Kembali
COKO CACAO COMPANY ANGKAT POTENSI KAKAO LOKAL
Di balik secangkir minuman cokelat Coko Cacao Company, tersimpan perjalanan panjang biji kakao dari kebun petani hingga menjadi produk bernilai tambah. Perjalanan tersebut bukan sekadar tentang menghasilkan olahan cokelat, tetapi juga membuka peluang bagi kakao lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Berawal dari bisnis minuman cokelat siap minum (ready to drink/RTD) melalui Artisan Coko, Coko Cacao Company kemudian melihat peluang lain dalam rantai pasok kakao Indonesia. Berkenalan dengan petani lokal dari berbagai daerah membuat perusahaan ini menyadari bahwa kekayaan kakao Nusantara memiliki potensi yang dapat dikembangkan, baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.
"Perusahaan mulai mengembangkan bisnis bahan baku kakao pada awal 2026. Langkah ini berangkat dari keinginan untuk membantu petani memperoleh nilai jual yang lebih baik atas hasil panen mereka. Selama ini, petani mendapatkan harga yang sangat minim setelah panen," ujar Purchasing Manager Coko Cacao Company Andri Epriasman saat ditemui di Trade Expo Indonesia (TEI), Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (18/10).
Berangkat dari kondisi tersebut, Coko Cacao Company mulai memasarkan biji kakao (cacao beans) serta beragam produk olahannya untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha (business-to-business/B2B). Produk yang ditawarkan mencakup bubuk kakao (cacao powder), massa kakao (cacao mass), lemak kakao (cacao butter), kulit biji kakao (cacao husk), dan pecahan biji kakao (cacao nibs).
Produk-produk tersebut menyasar pelaku usaha yang membutuhkan bahan baku untuk mengembangkan produk cokelat sesuai kebutuhan masing-masing. Dengan menyediakan bahan baku dalam beberapa bentuk, Coko Cacao Company berupaya membuka lebih banyak pilihan pemanfaatan kakao bagi industri pengolahan.
Coko Cacao Company menjalin kerja sama dengan petani dari enam wilayah, yakni Pangandaran di Jawa Barat, Jember di Jawa Timur, Tabanan di Bali, Berau di Kalimantan Timur, Polewali Mandar di Sulawesi Barat, serta Merauke di Papua Selatan. Menurut Andri, setiap daerah memiliki karakteristik kakao yang dapat menjadi daya tarik tersendiri.
"Salah satu kekayaan kakao Indonesia terletak pada karakteristik rasa yang beragam. Keunikan tersebut merupakan peluang untuk memperkenalkan kakao dari berbagai daerah kepada pasar yang lebih luas. Selain itu, pengalaman mengembangkan minuman cokelat melalui Artisan Coko turut memperkenalkan Coko Cacao Company pada keragaman cita rasa tersebut," ungkap Andri.
Andri menambahkan, ketertarikan terhadap kakao juga berangkat dari pandangan bahwa komoditas ini masih memiliki ruang untuk dikembangkan. Di tengah banyaknya pelaku usaha pada sektor kopi dan teh, Andri menilai kakao memiliki peluang tersendiri, terutama dengan kekayaan bahan baku yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Sebagai perusahaan yang baru memulai bisnis bahan baku kakao pada awal 2026, Coko Cacao Company masih menghadapi sejumlah tantangan. Andri menyebut keterbatasan saluran pemasaran dan kapasitas produksi sebagai dua hal yang perlu dikembangkan.
Dari sisi pemasaran, Coko Cacao Company terus mempelajari cara memperkenalkan produknya kepada calon pembeli, termasuk melalui pengembangan situs web dan partisipasi dalam pameran perdagangan. Sementara dari sisi produksi, kapasitas yang masih berada pada skala menengah membuat perusahaan membutuhkan waktu lebih panjang untuk memenuhi permintaan dalam jumlah besar.
Andri mencontohkan, permintaan di atas 10-20 ton berpotensi membutuhkan waktu produksi sekitar dua hingga tiga bulan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri ketika calon pembeli mengharapkan pengiriman dalam waktu lebih singkat.
Di tengah proses tersebut, Andri menilai TEI 2026 menjadi salah satu kesempatan bagi perusahaan untuk bertemu langsung dengan calon pembeli dari luar negeri. Dengan dukungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Coko Cacao Company berpartisipasi dalam TEI 2026 untuk memperkenalkan produk sekaligus menjajaki peluang pasar internasional.
Selama pameran TEI 2026, Coko Cacao Company memperoleh respons dari sejumlah calon pembeli potensial, antara lain dari Rusia, Tailan, Pakistan, dan India. Mereka menunjukkan ketertarikan terhadap bahan baku kakao yang ditawarkan perusahaan.
