Kembali
WAMENKEU UNGKAP ALASAN RI PERLU KEJAR PERTUMBUHAN EKONOMI 8 PERSEN
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengungkapkan alasan pentingnya Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, yakni agar Indonesia bisa memanfaatkan momentum bonus demografi saat ini.
Juda mengatakan, Indonesia memiliki waktu sekitar 10-15 tahun untuk mengoptimalkan bonus demografi melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja, penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta penciptaan lapangan kerja.
"Indonesia sedang menghadapi peluang demografi yang tidak akan terulang atau tidak akan terbuka selamanya. Dalam sekitar 10-15 tahun ke depan, Indonesia masih memiliki peluang memanfaatkan bonus demografi dengan angkatan kerja besar, generasi muda yang semakin terhubung dengan teknologi serta pasar domestik yang luas," kata Juda dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa.
Meski demikian, kata Juda, besarnya jumlah penduduk usia produktif tidak berarti menjadi keuntungan ekonomi jika tidak diimbangi dengan ketrampilan dan kesempatan kerja yang memadai.
Namun jika penciptaan pekerjaan tertinggal, keterampilan tidak sesuai dengan kebutuhan, produktivitas jalan lambat, maka kesempatan golden period itu akan terlewatkan.
"Kita tidak boleh menjadi negara yang menua sebelum menjadi negara yang kaya," ujarnya.
Juda menjelaskan rasio ketergantungan (dependency ratio) dalam konteks demografi Indonesia. Rasio diperkirakan meningkat dari 46,5 pada 2025 menjadi 46,8 pada 2030 dan terus naik ke 59,7 pada 2045.
Peningkatan rasio itu menunjukkan bertambahnya jumlah penduduk usia nonproduktif dibandingkan penduduk usia produktif. Maka kondisi ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk memaksimalkan momentum demografi sebelum memasuki fase penuaan penduduk.
Maka dari itu, Juda menilai Indonesia memiliki waktu terbatas untuk memanfaatkan besarnya penduduk usia produktif sebelum populasi menua dan rasio ketergantungan meningkat. Jadi mumpung ada bonus demografi, target utamanya pertumbuhan ekonomi 8 persen
"Kalau sense of urgency 8 persen tidak kita lakukan secara bersama baik negara maupun swasta, maka kesempatan ini akan hilang," kata Juda.
Selain memanfaatkan bonus demografi, Juda menyampaikan Indonesia juga perlu keluar dari ketergantungan pada aktivitas ekonomi bernilai tambah rendah.
Sebab menurut dia, Indonesia perlu mengembangkan industri yang lebih kompleks, mendorong inovasi, serta meningkatkan keterkaitan antara pendidikan, riset, teknologi, dan produksi.
Indonesia juga perlu beralih dari sekadar mengandalkan sumber daya alam (SDA) menjadi mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi.
"Kita harus bergerak dari sekadar memiliki sumber daya alam menjadi menguasai kemampuan mengolahnya. Dari memproduksi barang menjadi merancang dan mengembangkan produk bernilai tambah tinggi. Dari sekedar menjadi pasar bagi produk-produk global menjadi bagian penting dari rantai nilai global," kata Juda. (end/ant)
Juda mengatakan, Indonesia memiliki waktu sekitar 10-15 tahun untuk mengoptimalkan bonus demografi melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja, penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta penciptaan lapangan kerja.
"Indonesia sedang menghadapi peluang demografi yang tidak akan terulang atau tidak akan terbuka selamanya. Dalam sekitar 10-15 tahun ke depan, Indonesia masih memiliki peluang memanfaatkan bonus demografi dengan angkatan kerja besar, generasi muda yang semakin terhubung dengan teknologi serta pasar domestik yang luas," kata Juda dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa.
Meski demikian, kata Juda, besarnya jumlah penduduk usia produktif tidak berarti menjadi keuntungan ekonomi jika tidak diimbangi dengan ketrampilan dan kesempatan kerja yang memadai.
Namun jika penciptaan pekerjaan tertinggal, keterampilan tidak sesuai dengan kebutuhan, produktivitas jalan lambat, maka kesempatan golden period itu akan terlewatkan.
"Kita tidak boleh menjadi negara yang menua sebelum menjadi negara yang kaya," ujarnya.
Juda menjelaskan rasio ketergantungan (dependency ratio) dalam konteks demografi Indonesia. Rasio diperkirakan meningkat dari 46,5 pada 2025 menjadi 46,8 pada 2030 dan terus naik ke 59,7 pada 2045.
Peningkatan rasio itu menunjukkan bertambahnya jumlah penduduk usia nonproduktif dibandingkan penduduk usia produktif. Maka kondisi ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk memaksimalkan momentum demografi sebelum memasuki fase penuaan penduduk.
Maka dari itu, Juda menilai Indonesia memiliki waktu terbatas untuk memanfaatkan besarnya penduduk usia produktif sebelum populasi menua dan rasio ketergantungan meningkat. Jadi mumpung ada bonus demografi, target utamanya pertumbuhan ekonomi 8 persen
"Kalau sense of urgency 8 persen tidak kita lakukan secara bersama baik negara maupun swasta, maka kesempatan ini akan hilang," kata Juda.
Selain memanfaatkan bonus demografi, Juda menyampaikan Indonesia juga perlu keluar dari ketergantungan pada aktivitas ekonomi bernilai tambah rendah.
Sebab menurut dia, Indonesia perlu mengembangkan industri yang lebih kompleks, mendorong inovasi, serta meningkatkan keterkaitan antara pendidikan, riset, teknologi, dan produksi.
Indonesia juga perlu beralih dari sekadar mengandalkan sumber daya alam (SDA) menjadi mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi.
"Kita harus bergerak dari sekadar memiliki sumber daya alam menjadi menguasai kemampuan mengolahnya. Dari memproduksi barang menjadi merancang dan mengembangkan produk bernilai tambah tinggi. Dari sekedar menjadi pasar bagi produk-produk global menjadi bagian penting dari rantai nilai global," kata Juda. (end/ant)

