Kembali
BI TERUS PANTAU PERGERAKAN RUPIAH DI TENGAH GEJOLAK PASAR
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan pihaknya tetap berada di pasar untuk memantau pergerakan nilai tukar rupiah di tengah volatilitas pasar keuangan.
Ia menerangkan pergerakan rupiah memang dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran (supply and demand). Maka dari itu, BI terus mencermati perkembangan nilai tukar, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakannya.
"Ya, kita (BI) tetap ada di pasar. Ya, ini tergantung supply demand hari ini, ya mungkin lagi. Ya, pokoknya tetaplah.. Tetap ya, tetap kita monitor pergerakannya," kata Destry, usai menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026, di Jakarta, Senin.
Terkait kemungkinan perubahan strategi intervensi guna meredam gejolak rupiah, Destry menyatakan belum merencanakan adanya perubahan.
Ia menilai volatilitas yang terjadi masih merupakan dinamika pasar yang biasa, dan masih bisa terus dipantau bank sentral.
"Enggak, enggak. Ini kita ya (menghadapi) volatility biasa, ya. Tapi kita kan ada terus monitor, ya. Kita lihat root-cause-nya juga," ujarnya.
Adapun rupiah tercatat melemah 0,216 persen ke level Rp18.130 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah. (end/ant)
Ia menerangkan pergerakan rupiah memang dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran (supply and demand). Maka dari itu, BI terus mencermati perkembangan nilai tukar, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakannya.
"Ya, kita (BI) tetap ada di pasar. Ya, ini tergantung supply demand hari ini, ya mungkin lagi. Ya, pokoknya tetaplah.. Tetap ya, tetap kita monitor pergerakannya," kata Destry, usai menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026, di Jakarta, Senin.
Terkait kemungkinan perubahan strategi intervensi guna meredam gejolak rupiah, Destry menyatakan belum merencanakan adanya perubahan.
Ia menilai volatilitas yang terjadi masih merupakan dinamika pasar yang biasa, dan masih bisa terus dipantau bank sentral.
"Enggak, enggak. Ini kita ya (menghadapi) volatility biasa, ya. Tapi kita kan ada terus monitor, ya. Kita lihat root-cause-nya juga," ujarnya.
Adapun rupiah tercatat melemah 0,216 persen ke level Rp18.130 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah. (end/ant)

