Kembali
NASDAQ BERAKHIR TURUN TAJAM KARENA DATA INFLASI TINGGI PICU KEKHAWATIRAN
Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan membuat indeks Nasdaq ditutup jauh lebih rendah pada hari Rabu (14 Oktober). Kekhawatiran akan kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh bank sentral AS (Federal Reserve) menekan saham-saham di sektor kecerdasan buatan (AI) seperti Oracle dan CoreWeave yang sangat sensitif terhadap tingginya biaya pinjaman.
Meningkatnya spekulasi bahwa The Fed perlu kembali menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi memberikan pukulan telak bagi beberapa saham yang sebelumnya mencatatkan kenaikan terbesar di pasar. Saham Oracle anjlok 8,8 persen, sementara perusahaan infrastruktur AI, CoreWeave dan Nebius, masing-masing merosot 15 persen dan 10 persen.
Saham Dell dan Hewlett Packard Enterprise juga jatuh, masing-masing sebesar 11,4 persen dan 8,2 persen, setelah Barclays menurunkan peringkat kedua produsen server AI tersebut dari "overweight" menjadi "equal-weight".
Indeks Semikonduktor Philadelphia turun 4,3 persen, mencatatkan penurunan selama enam sesi berturut-turut rentetan penurunan terpanjang sejak Mei 2025.
Harga konsumen AS meningkat lebih cepat pada bulan September seiring melonjaknya harga bensin dan meluasnya tekanan harga ke sektor di luar energi, menurut data dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) di bawah Departemen Tenaga Kerja AS.
Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME, para pelaku pasar suku bunga memperhitungkan adanya peluang sebesar 37 persen bahwa para pengambil kebijakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Oktober; angka ini naik dari 22 persen pada hari Selasa.
"Para investor tidak senang dengan laporan tersebut karena hal itu menekan The Fed untuk menaikkan suku bunga guna memerangi inflasi," ujar Adam Sarhan, CEO 50 Park Investments di New York. "Inflasi tetap menjadi musuh utama bagi pasar maupun The Fed."
Indeks S&P 500 turun 1,11 persen dan berakhir di level 7.718,94 poin; ini merupakan penurunan harian terbesar sejak 29 Juli.
Indeks Nasdaq turun 1,88 persen ke level 26.692,87 poin, penurunan harian terbesar sejak 23 Juli. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 0,09 persen ke level 51.621,48 poin. (end/Reuters)
Meningkatnya spekulasi bahwa The Fed perlu kembali menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi memberikan pukulan telak bagi beberapa saham yang sebelumnya mencatatkan kenaikan terbesar di pasar. Saham Oracle anjlok 8,8 persen, sementara perusahaan infrastruktur AI, CoreWeave dan Nebius, masing-masing merosot 15 persen dan 10 persen.
Saham Dell dan Hewlett Packard Enterprise juga jatuh, masing-masing sebesar 11,4 persen dan 8,2 persen, setelah Barclays menurunkan peringkat kedua produsen server AI tersebut dari "overweight" menjadi "equal-weight".
Indeks Semikonduktor Philadelphia turun 4,3 persen, mencatatkan penurunan selama enam sesi berturut-turut rentetan penurunan terpanjang sejak Mei 2025.
Harga konsumen AS meningkat lebih cepat pada bulan September seiring melonjaknya harga bensin dan meluasnya tekanan harga ke sektor di luar energi, menurut data dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) di bawah Departemen Tenaga Kerja AS.
Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME, para pelaku pasar suku bunga memperhitungkan adanya peluang sebesar 37 persen bahwa para pengambil kebijakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Oktober; angka ini naik dari 22 persen pada hari Selasa.
"Para investor tidak senang dengan laporan tersebut karena hal itu menekan The Fed untuk menaikkan suku bunga guna memerangi inflasi," ujar Adam Sarhan, CEO 50 Park Investments di New York. "Inflasi tetap menjadi musuh utama bagi pasar maupun The Fed."
Indeks S&P 500 turun 1,11 persen dan berakhir di level 7.718,94 poin; ini merupakan penurunan harian terbesar sejak 29 Juli.
Indeks Nasdaq turun 1,88 persen ke level 26.692,87 poin, penurunan harian terbesar sejak 23 Juli. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 0,09 persen ke level 51.621,48 poin. (end/Reuters)

