Kembali
BAHLIL TARGETKAN HILIRISASI RI CAPAI 618 MILIAR DOLAR AS PADA 2040
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menargetkan nilai hilirisasi Indonesia mencapai 618 miliar dolar AS pada 2040 melalui pengembangan industri pengolahan di berbagai sektor sumber daya alam.
Bahlil mengatakan, strategi hilirisasi menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
"Master plan ke depan hilirisasi Indonesia pada tahun 2040, target kita mencapai 618 miliar dolar AS. Dan hilirisasi ini sesungguhnya dilakukan dari semua sektor," kata Bahlil dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu.
Ia menjelaskan, pengembangan hilirisasi mencakup sektor mineral dan batu bara, minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, hingga pertanian.
Menurut Bahlil, peta jalan hilirisasi tersebut diharapkan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengembangan industri yang menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.
Bahlil menegaskan, Indonesia ke depan tidak ingin hanya menjadi negara yang mengekspor bahan baku, tetapi juga mengembangkan industri pengolahan dan ekosistem produksi dari hulu hingga hilir.
Ia mencontohkan perkembangan hilirisasi nikel yang telah mendorong peningkatan nilai ekspor komoditas tersebut.
Bahlil menyebut nilai ekspor nikel Indonesia pada 2017-2018 masih sekitar 3,3 miliar dolar AS. Setelah pemerintah mendorong hilirisasi dan pengembangan industri pengolahan, nilainya meningkat menjadi 34 miliar dolar AS pada 2023 dan lebih dari 40 miliar dolar AS pada 2025.
Untuk 2026, pemerintah menargetkan nilai ekspor sektor mineral nikel mencapai sedikitnya 45 miliar dolar AS.
Lebih lanjut, Bahlil mengatakan, hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
Ia menilai pengembangan industri dalam negeri perlu didukung investasi, termasuk pada sektor energi baru terbarukan, seiring meningkatnya kebutuhan pasar global terhadap produk yang dihasilkan melalui energi bersih dan industri hijau.
Bahlil pun mengajak investor untuk memanfaatkan peluang investasi di Indonesia guna mendukung pengembangan industri bernilai tambah tinggi.
Melalui strategi tersebut, pemerintah berharap pengelolaan sumber daya alam dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia serta memperkuat daya saing produk nasional di pasar internasional. (end/ant)
Bahlil mengatakan, strategi hilirisasi menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
"Master plan ke depan hilirisasi Indonesia pada tahun 2040, target kita mencapai 618 miliar dolar AS. Dan hilirisasi ini sesungguhnya dilakukan dari semua sektor," kata Bahlil dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu.
Ia menjelaskan, pengembangan hilirisasi mencakup sektor mineral dan batu bara, minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, hingga pertanian.
Menurut Bahlil, peta jalan hilirisasi tersebut diharapkan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengembangan industri yang menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.
Bahlil menegaskan, Indonesia ke depan tidak ingin hanya menjadi negara yang mengekspor bahan baku, tetapi juga mengembangkan industri pengolahan dan ekosistem produksi dari hulu hingga hilir.
Ia mencontohkan perkembangan hilirisasi nikel yang telah mendorong peningkatan nilai ekspor komoditas tersebut.
Bahlil menyebut nilai ekspor nikel Indonesia pada 2017-2018 masih sekitar 3,3 miliar dolar AS. Setelah pemerintah mendorong hilirisasi dan pengembangan industri pengolahan, nilainya meningkat menjadi 34 miliar dolar AS pada 2023 dan lebih dari 40 miliar dolar AS pada 2025.
Untuk 2026, pemerintah menargetkan nilai ekspor sektor mineral nikel mencapai sedikitnya 45 miliar dolar AS.
Lebih lanjut, Bahlil mengatakan, hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
Ia menilai pengembangan industri dalam negeri perlu didukung investasi, termasuk pada sektor energi baru terbarukan, seiring meningkatnya kebutuhan pasar global terhadap produk yang dihasilkan melalui energi bersih dan industri hijau.
Bahlil pun mengajak investor untuk memanfaatkan peluang investasi di Indonesia guna mendukung pengembangan industri bernilai tambah tinggi.
Melalui strategi tersebut, pemerintah berharap pengelolaan sumber daya alam dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia serta memperkuat daya saing produk nasional di pasar internasional. (end/ant)

