Kembali
PASAR ASIA MENGAWALI PEKAN INI DENGAN HATI-HATI
Pasar saham Asia mengawali perdagangan hari Senin dengan sikap hati-hati karena musim laporan keuangan dipandang sebagai tantangan bagi valuasi sektor teknologi yang sangat tinggi, sementara harga minyak bergerak fluktuatif menyusul serangan terhadap jalur pelayaran dan bandara di kawasan Teluk.
Terdapat kebingungan yang cukup besar terkait pengumuman Presiden Donald Trump mengenai gencatan senjata energi antara Ukraina dan Rusia, hal yang belum dikonfirmasi oleh kedua belah pihak.
Usulan Trump agar Rusia meningkatkan ekspor solar juga menuai kritik dari senator Partai Republik maupun Demokrat karena dinilai berpotensi melanggar hukum.
Kontrak berjangka minyak Brent sempat dibuka lebih tinggi namun kemudian turun 1,1% menjadi $103,50 per barel menjauhi level tertinggi baru-baru ini di angka $109,97 sementara kontrak berjangka minyak mentah AS turun 1,2% menjadi $90,73 per barel.
Saham Korea Selatan turun 1,1%, sedangkan indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang tidak banyak berubah.
Di Wall Street, kontrak berjangka S&P 500 naik tipis 0,2% dan kontrak berjangka Nasdaq menguat 0,5%. Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 menguat 0,4%, sementara kontrak berjangka DAX naik 0,4% dan kontrak berjangka FTSE bertambah 0,3%.
Aktivitas perdagangan terpantau sepi karena pasar Jepang tutup dan AS sedang menjalani hari libur parsial menjelang musim laporan keuangan, yang akan dimulai dengan rilis kinerja bank-bank besar AS pada hari Selasa.
Laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan melonjak lebih dari 30% pada kuartal ketiga menurut data LSEG IBES, meskipun sebagian besar pertumbuhan tersebut berasal dari sektor teknologi.
My Bui, seorang ekonom di AMP, mencatat bahwa seluruh kenaikan pada indeks S&P 500 sejak pertengahan September didorong oleh sektor teknologi, di saat para investor menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk mendanai pinjaman besar-besaran demi pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Indeks credit default swap (CDS) untuk obligasi peringkat layak investasi (investment-grade) ASmyang mengukur biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar juga melonjak tajam ke level tertinggi sejak dimulainya perang Iran.
"Secara keseluruhan, spread yang melebar mengindikasikan bahwa investor mempertanyakan apakah pendapatan dari AI mampu mengimbangi kenaikan biaya pinjaman," tambah Bui. "Penerbitan obligasi korporasi untuk mendanai belanja modal (capex) AI, ditambah dengan melebarnya spread obligasi imbal hasil tinggi (high-yield), akan meningkatkan biaya pembiayaan kembali seiring jatuhnya tempo gelombang utang saat ini dalam beberapa tahun ke depan."
Banjirnya utang korporasi telah menambah tekanan pada pasar obligasi pemerintah, mendorong imbal hasil Treasury ke level tertinggi dalam 24 tahun pada pekan lalu serta meningkatkan tingkat diskonto yang diterapkan pada laba perusahaan.
Pasar menghadapi tantangan baru pekan ini dari data AS mengenai harga konsumen, harga produsen, dan penjualan ritel. Kenaikan biaya energi diperkirakan akan mendongkrak CPI sebesar 0,6% menjadi 3,7% secara tahunan, meskipun inflasi inti diperkirakan lebih rendah, yakni masing-masing sebesar 0,2%. (end/Reuters)
Terdapat kebingungan yang cukup besar terkait pengumuman Presiden Donald Trump mengenai gencatan senjata energi antara Ukraina dan Rusia, hal yang belum dikonfirmasi oleh kedua belah pihak.
Usulan Trump agar Rusia meningkatkan ekspor solar juga menuai kritik dari senator Partai Republik maupun Demokrat karena dinilai berpotensi melanggar hukum.
Kontrak berjangka minyak Brent sempat dibuka lebih tinggi namun kemudian turun 1,1% menjadi $103,50 per barel menjauhi level tertinggi baru-baru ini di angka $109,97 sementara kontrak berjangka minyak mentah AS turun 1,2% menjadi $90,73 per barel.
Saham Korea Selatan turun 1,1%, sedangkan indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang tidak banyak berubah.
Di Wall Street, kontrak berjangka S&P 500 naik tipis 0,2% dan kontrak berjangka Nasdaq menguat 0,5%. Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 menguat 0,4%, sementara kontrak berjangka DAX naik 0,4% dan kontrak berjangka FTSE bertambah 0,3%.
Aktivitas perdagangan terpantau sepi karena pasar Jepang tutup dan AS sedang menjalani hari libur parsial menjelang musim laporan keuangan, yang akan dimulai dengan rilis kinerja bank-bank besar AS pada hari Selasa.
Laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan melonjak lebih dari 30% pada kuartal ketiga menurut data LSEG IBES, meskipun sebagian besar pertumbuhan tersebut berasal dari sektor teknologi.
My Bui, seorang ekonom di AMP, mencatat bahwa seluruh kenaikan pada indeks S&P 500 sejak pertengahan September didorong oleh sektor teknologi, di saat para investor menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk mendanai pinjaman besar-besaran demi pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Indeks credit default swap (CDS) untuk obligasi peringkat layak investasi (investment-grade) ASmyang mengukur biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar juga melonjak tajam ke level tertinggi sejak dimulainya perang Iran.
"Secara keseluruhan, spread yang melebar mengindikasikan bahwa investor mempertanyakan apakah pendapatan dari AI mampu mengimbangi kenaikan biaya pinjaman," tambah Bui. "Penerbitan obligasi korporasi untuk mendanai belanja modal (capex) AI, ditambah dengan melebarnya spread obligasi imbal hasil tinggi (high-yield), akan meningkatkan biaya pembiayaan kembali seiring jatuhnya tempo gelombang utang saat ini dalam beberapa tahun ke depan."
Banjirnya utang korporasi telah menambah tekanan pada pasar obligasi pemerintah, mendorong imbal hasil Treasury ke level tertinggi dalam 24 tahun pada pekan lalu serta meningkatkan tingkat diskonto yang diterapkan pada laba perusahaan.
Pasar menghadapi tantangan baru pekan ini dari data AS mengenai harga konsumen, harga produsen, dan penjualan ritel. Kenaikan biaya energi diperkirakan akan mendongkrak CPI sebesar 0,6% menjadi 3,7% secara tahunan, meskipun inflasi inti diperkirakan lebih rendah, yakni masing-masing sebesar 0,2%. (end/Reuters)

