Kembali
PASAR SAHAM ASIA TURUN SELASA PAGI
Saham-saham Asia turun, mengekor pelemahan di Wall Street akibat sentimen negatif terhadap kinerja perusahaan pembuat cip AS menjelang dimulainya musim laporan keuangan.
Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,3 persen, dengan saham-saham di Korea Selatan merosot lebih dari 3 persen. Penurunan ini terjadi setelah indeks acuan perusahaan pembuat cip AS turun 2,7 persen pada hari Senin (12 Oktober), sementara indeks Nasdaq 100 melemah 0,7 persen.
Di antara pergerakan pasar utama, kontrak berjangka S&P 500 tidak banyak berubah pada pukul 09.02 waktu Tokyo. Kontrak berjangka Hang Seng juga relatif stabil, indeks Topix Jepang naik 0,1 persen, dan indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,3 persen.
Saham SK Hynix turun hampir 4 persen pada awal perdagangan di Asia setelah pesaingnya asal Tiongkok, CXMT, menyatakan telah mencapai kemajuan dalam pengembangan desain cip memori yang mampu menyimpan lebih banyak data.
Saham Sandisk turun 6 persen dan Micron Technology melemah 3,9 persen. Sementara itu, saham Meta Platforms naik lebih dari 3 persen melawan tren penurunan indeks Nasdaq setelah perusahaan tersebut memperkenalkan model AI Muse Wonder.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent turun 0,6 persen menjadi sekitar US$106 per barel. Indikator Bloomberg yang mengukur kekuatan dolar AS secara umum mempertahankan kenaikan dari sesi sebelumnya, saat mata uang tersebut sempat mencapai level tertinggi sejak pertengahan Mei 2025.
Antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI) mereda seiring investor menimbang prospek belanja modal di tengah meningkatnya biaya pinjaman. Dengan posisi Indeks S&P 500 yang berada hampir 120 persen di atas level terendah tahun 2022, keberlanjutan tren pasar *bullish* yang telah berlangsung selama empat tahun ini kian bergantung pada kemampuan laba perusahaan untuk mengimbangi valuasi yang tinggi.
"Tekanan jual pada saham-saham terkait AI masih menjadi ciri utama pasar saat ini," tulis Chris Weston, kepala riset di Pepperstone. "Saham-saham semikonduktor telah menembus ke bawah kisaran perdagangan terkini."
Peringatan terkait tren investasi AI pun kian bermunculan, dengan CEO Broadcom, Hock Tan, menjadi sosok terbaru yang menyuarakan kekhawatiran tersebut. (end/Bloomberg)
Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,3 persen, dengan saham-saham di Korea Selatan merosot lebih dari 3 persen. Penurunan ini terjadi setelah indeks acuan perusahaan pembuat cip AS turun 2,7 persen pada hari Senin (12 Oktober), sementara indeks Nasdaq 100 melemah 0,7 persen.
Di antara pergerakan pasar utama, kontrak berjangka S&P 500 tidak banyak berubah pada pukul 09.02 waktu Tokyo. Kontrak berjangka Hang Seng juga relatif stabil, indeks Topix Jepang naik 0,1 persen, dan indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,3 persen.
Saham SK Hynix turun hampir 4 persen pada awal perdagangan di Asia setelah pesaingnya asal Tiongkok, CXMT, menyatakan telah mencapai kemajuan dalam pengembangan desain cip memori yang mampu menyimpan lebih banyak data.
Saham Sandisk turun 6 persen dan Micron Technology melemah 3,9 persen. Sementara itu, saham Meta Platforms naik lebih dari 3 persen melawan tren penurunan indeks Nasdaq setelah perusahaan tersebut memperkenalkan model AI Muse Wonder.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent turun 0,6 persen menjadi sekitar US$106 per barel. Indikator Bloomberg yang mengukur kekuatan dolar AS secara umum mempertahankan kenaikan dari sesi sebelumnya, saat mata uang tersebut sempat mencapai level tertinggi sejak pertengahan Mei 2025.
Antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI) mereda seiring investor menimbang prospek belanja modal di tengah meningkatnya biaya pinjaman. Dengan posisi Indeks S&P 500 yang berada hampir 120 persen di atas level terendah tahun 2022, keberlanjutan tren pasar *bullish* yang telah berlangsung selama empat tahun ini kian bergantung pada kemampuan laba perusahaan untuk mengimbangi valuasi yang tinggi.
"Tekanan jual pada saham-saham terkait AI masih menjadi ciri utama pasar saat ini," tulis Chris Weston, kepala riset di Pepperstone. "Saham-saham semikonduktor telah menembus ke bawah kisaran perdagangan terkini."
Peringatan terkait tren investasi AI pun kian bermunculan, dengan CEO Broadcom, Hock Tan, menjadi sosok terbaru yang menyuarakan kekhawatiran tersebut. (end/Bloomberg)

