Kembali
VISA DAPAT PERSETUJUAN BISNIS PEMBAYARAN DOMESTIK DI TIONGKOK
Visa telah menerima persetujuan untuk memulai persiapan pendirian bisnis kliring kartu bank domestik di Tiongkok, langkah yang mengikuti jejak para pesaingnya, Mastercard dan American Express, dalam melayani pasar pembayaran yang sangat besar di negara tersebut.
"Kami sangat menghargai peran penting para pemimpin Amerika Serikat dan Tiongkok dalam mengupayakan hubungan yang konstruktif dan stabil secara strategis antara kedua ekonomi terbesar di dunia ini," ujar CEO Visa, Ryan McInerney, dalam sebuah pernyataan.
Unit perusahaan tersebut di Beijing telah mendapatkan lampu hijau dari People's Bank of China (Bank Sentral Tiongkok), sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita resmi Xinhua pada hari Selasa. Xinhua menambahkan bahwa perusahaan harus menyelesaikan tahap persiapan dalam waktu satu tahun sebelum mengajukan izin untuk memulai operasi dan memperoleh lisensi bisnis kliring.
Keberhasilan Visa melewati hambatan regulasi memungkinkannya beroperasi di pasar pembayaran Tiongkok yang bernilai US$144 triliun, sekaligus menandai akhir dari upaya yang telah ditempuhnya selama bertahun-tahun.
Menurut laporan media setempat, Visa mengajukan permohonan izin tersebut pada tahun 2017. Pesaingnya, Mastercard, memperoleh persetujuan untuk mendirikan bisnis kliring kartu bank pada tahun 2020, sementara usaha patungan Amex di negara tersebut mendapatkan izin untuk memulai layanan kliring kartu bank beberapa bulan kemudian.
Selama bertahun-tahun, perebutan akses ke pasar kliring domestik Tiongkok daratan yang sangat besar menjadi salah satu titik gesekan utama dalam sengketa perdagangan yang lebih luas antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.
Awal tahun ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia telah membahas permintaan Visa untuk mendapatkan akses ke pasar Tiongkok daratan dalam pertemuan dengan Xi Jinping di Beijing. CEO Visa, McInerney, turut mendampingi Trump dalam kunjungan ke Tiongkok pada bulan Mei tersebut.
Xi kemudian bertemu dengan mitranya di Washington pada akhir September, di mana keduanya menyepakati perpanjangan gencatan senjata perdagangan. Keduanya dijadwalkan untuk kembali bertemu secara langsung di sela-sela Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC di Shenzhen pada bulan November.
Tiongkok pertama kali memberikan sinyal pembukaan sektor ini pada bulan Juni 2015, dengan mengumumkan bahwa penyedia layanan kliring kartu bank asing dapat mengajukan permohonan izin melalui pendirian unit lokal atau lewat akuisisi. Langkah tersebut dirancang untuk mengakhiri monopoli yang telah lama dipegang oleh perusahaan milik negara, China UnionPay.
Meskipun persetujuan ini menandai tonggak pencapaian yang penting, Visa memasuki pasar yang kondisinya sangat berbeda dibandingkan saat perusahaan pertama kali berupaya memasukinya. Ekosistem pembayaran di Tiongkok kini didominasi oleh platform seluler domestik, Alipay dan WeChat Pay, yang sebagian besar telah melangkahi jaringan kartu konvensional dan menjadi saluran utama untuk transaksi sehari-hari.
Menurut People's Bank of China, terdapat 10,2 miliar kartu bank yang beredar di Tiongkok pada akhir tahun 2025, dengan total nilai transaksi mencapai 963,6 triliun yuan (US$144 triliun) pada tahun lalu. (end/Bloomberg)
"Kami sangat menghargai peran penting para pemimpin Amerika Serikat dan Tiongkok dalam mengupayakan hubungan yang konstruktif dan stabil secara strategis antara kedua ekonomi terbesar di dunia ini," ujar CEO Visa, Ryan McInerney, dalam sebuah pernyataan.
Unit perusahaan tersebut di Beijing telah mendapatkan lampu hijau dari People's Bank of China (Bank Sentral Tiongkok), sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita resmi Xinhua pada hari Selasa. Xinhua menambahkan bahwa perusahaan harus menyelesaikan tahap persiapan dalam waktu satu tahun sebelum mengajukan izin untuk memulai operasi dan memperoleh lisensi bisnis kliring.
Keberhasilan Visa melewati hambatan regulasi memungkinkannya beroperasi di pasar pembayaran Tiongkok yang bernilai US$144 triliun, sekaligus menandai akhir dari upaya yang telah ditempuhnya selama bertahun-tahun.
Menurut laporan media setempat, Visa mengajukan permohonan izin tersebut pada tahun 2017. Pesaingnya, Mastercard, memperoleh persetujuan untuk mendirikan bisnis kliring kartu bank pada tahun 2020, sementara usaha patungan Amex di negara tersebut mendapatkan izin untuk memulai layanan kliring kartu bank beberapa bulan kemudian.
Selama bertahun-tahun, perebutan akses ke pasar kliring domestik Tiongkok daratan yang sangat besar menjadi salah satu titik gesekan utama dalam sengketa perdagangan yang lebih luas antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.
Awal tahun ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia telah membahas permintaan Visa untuk mendapatkan akses ke pasar Tiongkok daratan dalam pertemuan dengan Xi Jinping di Beijing. CEO Visa, McInerney, turut mendampingi Trump dalam kunjungan ke Tiongkok pada bulan Mei tersebut.
Xi kemudian bertemu dengan mitranya di Washington pada akhir September, di mana keduanya menyepakati perpanjangan gencatan senjata perdagangan. Keduanya dijadwalkan untuk kembali bertemu secara langsung di sela-sela Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC di Shenzhen pada bulan November.
Tiongkok pertama kali memberikan sinyal pembukaan sektor ini pada bulan Juni 2015, dengan mengumumkan bahwa penyedia layanan kliring kartu bank asing dapat mengajukan permohonan izin melalui pendirian unit lokal atau lewat akuisisi. Langkah tersebut dirancang untuk mengakhiri monopoli yang telah lama dipegang oleh perusahaan milik negara, China UnionPay.
Meskipun persetujuan ini menandai tonggak pencapaian yang penting, Visa memasuki pasar yang kondisinya sangat berbeda dibandingkan saat perusahaan pertama kali berupaya memasukinya. Ekosistem pembayaran di Tiongkok kini didominasi oleh platform seluler domestik, Alipay dan WeChat Pay, yang sebagian besar telah melangkahi jaringan kartu konvensional dan menjadi saluran utama untuk transaksi sehari-hari.
Menurut People's Bank of China, terdapat 10,2 miliar kartu bank yang beredar di Tiongkok pada akhir tahun 2025, dengan total nilai transaksi mencapai 963,6 triliun yuan (US$144 triliun) pada tahun lalu. (end/Bloomberg)

