Kembali
NILAI TUKAR RUPIAH MELEMAH TERHADAP DOLAR AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin, bergerak melemah 21 poin atau 0,116 persen menjadi Rp18.112 per dolar AS, dipengaruhi kekhawatiran eskalasi tensi konflik geopolitik di Asia Barat/Timur Tengah (Timteng).
"Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi tensi geopolitik Timteng yang kembali membuat harga minyak naik di atas 100 dolar AS per barel," kata analis Doo Financial, Lukman Leong di Jakarta, Senin.
Mengutip Xinhua, harga minyak Brent melonjak ke level tertinggi sejak akhir April di tengah kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timteng.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember ditutup per Sabtu (24/10) pada harga 116,72 dolar AS per barel, naik 3,14 persen, sementara minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Desember ditutup pada 103,27 dolar AS per barel, naik 3,82 persen.
Para investor khawatir akan pecahnya kembali pertempuran menyusul laporan bahwa Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel telah menyusun rencana untuk menyerang Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
Media pemerintah Iran melaporkan adanya serangan terhadap kapal-kapal di Teluk dan Selat Hormuz, sementara Washington memerintahkan staf non-darurat beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi. (end/ant)
"Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi tensi geopolitik Timteng yang kembali membuat harga minyak naik di atas 100 dolar AS per barel," kata analis Doo Financial, Lukman Leong di Jakarta, Senin.
Mengutip Xinhua, harga minyak Brent melonjak ke level tertinggi sejak akhir April di tengah kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timteng.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember ditutup per Sabtu (24/10) pada harga 116,72 dolar AS per barel, naik 3,14 persen, sementara minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Desember ditutup pada 103,27 dolar AS per barel, naik 3,82 persen.
Para investor khawatir akan pecahnya kembali pertempuran menyusul laporan bahwa Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel telah menyusun rencana untuk menyerang Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
Media pemerintah Iran melaporkan adanya serangan terhadap kapal-kapal di Teluk dan Selat Hormuz, sementara Washington memerintahkan staf non-darurat beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi. (end/ant)

