Kembali
KEMENDES DORONG KOPDES MERAH PUTIH JADI AGREGATOR PRODUK PETANI
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mendorong Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih berperan sebagai agregator yang menghimpun produk petani dan perajin untuk memperkuat akses menuju pasar dan industri.
"Kami berharap nanti koperasi bisa menjadi agregator," kata Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PPDT) Kemendes PDT Samsul Widodo dalam arahan dan sambutannya di Kegiatan Penyerasian Tata Kelola, Media Branding, dan Jejaring Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Lintas Negara seperti diikuti secara daring di Jakarta, Senin.
Dalam menjalankan fungsi agregator itu, menurut Samsul, koperasi membutuhkan dukungan pengelolaan produksi, pemasaran, logistik, dan keuangan. Dengan dukungan tersebut, koperasi diharapkan dapat membantu produsen kecil menjangkau pasar yang sebelumnya sulit mereka akses secara mandiri.
Lebih lanjut, Samsul menjelaskan bahwa petani dan perajin di desa membutuhkan mekanisme yang dapat mengonsolidasikan hasil produksi mereka sebelum dipasarkan kepada pembeli dalam skala yang lebih besar. Menurut dia, koperasi dapat menjalankan fungsi tersebut dengan menghimpun produk dari berbagai produsen, kemudian menghubungkannya dengan industri maupun jaringan pemasaran yang sesuai.
Ia memandang peran itu bernilai penting, mengingat kecenderungan petani di Indonesia memiliki lahan kurang dari setengah hektare. Dengan skala usaha tersebut, Samsul mengaku optimistis pengumpulan hasil produksi dari banyak petani dapat membantu membangun pasokan yang lebih terorganisasi.
Berikutnya, Samsul juga mendorong pembukaan peluang kerja sama antarkoperasi, termasuk dengan koperasi di negara lain seperti Malaysia demi memperluas perdagangan produk yang dimiliki masing-masing wilayah. (end/ant)
"Kami berharap nanti koperasi bisa menjadi agregator," kata Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PPDT) Kemendes PDT Samsul Widodo dalam arahan dan sambutannya di Kegiatan Penyerasian Tata Kelola, Media Branding, dan Jejaring Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Lintas Negara seperti diikuti secara daring di Jakarta, Senin.
Dalam menjalankan fungsi agregator itu, menurut Samsul, koperasi membutuhkan dukungan pengelolaan produksi, pemasaran, logistik, dan keuangan. Dengan dukungan tersebut, koperasi diharapkan dapat membantu produsen kecil menjangkau pasar yang sebelumnya sulit mereka akses secara mandiri.
Lebih lanjut, Samsul menjelaskan bahwa petani dan perajin di desa membutuhkan mekanisme yang dapat mengonsolidasikan hasil produksi mereka sebelum dipasarkan kepada pembeli dalam skala yang lebih besar. Menurut dia, koperasi dapat menjalankan fungsi tersebut dengan menghimpun produk dari berbagai produsen, kemudian menghubungkannya dengan industri maupun jaringan pemasaran yang sesuai.
Ia memandang peran itu bernilai penting, mengingat kecenderungan petani di Indonesia memiliki lahan kurang dari setengah hektare. Dengan skala usaha tersebut, Samsul mengaku optimistis pengumpulan hasil produksi dari banyak petani dapat membantu membangun pasokan yang lebih terorganisasi.
Berikutnya, Samsul juga mendorong pembukaan peluang kerja sama antarkoperasi, termasuk dengan koperasi di negara lain seperti Malaysia demi memperluas perdagangan produk yang dimiliki masing-masing wilayah. (end/ant)