"Ajang seperti ini merupakan momen di mana kita bisa mempromosikan dan mencari buyer secara langsung," urai Andri. (end)
Berawal dari bisnis minuman cokelat siap minum (ready to drink/RTD) melalui Artisan Coko, Coko Cacao Company kemudian melihat peluang lain dalam rantai pasok kakao Indonesia. Berkenalan dengan petani lokal dari berbagai daerah membuat perusahaan ini menyadari bahwa kekayaan kakao Nusantara memiliki potensi yang dapat dikembangkan, baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.
"Perusahaan mulai mengembangkan bisnis bahan baku kakao pada awal 2026. Langkah ini berangkat dari keinginan untuk membantu petani memperoleh nilai jual yang lebih baik atas hasil panen mereka. Selama ini, petani mendapatkan harga yang sangat minim setelah panen," ujar Purchasing Manager Coko Cacao Company Andri Epriasman saat ditemui di Trade Expo Indonesia (TEI), Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (18/10).
Berangkat dari kondisi tersebut, Coko Cacao Company mulai memasarkan biji kakao (cacao beans) serta beragam produk olahannya untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha (business-to-business/B2B). Produk yang ditawarkan mencakup bubuk kakao (cacao powder), massa kakao (cacao mass), lemak kakao (cacao butter), kulit biji kakao (cacao husk), dan pecahan biji kakao (cacao nibs).
Produk-produk tersebut menyasar pelaku usaha yang membutuhkan bahan baku untuk mengembangkan produk cokelat sesuai kebutuhan masing-masing. Dengan menyediakan bahan baku dalam beberapa bentuk, Coko Cacao Company berupaya membuka lebih banyak pilihan pemanfaatan kakao bagi industri pengolahan.
Coko Cacao Company menjalin kerja sama dengan petani dari enam wilayah, yakni Pangandaran di Jawa Barat, Jember di Jawa Timur, Tabanan di Bali, Berau di Kalimantan Timur, Polewali Mandar di Sulawesi Barat, serta Merauke di Papua Selatan. Menurut Andri, setiap daerah memiliki karakteristik kakao yang dapat menjadi daya tarik tersendiri.
"Salah satu kekayaan kakao Indonesia terletak pada karakteristik rasa yang beragam. Keunikan tersebut merupakan peluang untuk memperkenalkan kakao dari berbagai daerah kepada pasar yang lebih luas. Selain itu, pengalaman mengembangkan minuman cokelat melalui Artisan Coko turut memperkenalkan Coko Cacao Company pada keragaman cita rasa tersebut," ungkap Andri.
Andri menambahkan, ketertarikan terhadap kakao juga berangkat dari pandangan bahwa komoditas ini masih memiliki ruang untuk dikembangkan. Di tengah banyaknya pelaku usaha pada sektor kopi dan teh, Andri menilai kakao memiliki peluang tersendiri, terutama dengan kekayaan bahan baku yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Sebagai perusahaan yang baru memulai bisnis bahan baku kakao pada awal 2026, Coko Cacao Company masih menghadapi sejumlah tantangan. Andri menyebut keterbatasan saluran pemasaran dan kapasitas produksi sebagai dua hal yang perlu dikembangkan.
Dari sisi pemasaran, Coko Cacao Company terus mempelajari cara memperkenalkan produknya kepada calon pembeli, termasuk melalui pengembangan situs web dan partisipasi dalam pameran perdagangan. Sementara dari sisi produksi, kapasitas yang masih berada pada skala menengah membuat perusahaan membutuhkan waktu lebih panjang untuk memenuhi permintaan dalam jumlah besar.
Andri mencontohkan, permintaan di atas 10-20 ton berpotensi membutuhkan waktu produksi sekitar dua hingga tiga bulan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri ketika calon pembeli mengharapkan pengiriman dalam waktu lebih singkat.
Di tengah proses tersebut, Andri menilai TEI 2026 menjadi salah satu kesempatan bagi perusahaan untuk bertemu langsung dengan calon pembeli dari luar negeri. Dengan dukungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Coko Cacao Company berpartisipasi dalam TEI 2026 untuk memperkenalkan produk sekaligus menjajaki peluang pasar internasional.
Selama pameran TEI 2026, Coko Cacao Company memperoleh respons dari sejumlah calon pembeli potensial, antara lain dari Rusia, Tailan, Pakistan, dan India. Mereka menunjukkan ketertarikan terhadap bahan baku kakao yang ditawarkan perusahaan.
"Ajang seperti ini merupakan momen di mana kita bisa mempromosikan dan mencari buyer secara langsung," urai Andri. (end)

