Kembali
HARGA MINYAK TURUN HAMPIR US$2 PER BAREL SELASA
Harga minyak berjangka ditutup turun hampir US$2 per barel pada hari Selasa (27 Oktober), meskipun harga masih berada di dekat level tertinggi dalam enam bulan akibat gangguan pelayaran di sekitar Timur Tengah, sementara kesepakatan untuk mengakhiri konflik antara Iran dengan pihak AS dan Israel masih belum tercapai.
Harga minyak mentah Brent berjangka ditutup turun US$1,93, atau 1,67 persen, menjadi US$113,88 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup turun US$1,86, atau 1,83 persen, menjadi US$99,90 per barel.
Kepala Dewan Keamanan Iran, Mohsen Rezaei, bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei pada hari Selasa, sehari setelah melakukan pembicaraan dengan perwakilan dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.
Media pemerintah menyatakan bahwa Khamenei menekankan pentingnya memperjuangkan kepentingan Iran serta mempertahankan syarat-syarat yang ditetapkan Iran untuk mengakhiri perang.
Menurut media pemerintah Iran, keempat negara tersebut sepakat untuk melanjutkan pembicaraan guna memperkuat kerja sama di bidang perdamaian dan keamanan.
Prospek perdamaian masih belum pasti seiring dengan kembali dilakukannya serangan oleh kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran terhadap Arab Saudi, negara produsen minyak utama. Pada hari Selasa, kelompok Houthi menyatakan telah menyerang kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi kilang terbesar di kerajaan tersebut dengan menggunakan rudal balistik.
"Serangan berkelanjutan oleh kelompok Houthi terhadap Arab Saudi serta meluasnya kehadiran militer di kawasan Teluk terus mempertahankan risiko pasokan, meskipun perkembangan di jalur diplomasi telah mendorong berkurangnya premi risiko yang sempat terbentuk belakangan ini," ungkap para analis dari Gelber & Associates dalam sebuah catatan.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Washington Institute for Near East Policy sebuah lembaga pemikir yang telah memantau insiden keamanan maritim di seluruh dunia sejak 2017 bulan Oktober tercatat sebagai bulan dengan jumlah serangan terbanyak terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya.
Menurut UBS, meskipun lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz meningkat, jumlah serangan terhadap kapal justru bertambah. Risiko tersebut diperkirakan akan menjadi semakin serius jika dukungan angkatan laut Amerika Serikat melemah. (end/Reuters)
Harga minyak mentah Brent berjangka ditutup turun US$1,93, atau 1,67 persen, menjadi US$113,88 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup turun US$1,86, atau 1,83 persen, menjadi US$99,90 per barel.
Kepala Dewan Keamanan Iran, Mohsen Rezaei, bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei pada hari Selasa, sehari setelah melakukan pembicaraan dengan perwakilan dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.
Media pemerintah menyatakan bahwa Khamenei menekankan pentingnya memperjuangkan kepentingan Iran serta mempertahankan syarat-syarat yang ditetapkan Iran untuk mengakhiri perang.
Menurut media pemerintah Iran, keempat negara tersebut sepakat untuk melanjutkan pembicaraan guna memperkuat kerja sama di bidang perdamaian dan keamanan.
Prospek perdamaian masih belum pasti seiring dengan kembali dilakukannya serangan oleh kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran terhadap Arab Saudi, negara produsen minyak utama. Pada hari Selasa, kelompok Houthi menyatakan telah menyerang kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi kilang terbesar di kerajaan tersebut dengan menggunakan rudal balistik.
"Serangan berkelanjutan oleh kelompok Houthi terhadap Arab Saudi serta meluasnya kehadiran militer di kawasan Teluk terus mempertahankan risiko pasokan, meskipun perkembangan di jalur diplomasi telah mendorong berkurangnya premi risiko yang sempat terbentuk belakangan ini," ungkap para analis dari Gelber & Associates dalam sebuah catatan.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Washington Institute for Near East Policy sebuah lembaga pemikir yang telah memantau insiden keamanan maritim di seluruh dunia sejak 2017 bulan Oktober tercatat sebagai bulan dengan jumlah serangan terbanyak terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya.
Menurut UBS, meskipun lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz meningkat, jumlah serangan terhadap kapal justru bertambah. Risiko tersebut diperkirakan akan menjadi semakin serius jika dukungan angkatan laut Amerika Serikat melemah. (end/Reuters)

