Kembali
PERTAMINA BAHAS INVESTASI HULU MIGAS DAN TRADING MINYAK MENTAH ASEAN
PT Pertamina (Persero) membahas peningkatan investasi hulu minyak dan gas bumi (migas) hingga trading crude atau minyak mentah ke kawasan Asia Tenggara untuk mengamankan ketahanan energi negara-negara anggota ASEAN di tengah gejolak geopolitik.
"Kami berusaha untuk mendiskusikan hal-hal yang bisa kita lakukan untuk penyelamatan Indonesia, penyelamatan ASEAN, dan seterusnya," ujar Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza ketika ditemui di sela-sela 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE), di Sanur, Denpasar, Bali, Selasa.
Sejumlah topik yang didiskusikan adalah bagaimana negara-negara di ASEAN dapat bekerja sama untuk memastikan mengalirnya investasi dengan jumlah yang besar ke sektor hulu migas ASEAN dan infrastruktur pendukungnya.
"Kami mendiskusikan bagaimana agar fiskal untuk hulu semakin menarik, guna mengundang investasi dari seluruh dunia yang hadir di ASEAN ini," ujar Oki.
Lebih lanjut, Oki menyebut peserta ASCOPE juga membahas bagaimana negara-negara ASEAN dapat memastikan trading atau jual beli minyak mentah di kawasan dapat berlangsung dengan lebih lancar.
"Tentunya kami juga harus memperkuat produksi di setiap negara, baik itu Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan beberapa negara yang punya hidrokarbon agar kita bisa unlock dan kita bisa produksi lebih banyak lagi," kata Oki.
Langkah tersebut menjadi penting bagi Pertamina sebab ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran pada Februari 2026 menyebabkan tertutupnya Selat Hormuz untuk waktu yang cukup panjang.
Tertutupnya Selat Hormuz tersebut, tutur Oki, tentu memengaruhi suplai energi ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Kondisi tersebutlah yang mendorong pentingnya pembahasan isu-isu yang dapat memperkuat produksi migas di Asia Tenggara, serta menjaga ketahanan energi kawasan tersebut.
"Tentu sebagai net importir country, Indonesia berkepentingan untuk mengamankan energi," ucap Oki. (end/ant)
"Kami berusaha untuk mendiskusikan hal-hal yang bisa kita lakukan untuk penyelamatan Indonesia, penyelamatan ASEAN, dan seterusnya," ujar Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza ketika ditemui di sela-sela 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE), di Sanur, Denpasar, Bali, Selasa.
Sejumlah topik yang didiskusikan adalah bagaimana negara-negara di ASEAN dapat bekerja sama untuk memastikan mengalirnya investasi dengan jumlah yang besar ke sektor hulu migas ASEAN dan infrastruktur pendukungnya.
"Kami mendiskusikan bagaimana agar fiskal untuk hulu semakin menarik, guna mengundang investasi dari seluruh dunia yang hadir di ASEAN ini," ujar Oki.
Lebih lanjut, Oki menyebut peserta ASCOPE juga membahas bagaimana negara-negara ASEAN dapat memastikan trading atau jual beli minyak mentah di kawasan dapat berlangsung dengan lebih lancar.
"Tentunya kami juga harus memperkuat produksi di setiap negara, baik itu Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan beberapa negara yang punya hidrokarbon agar kita bisa unlock dan kita bisa produksi lebih banyak lagi," kata Oki.
Langkah tersebut menjadi penting bagi Pertamina sebab ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran pada Februari 2026 menyebabkan tertutupnya Selat Hormuz untuk waktu yang cukup panjang.
Tertutupnya Selat Hormuz tersebut, tutur Oki, tentu memengaruhi suplai energi ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Kondisi tersebutlah yang mendorong pentingnya pembahasan isu-isu yang dapat memperkuat produksi migas di Asia Tenggara, serta menjaga ketahanan energi kawasan tersebut.
"Tentu sebagai net importir country, Indonesia berkepentingan untuk mengamankan energi," ucap Oki. (end/ant)

