Kembali
INDONESIA DAN FINLANDIA PERKUAT EKOSISTEM INOVASI DAN PERUSAHAAN RINTISAN
Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong penguatan hubungan dagang Indonesia dan Finlandia, salah satunya dengan menguatkan ekosistem inovasi dan perusahaan rintisan.
Poin ini mengemuka dalam pertemuan bilateral Wamendag Roro dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pembangunan Finlandia, Ville Tavio di Jakarta, Selasa (13/10).
Wamendag Roro menyoroti pentingnya kedua negara dalam meningkatkan interaksi yang lebih kuat antara komunitas bisnis, seperti peningkatan frekuensi business matching, misi dagang, forum bisnis, dan interaksi langsung antara pelaku usaha Indonesia dengan Finlandia.
"Kami melihat adanya peluang menjanjikan untuk memperkuat kerja sama bisnis di berbagai bidang, seperti mesin industri, elektronik, produk hilirisasi mineral, kopi, komponen otomotif, teknologi berkelanjutan, dan produk bernilai tambah lainnya. Peningkatan interaksi bisnis akan membantu mendiversifikasi perdagangan bilateral serta membangun rantai pasok yang lebih tangguh dan saling menguntungkan," ujar Wamendag Roro.
Indonesia juga menyambut baik kerja sama yang lebih erat antara lembaga promosi perdagangan, asosiasi bisnis, dan pemangku kepentingan terkait di kedua negara dalam mendukung UMKM Indonesia, khususnya melalui penyediaan informasi pasar, peningkatan kesiapan ekspor, penerapan standar produk, dan kepatuhan regulasi. Selain itu Wamendag Roro juga menekankan pentingnya kerja sama teknis pemenuhan persyaratan keberlanjutan Uni Eropa seperti EUDR dan CBAM, serta fasilitasi hubungan dengan calon pembeli di Finlandia maupun pasar Eropa. Dalam hal ini, Wamendag Roro mengundang para pelaku bisnis Finlandia pada gelaran Trade Expo Indonesia yang digelar 14-18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Tangerang.
Lebih lanjut, Wamendag Roro juga mengungkapkan, Indonesia sangat menghargai peran konstruktif Finlandia sebagai negara anggota Uni Eropa dan mengharapkan dukungan berkelanjutannya dalam mendorong penandatanganan, ratifikasi, dan implementasi Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) dalam waktu dekat.
"Perjanjian ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi produk-produk kompetitif Indonesia, termasuk minyak kelapa sawit dan produk turunannya, alas kaki, produk kelistrikan dan elektronik, serta barang manufaktur lainnya. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan Finlandia akan memperoleh manfaat dari akses yang lebih baik ke pasar domestik Indonesia yang besar dan terus berkembang, khususnya di bidang mesin industri, teknologi canggih, dan solusi industri berkelanjutan," papar Wamendag Roro.
Dalam kesempatan yang sama, Wamendag Roro menyampaikan dukungan dan selamat kepada Finlandia atas keberhasilannya memimpin Pertemuan Dewan Menteri OECD yang diselenggarakan pada 3-4 Juni 2026. Wamendag Roro juga mengungkapkan, aksesi Indonesia ke OECD tetap menjadi prioritas nasional yang utama di mana Presiden Prabowo Subianto telah menekankan pentingnya penyelesaian proses aksesi ini pada pertengahan tahun 2028.
"Kami memandang keanggotaan OECD bukan hanya sebagai tonggak penting dalam keterlibatan ekonomi internasional kami, melainkan juga sebagai peluang strategis untuk memperkuat reformasi domestik, memperbaiki tata kelola, dan meningkatkan daya saing ekonomi kami," pungkasnya. (end)
Poin ini mengemuka dalam pertemuan bilateral Wamendag Roro dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pembangunan Finlandia, Ville Tavio di Jakarta, Selasa (13/10).
Wamendag Roro menyoroti pentingnya kedua negara dalam meningkatkan interaksi yang lebih kuat antara komunitas bisnis, seperti peningkatan frekuensi business matching, misi dagang, forum bisnis, dan interaksi langsung antara pelaku usaha Indonesia dengan Finlandia.
"Kami melihat adanya peluang menjanjikan untuk memperkuat kerja sama bisnis di berbagai bidang, seperti mesin industri, elektronik, produk hilirisasi mineral, kopi, komponen otomotif, teknologi berkelanjutan, dan produk bernilai tambah lainnya. Peningkatan interaksi bisnis akan membantu mendiversifikasi perdagangan bilateral serta membangun rantai pasok yang lebih tangguh dan saling menguntungkan," ujar Wamendag Roro.
Indonesia juga menyambut baik kerja sama yang lebih erat antara lembaga promosi perdagangan, asosiasi bisnis, dan pemangku kepentingan terkait di kedua negara dalam mendukung UMKM Indonesia, khususnya melalui penyediaan informasi pasar, peningkatan kesiapan ekspor, penerapan standar produk, dan kepatuhan regulasi. Selain itu Wamendag Roro juga menekankan pentingnya kerja sama teknis pemenuhan persyaratan keberlanjutan Uni Eropa seperti EUDR dan CBAM, serta fasilitasi hubungan dengan calon pembeli di Finlandia maupun pasar Eropa. Dalam hal ini, Wamendag Roro mengundang para pelaku bisnis Finlandia pada gelaran Trade Expo Indonesia yang digelar 14-18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Tangerang.
Lebih lanjut, Wamendag Roro juga mengungkapkan, Indonesia sangat menghargai peran konstruktif Finlandia sebagai negara anggota Uni Eropa dan mengharapkan dukungan berkelanjutannya dalam mendorong penandatanganan, ratifikasi, dan implementasi Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) dalam waktu dekat.
"Perjanjian ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi produk-produk kompetitif Indonesia, termasuk minyak kelapa sawit dan produk turunannya, alas kaki, produk kelistrikan dan elektronik, serta barang manufaktur lainnya. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan Finlandia akan memperoleh manfaat dari akses yang lebih baik ke pasar domestik Indonesia yang besar dan terus berkembang, khususnya di bidang mesin industri, teknologi canggih, dan solusi industri berkelanjutan," papar Wamendag Roro.
Dalam kesempatan yang sama, Wamendag Roro menyampaikan dukungan dan selamat kepada Finlandia atas keberhasilannya memimpin Pertemuan Dewan Menteri OECD yang diselenggarakan pada 3-4 Juni 2026. Wamendag Roro juga mengungkapkan, aksesi Indonesia ke OECD tetap menjadi prioritas nasional yang utama di mana Presiden Prabowo Subianto telah menekankan pentingnya penyelesaian proses aksesi ini pada pertengahan tahun 2028.
"Kami memandang keanggotaan OECD bukan hanya sebagai tonggak penting dalam keterlibatan ekonomi internasional kami, melainkan juga sebagai peluang strategis untuk memperkuat reformasi domestik, memperbaiki tata kelola, dan meningkatkan daya saing ekonomi kami," pungkasnya. (end)

