Kembali
PERTAMINA ALOKASIKAN 75 PERSEN CAPEX KE INDUSTRI HULU MIGAS
PT Pertamina (Persero) mengalokasikan 75 persen belanja modal atau capital expenditure (capex) ke industri hulu minyak dan gas bumi (hulu migas) dalam rangka mendukung realisasi target lifting minyak 1 juta barel pada 2030.
"Mungkin rekan-rekan sering mendengar juga target 1 juta barel di 2030. Jadi, kami mengalokasikan sekitar 75 persen dari capex kami ke hulu," ujar Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza ketika ditemui di sela-sela 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE), di Sanur, Denpasar, Bali, Selasa.
Salah satunya, ujar Oki melanjutkan, yakni pengembangan ekosistem migas nonkonvensional (MNK) di Blok Rokan, Riau, untuk mendongkrak produksi minyak dalam negeri.
Oki mencatat terdapat potensi besar pengembangan ekosistem MNK di Blok Rokan, tepatnya pada sub-cekungan North Aman yang diperkirakan memiliki sumber daya mencapai 11,3 miliar barel minyak di tempat (BBO).
"Itu potensinya besar sekali, lebih dari 11 miliar barel. Tetapi tentu butuh ekosistem seperti di Permian Basin di Texas, di mana kami punya vendor yang banyak, ada 50 vendor, sehingga biaya produksi per sumurnya itu bisa berkurang," ujar Oki pula.
Selain pengembangan MNK di Blok Rokan, Oki juga menyampaikan salah satu discovery atau temuan terbesar Pertamina adalah di Padang Pancuran yang dikelola oleh Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang.
Berdasarkan data yang diakses dari laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sumur eksplorasi Padang Pancuran memiliki potensi mencapai 1.730 barel minyak per hari.
"Kami usahakan percepat (produksi Padang Pancuran), potensinya juga sangat besar," kata Oki lagi.
Untuk potensi-potensi di kawasan lainnya, Oki menyoroti Indonesia Timur. Menurut dia, Indonesia Timur memiliki potensi minyak dan gas yang besar dan menanti untuk dieksplorasi lebih jauh.
"Yang terbesar memang di Indonesia Timur. Indonesia Timur banyak sekali potensinya, memang full of exploration. Kami punya minyak dan gas, tetapi memang lebih besar potensi gas, lebih besar gas," ujar Oki. (end/ant)
"Mungkin rekan-rekan sering mendengar juga target 1 juta barel di 2030. Jadi, kami mengalokasikan sekitar 75 persen dari capex kami ke hulu," ujar Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza ketika ditemui di sela-sela 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE), di Sanur, Denpasar, Bali, Selasa.
Salah satunya, ujar Oki melanjutkan, yakni pengembangan ekosistem migas nonkonvensional (MNK) di Blok Rokan, Riau, untuk mendongkrak produksi minyak dalam negeri.
Oki mencatat terdapat potensi besar pengembangan ekosistem MNK di Blok Rokan, tepatnya pada sub-cekungan North Aman yang diperkirakan memiliki sumber daya mencapai 11,3 miliar barel minyak di tempat (BBO).
"Itu potensinya besar sekali, lebih dari 11 miliar barel. Tetapi tentu butuh ekosistem seperti di Permian Basin di Texas, di mana kami punya vendor yang banyak, ada 50 vendor, sehingga biaya produksi per sumurnya itu bisa berkurang," ujar Oki pula.
Selain pengembangan MNK di Blok Rokan, Oki juga menyampaikan salah satu discovery atau temuan terbesar Pertamina adalah di Padang Pancuran yang dikelola oleh Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang.
Berdasarkan data yang diakses dari laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sumur eksplorasi Padang Pancuran memiliki potensi mencapai 1.730 barel minyak per hari.
"Kami usahakan percepat (produksi Padang Pancuran), potensinya juga sangat besar," kata Oki lagi.
Untuk potensi-potensi di kawasan lainnya, Oki menyoroti Indonesia Timur. Menurut dia, Indonesia Timur memiliki potensi minyak dan gas yang besar dan menanti untuk dieksplorasi lebih jauh.
"Yang terbesar memang di Indonesia Timur. Indonesia Timur banyak sekali potensinya, memang full of exploration. Kami punya minyak dan gas, tetapi memang lebih besar potensi gas, lebih besar gas," ujar Oki. (end/ant)

