Kembali
NILAI TUKAR RUPIAH MELEMAH TERHADAP DOLAR AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat, bergerak melemah 132 poin atau 0,737 persen menjadi Rp18.054 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.922 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipengaruhi laporan konsultasi penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), terkait potensi reklasifikasi pasar saham Indonesia.
"MSCI mengusulkan perubahan status Indonesia dari Emerging Market (EM) menjadi Standalone Market. Masukan dari pelaku pasar akan diterima hingga 30 April 2027, dengan keputusan final diharapkan sebelum 30 Juni 2027,"ungkapnya di Jakarta, Jumat.
Sebelumnya, MSCI pada Juni 2026 telah mengumumkan apabila kemajuan yang memadai belum terlihat pada November 2026 Index Review, MSCI akan mempertimbangkan untuk meluncurkan konsultasi mengenai reklasifikasi pasar Indonesia.
Pelaku pasar telah melaporkan kepada MSCI bahwa hingga saat ini belum ada kemajuan yang cukup secara konsisten di seluruh pasar ekuitas Indonesia.
Meskipun reformasi telah diumumkan, masih terdapat kekhawatiran yang signifikan di sekitar disfungsi pasar, termasuk dugaan masih adanya perilaku perdagangan yang terkoordinasi dan kurangnya bukti penegakan yang berarti.
Oleh karena itu, MSCI tidak lagi menganggap klasifikasi lanjutan Indonesia sebagai Emerging Market tepat, dan sedang meluncurkan konsultasi mengenai proposal untuk mengklasifikasi ulang Indonesia sebagai Standalone Market.
Sentimen lain dipengaruhi rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS yang lebih tinggi dari ekspektasi memberikan tekanan terhadap rupiah. Inflasi CPI AS meningkat sebesar 0,6 persen MoM (Month on Month) pada September 2026, meningkat dari 0,4 persen MoM pada bulan sebelumnya, namun masih sesuai dengan ekspektasi pasar.
Secara tahunan, inflasi headline meningkat menjadi 3,7 persen year on year (YoY) dari 3,4 persen YoY, lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 3,6 persen YoY. Inflasi September 2026 juga merupakan level tertinggi sejak Mei 2026. Dia menyatakan kenaikan inflasi headline terutama didorong oleh peningkatan biaya energi. (end/ant)
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipengaruhi laporan konsultasi penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), terkait potensi reklasifikasi pasar saham Indonesia.
"MSCI mengusulkan perubahan status Indonesia dari Emerging Market (EM) menjadi Standalone Market. Masukan dari pelaku pasar akan diterima hingga 30 April 2027, dengan keputusan final diharapkan sebelum 30 Juni 2027,"ungkapnya di Jakarta, Jumat.
Sebelumnya, MSCI pada Juni 2026 telah mengumumkan apabila kemajuan yang memadai belum terlihat pada November 2026 Index Review, MSCI akan mempertimbangkan untuk meluncurkan konsultasi mengenai reklasifikasi pasar Indonesia.
Pelaku pasar telah melaporkan kepada MSCI bahwa hingga saat ini belum ada kemajuan yang cukup secara konsisten di seluruh pasar ekuitas Indonesia.
Meskipun reformasi telah diumumkan, masih terdapat kekhawatiran yang signifikan di sekitar disfungsi pasar, termasuk dugaan masih adanya perilaku perdagangan yang terkoordinasi dan kurangnya bukti penegakan yang berarti.
Oleh karena itu, MSCI tidak lagi menganggap klasifikasi lanjutan Indonesia sebagai Emerging Market tepat, dan sedang meluncurkan konsultasi mengenai proposal untuk mengklasifikasi ulang Indonesia sebagai Standalone Market.
Sentimen lain dipengaruhi rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS yang lebih tinggi dari ekspektasi memberikan tekanan terhadap rupiah. Inflasi CPI AS meningkat sebesar 0,6 persen MoM (Month on Month) pada September 2026, meningkat dari 0,4 persen MoM pada bulan sebelumnya, namun masih sesuai dengan ekspektasi pasar.
Secara tahunan, inflasi headline meningkat menjadi 3,7 persen year on year (YoY) dari 3,4 persen YoY, lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 3,6 persen YoY. Inflasi September 2026 juga merupakan level tertinggi sejak Mei 2026. Dia menyatakan kenaikan inflasi headline terutama didorong oleh peningkatan biaya energi. (end/ant)

