Kembali
SURPLUS PERDAGANGAN TIONKOK CAPAI US$938 MILIAR DALAM SEMBILAN BULAN 2026
Surplus perdagangan Tiongkok melonjak hingga mencapai US$938 miliar dalam sembilan bulan pertama tahun ini, menempatkannya di jalur yang tepat untuk melampaui rekor tahun 2025 seiring dengan pertumbuhan ekspor yang melaju lebih cepat dari perkiraan pada bulan September.
Ekspor melonjak 36 persen pada bulan September dibandingkan tahun sebelumnya laju tercepat sejak Februari setelah mencatat kenaikan 25 persen pada bulan Agustus. Sementara itu, impor meningkat 31 persen, menurut data yang dirilis oleh Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok pada hari Rabu (14 Oktober).
Akibatnya, surplus perdagangan bulan September melebar menjadi US$133,5 miliar, melampaui estimasi median sebesar US$117,8 miliar berdasarkan survei ekonom yang dilakukan oleh Bloomberg.
Angka kumulatif tahun berjalan (year-to-date) diperkirakan akan mencapai US$1 triliun atau lebih pada bulan Oktober melampaui ambang batas yang baru tercapai pada bulan November tahun sebelumnya.
Ketimpangan hubungan perdagangan Tiongkok dengan dunia semakin tajam sejak perang tarif yang dimulai oleh Presiden AS Donald Trump lebih dari setahun yang lalu, terutama seiring melonjaknya permintaan global akan layanan kecerdasan buatan (AI) dan komponen pendukungnya seperti cip.
Menghadapi hambatan yang lebih besar di AS, perusahaan-perusahaan Tiongkok mencari pasar baru di luar negeri; Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa negara-negara ekonomi Asia yang sedang berkembang maupun yang sudah maju menyerap sekitar separuh dari arus perdagangan yang beralih tersebut, diikuti oleh Uni Eropa dengan porsi hampir seperlima.
Namun, di tengah stagnasi permintaan domestik, lonjakan ekspor juga memicu penolakan yang lebih besar dari mitra dagang utama Tiongkok.
Setelah berbulan-bulan bersitegang dengan Uni Eropa, Brussels dan Beijing sepakat untuk membatasi impor mobil hibrida dari Tiongkok demikian pernyataan pihak Uni Eropa meskipun Tiongkok memandang kesepakatan tersebut sebagai langkah untuk menjamin "ruang ekspor dan pertumbuhan yang stabil" bagi produsen mobilnya.
Tiongkok mencatat rekor surplus perdagangan sebesar S$34,8 miliar dengan Uni Eropa pada bulan September, sebelum kedua belah pihak mengumumkan hasil negosiasi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Angka tersebut hampir 21 persen lebih tinggi dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.
Menurut para ekonom di Goldman Sachs, jumlah negara yang mengalami defisit perdagangan dengan Tiongkok melebihi 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) mereka telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 2005, mencapai 82 negara pada tahun lalu; mereka memperkirakan bahwa sebagian besar negara tersebut merupakan negara berkembang berpendapatan rendah. (end/Bloomberg)
Ekspor melonjak 36 persen pada bulan September dibandingkan tahun sebelumnya laju tercepat sejak Februari setelah mencatat kenaikan 25 persen pada bulan Agustus. Sementara itu, impor meningkat 31 persen, menurut data yang dirilis oleh Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok pada hari Rabu (14 Oktober).
Akibatnya, surplus perdagangan bulan September melebar menjadi US$133,5 miliar, melampaui estimasi median sebesar US$117,8 miliar berdasarkan survei ekonom yang dilakukan oleh Bloomberg.
Angka kumulatif tahun berjalan (year-to-date) diperkirakan akan mencapai US$1 triliun atau lebih pada bulan Oktober melampaui ambang batas yang baru tercapai pada bulan November tahun sebelumnya.
Ketimpangan hubungan perdagangan Tiongkok dengan dunia semakin tajam sejak perang tarif yang dimulai oleh Presiden AS Donald Trump lebih dari setahun yang lalu, terutama seiring melonjaknya permintaan global akan layanan kecerdasan buatan (AI) dan komponen pendukungnya seperti cip.
Menghadapi hambatan yang lebih besar di AS, perusahaan-perusahaan Tiongkok mencari pasar baru di luar negeri; Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa negara-negara ekonomi Asia yang sedang berkembang maupun yang sudah maju menyerap sekitar separuh dari arus perdagangan yang beralih tersebut, diikuti oleh Uni Eropa dengan porsi hampir seperlima.
Namun, di tengah stagnasi permintaan domestik, lonjakan ekspor juga memicu penolakan yang lebih besar dari mitra dagang utama Tiongkok.
Setelah berbulan-bulan bersitegang dengan Uni Eropa, Brussels dan Beijing sepakat untuk membatasi impor mobil hibrida dari Tiongkok demikian pernyataan pihak Uni Eropa meskipun Tiongkok memandang kesepakatan tersebut sebagai langkah untuk menjamin "ruang ekspor dan pertumbuhan yang stabil" bagi produsen mobilnya.
Tiongkok mencatat rekor surplus perdagangan sebesar S$34,8 miliar dengan Uni Eropa pada bulan September, sebelum kedua belah pihak mengumumkan hasil negosiasi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Angka tersebut hampir 21 persen lebih tinggi dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.
Menurut para ekonom di Goldman Sachs, jumlah negara yang mengalami defisit perdagangan dengan Tiongkok melebihi 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) mereka telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 2005, mencapai 82 negara pada tahun lalu; mereka memperkirakan bahwa sebagian besar negara tersebut merupakan negara berkembang berpendapatan rendah. (end/Bloomberg)

