Kembali
NILAI TUKAR RUPIAH MENGUAT TERHADAP DOLAR AS
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS pada Kamis, dipengaruhi keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, untuk mempertahankan suku bunga.
Adapun, kurs rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, bergerak menguat 74 poin atau 0,407 persen menjadi Rp18.098 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.172 per dolar AS.
"Pada FOMC (Federal Open Market Committee) Oktober 2026, The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 3,75-4,00 persen, sesuai dengan ekspektasi konsensus," ucap Josua di Jakarta, Kamis.
The Fed disebut menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga stabilitas harga.
Dua anggota FOMC, yaitu Gubernur Lisa Cook dan Presiden Cleveland Fed Beth Hammack, menyampaikan dissent dengan memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).
Bank sentral AS tersebut juga mengumumkan pengurangan jumlah pertemuan kebijakan pada tahun depan yang akan menjadi forum bagi anggota untuk memberikan suara terkait suku bunga kebijakan.
"The Fed tidak memberikan indikasi yang jelas mengenai kemungkinan kenaikan kembali suku bunga kebijakan pada Desember 2026, dengan menekankan bahwa keputusan kebijakan ke depan akan bergantung pada perkembangan data dan diarahkan untuk membawa inflasi kembali ke target 2 persen," ungkap Josua. (end/ant)
Adapun, kurs rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, bergerak menguat 74 poin atau 0,407 persen menjadi Rp18.098 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.172 per dolar AS.
"Pada FOMC (Federal Open Market Committee) Oktober 2026, The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 3,75-4,00 persen, sesuai dengan ekspektasi konsensus," ucap Josua di Jakarta, Kamis.
The Fed disebut menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga stabilitas harga.
Dua anggota FOMC, yaitu Gubernur Lisa Cook dan Presiden Cleveland Fed Beth Hammack, menyampaikan dissent dengan memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).
Bank sentral AS tersebut juga mengumumkan pengurangan jumlah pertemuan kebijakan pada tahun depan yang akan menjadi forum bagi anggota untuk memberikan suara terkait suku bunga kebijakan.
"The Fed tidak memberikan indikasi yang jelas mengenai kemungkinan kenaikan kembali suku bunga kebijakan pada Desember 2026, dengan menekankan bahwa keputusan kebijakan ke depan akan bergantung pada perkembangan data dan diarahkan untuk membawa inflasi kembali ke target 2 persen," ungkap Josua. (end/ant)

