Kembali
HARGA EMAS MEROSOT USAI HARGA KONSUMEN AS NAIK
Harga emas merosot setelah harga konsumen di AS mencatat kenaikan terbesar dalam lima bulan terakhir. Hal ini memicu kembali kekhawatiran bahwa Federal Reserve AS perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut guna memerangi inflasi.
Berdasarkan data dari Biro Statistik Tenaga Kerja yang dirilis pada hari Rabu (14 Oktober), indeks harga konsumen naik 0,6 persen pada bulan September dibandingkan bulan sebelumnya, serta meningkat 3,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga bahan bakar, sementara indikator tekanan harga dasar juga tercatat meningkat melebihi ekspektasi.
Harga logam mulia (bullion) merosot hingga 2,1 persen ke kisaran US$4.070 per ons; lonjakan serangan di Timur Tengah turut memicu kekhawatiran bahwa gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi kawasan akan mempercepat inflasi dan memperkuat alasan kenaikan biaya pinjaman faktor yang menjadi hambatan bagi emas, aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga perak anjlok ke level terendah sejak 20 Juli. Platinum dan paladium juga mengalami penurunan, sementara nilai tukar dolar AS menguat 0,3 persen.
Harga tembaga turun 0,4 persen di London Metal Exchange setelah rilis data CPI; penguatan dolar AS dan prospek kenaikan biaya pinjaman meredupkan prospek logam industri utama tersebut. Harga akhirnya ditutup turun 0,6 persen.
Emas kini mendekati level dukungan (support) utama di kisaran US$4.000 per ons tingkat harga yang sempat bertahan pada bulan September sebelum data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah memicu lonjakan harga demikian disampaikan Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, dalam sebuah catatan.
Namun, gangguan lebih lanjut terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah akibat perang yang melibatkan Iran dapat memicu inflasi.
"Hal ini tentu akan mendorong ekspektasi suku bunga naik secara tajam, yang menjadi risiko penurunan bagi harga emas. Dengan demikian, harga bisa merosot jauh di bawah US$3.900 per ons," tambahnya. (end/Bloomberg)
Berdasarkan data dari Biro Statistik Tenaga Kerja yang dirilis pada hari Rabu (14 Oktober), indeks harga konsumen naik 0,6 persen pada bulan September dibandingkan bulan sebelumnya, serta meningkat 3,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga bahan bakar, sementara indikator tekanan harga dasar juga tercatat meningkat melebihi ekspektasi.
Harga logam mulia (bullion) merosot hingga 2,1 persen ke kisaran US$4.070 per ons; lonjakan serangan di Timur Tengah turut memicu kekhawatiran bahwa gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi kawasan akan mempercepat inflasi dan memperkuat alasan kenaikan biaya pinjaman faktor yang menjadi hambatan bagi emas, aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga perak anjlok ke level terendah sejak 20 Juli. Platinum dan paladium juga mengalami penurunan, sementara nilai tukar dolar AS menguat 0,3 persen.
Harga tembaga turun 0,4 persen di London Metal Exchange setelah rilis data CPI; penguatan dolar AS dan prospek kenaikan biaya pinjaman meredupkan prospek logam industri utama tersebut. Harga akhirnya ditutup turun 0,6 persen.
Emas kini mendekati level dukungan (support) utama di kisaran US$4.000 per ons tingkat harga yang sempat bertahan pada bulan September sebelum data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah memicu lonjakan harga demikian disampaikan Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, dalam sebuah catatan.
Namun, gangguan lebih lanjut terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah akibat perang yang melibatkan Iran dapat memicu inflasi.
"Hal ini tentu akan mendorong ekspektasi suku bunga naik secara tajam, yang menjadi risiko penurunan bagi harga emas. Dengan demikian, harga bisa merosot jauh di bawah US$3.900 per ons," tambahnya. (end/Bloomberg)

