terkendala oleh peringkat BB+ dari 'Big Three'."
Saat ini, R&I memberikan peringkat negara (*sovereign rating*) yang lebih baik dibandingkan lembaga pemeringkat global lainnya untuk beberapa negara ekonomi di Asia Tenggara. Vietnam masih berada di bawah tingkat layak investasi (*investment grade*) menurut metodologi S&P, Moody's, dan Fitch atau tiga lembaga pemeringkat global utama (Big Three) yang lebih banyak digunakan oleh investor institusional internasional.
Pembedaan ini berarti peningkatan peringkat tersebut dapat membuka sejumlah saluran pendanaan yang sebelumnya terbatas, tanpa serta-merta memicu reklasifikasi menyeluruh atas utang Vietnam dalam portofolio investasi global.
Berdasarkan pendekatan standar Basel III, bobot risiko regulasi untuk obligasi pemerintah Vietnam dalam mata uang asing juga dapat turun dari 100 persen menjadi 50 persen bagi bank-bank yang diizinkan menggunakan peringkat dari R&I, tambah Thuan.
Penurunan tersebut akan mengurangi modal yang diperlukan untuk memegang eksposur tersebut, sehingga berpotensi membuat surat utang negara Vietnam lebih menarik bagi lembaga keuangan yang memenuhi syarat.
Tyler Manh Dung Nguyen, kepala strategi pasar di Ho Chi Minh City Securities Corporation, menulis dalam sebuah catatan pada hari Kamis bahwa peningkatan peringkat ini dapat menguntungkan pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar yang terkait dengan negara termasuk VietinBank, Agribank, dan Vietnam Electricity dengan meningkatkan akses mereka terhadap investor institusional Jepang serta obligasi Samurai dalam denominasi yen.
Peningkatan peringkat ini menyusul langkah terbaru Jepang penyedia bantuan bilateral terbesar bagi Vietnam untuk mendanai pembangunan negara tersebut. Sehari sebelumnya, Japan International Cooperation Agency (JICA) mengumumkan rencana untuk memberikan pinjaman bantuan pembangunan resmi tahunan kepada Vietnam senilai lebih dari 100 miliar yen (US$630 juta).(end/bussinesstimes)

