Kembali
EKONOM: RANTAI NILAI KENDARAAN LISTRIK DI RI TUNJUKKAN INTEGRASI
Ekonom CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai pengembangan rantai nilai kendaraan listrik di Indonesia mulai menunjukkan integrasi dari aktivitas hulu hingga pengolahan.
"Kalau di upstream kita sudah high maturity (tingkat kematangan tinggi), sementara di midstream dan downstream masih berkembang. Tapi ke depan ini bisa meningkat cepat, dan dampaknya terhadap perekonomian daerah juga akan semakin besar," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Menurut Faisal, transformasi struktur ekonomi dapat terlihat antara lain di Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah, yang dalam satu dekade terakhir mengalami perkembangan aktivitas industri berbasis pengolahan mineral.
Jika dulu Morowali didominasi pertambangan dan pertanian, lanjut dia, sekarang lebih dari 75 persen ekonomi daerah tersebut ditopang sektor industri.
Dia menganggap perubahan struktur ekonomi tersebut menunjukkan bagaimana keberadaan industri pengolahan dapat memperluas aktivitas ekonomi di wilayah yang sebelumnya lebih bertumpu pada sektor primer. Namun, besarnya manfaat hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga oleh kemampuan membangun keterkaitan dengan perekonomian lokal, pengembangan tenaga kerja, serta tata kelola industri yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, sejumlah pelaku industri tercatat terus mengembangkan investasi pengolahan nikel di Sulawesi. Salah satunya PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari Grup MIND ID, yang mengembangkan proyek pertumbuhan di Pomalaa (Kolaka, Sulawesi Tenggara), Morowali, dan Sorowako (Luwu Timur, Sulawesi Selatan) sebagai bagian dari ekspansi rantai nilai nikel. (end/ant)
"Kalau di upstream kita sudah high maturity (tingkat kematangan tinggi), sementara di midstream dan downstream masih berkembang. Tapi ke depan ini bisa meningkat cepat, dan dampaknya terhadap perekonomian daerah juga akan semakin besar," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Menurut Faisal, transformasi struktur ekonomi dapat terlihat antara lain di Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah, yang dalam satu dekade terakhir mengalami perkembangan aktivitas industri berbasis pengolahan mineral.
Jika dulu Morowali didominasi pertambangan dan pertanian, lanjut dia, sekarang lebih dari 75 persen ekonomi daerah tersebut ditopang sektor industri.
Dia menganggap perubahan struktur ekonomi tersebut menunjukkan bagaimana keberadaan industri pengolahan dapat memperluas aktivitas ekonomi di wilayah yang sebelumnya lebih bertumpu pada sektor primer. Namun, besarnya manfaat hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga oleh kemampuan membangun keterkaitan dengan perekonomian lokal, pengembangan tenaga kerja, serta tata kelola industri yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, sejumlah pelaku industri tercatat terus mengembangkan investasi pengolahan nikel di Sulawesi. Salah satunya PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari Grup MIND ID, yang mengembangkan proyek pertumbuhan di Pomalaa (Kolaka, Sulawesi Tenggara), Morowali, dan Sorowako (Luwu Timur, Sulawesi Selatan) sebagai bagian dari ekspansi rantai nilai nikel. (end/ant)

