Kembali
LABA PTBA MELONJAK TIGA KALI LIPAT, CAPAI RP4,41 TRILIUN HINGGA TRIWULAN III 2026
PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mengumumkan kinerja keuangan konsolidasian untuk periode sembilan bulan pertama yang berakhir pada tanggal 30 September 2026 (9M26) ke BEI/OJK.
Dalam siaran pers PTBA (29/10) Direktur Utama PTBA, Bapak Bambang Ismawan mengatakan "Di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun 2026, PTBA berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III 2026. Pencapaian ini didukung oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin.
Ke depan, Perseroan akan terus memperkuat efisiensi di seluruh rantai bisnis, mengoptimalkan peluang pasar domestik dan ekspor, serta memastikan pengembangan infrastruktur logistik dapat segera berjalan agar mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan".
Ikhtisar
- PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp4,41 Triliun dan EBITDA sebesar Rp7,19 Triliun, dengan net profit margin dan EBITDA margin berturut-turut di angka 13% dan 20%.
- PTBA mencatatkan pemulihan kinerja operasional pada kuartal III-2026, yang ditandai oleh peningkatan kinerja secara QoQ, baik dari sisi produksi (naik 17%) maupun penjualan (naik 2%). Selain itu, harga jual rata-rata (ASP) juga naik 7% secara QoQ dan 18% secara YoY.
GUIDANCE FY26 PT BUKIT ASAM (PERSERO) TBK
- Volume Produksi : 49,55 juta ton
- Volume Penjualan : 49,51 juta ton
- Volume Angkutan : 41,00 juta ton
- Stripping Ratio : 5,63x
- Capital Expenditure : Rp3,64 triliun
Pendapatan Usaha dan Harga Jual Rata-rata
PTBA membukukan pendapatan usaha sebesar Rp35,20 triliun hingga September 2026, meningkat 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 18% secara tahunan, sejalan dengan penguatan harga batu bara global yang tercermin dari kenaikan indeks Newcastle dan ICI-3 masing-masing sebesar 25% dan 26% secara tahunan.
Penguatan harga jual tersebut mampu mengimbangi penurunan volume penjualan sebesar 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi komposisi penjualan, pasar domestik berkontribusi sebesar 52% terhadap total volume penjualan, sementara pasar ekspor menyumbang 48%. Adapun lima negara tujuan ekspor terbesar Perseroan meliputi Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand.
Beban Pokok Pendapatan dan Beban Operasional
Beban pokok pendapatan Perseroan tercatat sebesar Rp27,94 triliun, meningkat sekitar 1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh peningkatan harga bahan bakar sebesar 36% secara tahunan, yang berdampak pada biaya operasional penambangan dan pengangkutan batu bara.
Namun demikian, dampak kenaikan biaya bahan bakar dapat diimbangi oleh penurunan stripping ratio dari 5,98x menjadi 5,59x, serta penurunan volume produksi dan angkutan batu bara masing-masing sebesar 4% dan 10% secara tahunan. Kondisi tersebut turut mendukung pengendalian beban pokok pendapatan Perseroan sepanjang periode berjalan.
Sementara itu, beban operasional meningkat sebesar Rp266,77 miliar atau 13% secara tahunan, sejalan dengan perkembangan aktivitas operasional sepanjang periode berjalan.
Penghasilan Keuangan, Biaya Keuangan, dan Bagian atas Laba Neto Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama
Penghasilan keuangan Perseroan meningkat 16% secara tahunan menjadi Rp183,50 miliar, terutama didukung oleh peningkatan penempatan deposito berjangka, termasuk dalam rangka pengelolaan likuiditas dan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Di sisi lain, biaya keuangan menurun 45% secara tahunan menjadi Rp136,52 miliar, sejalan dengan berkurangnya beban bunga setelah penyelesaian fasilitas kredit modal kerja Perseroan pada akhir tahun 2025 yang lalu.
Selain itu, bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama meningkat 75% secara tahunan menjadi Rp581,31 miliar
Didukung oleh pertumbuhan pendapatan dan pengendalian beban pokok pendapatan, Perseroan membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp4,41 triliun.
Total Aset
Hingga 30 September 2026, total aset Perseroan mencapai Rp51,55 triliun, meningkat 17% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp43,92 triliun. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan deposito berjangka, piutang usaha sejalan dengan penguatan harga jual batu bara, serta kenaikan pajak dibayar di muka terkait restitusi pajak pertambahan nilai (PPN).
Total Liabilitas dan Ekuitas
Total liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp24,31 triliun pada 30 September 2026, meningkat 14% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp21,30 triliun. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan kewajiban operasional serta penambahan pinjaman bank untuk mendukung pengembangan Proyek Tanjung Enim - Kramasan.
Sementara itu, total ekuitas Perseroan meningkat 20% menjadi Rp27,24 triliun dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp22,62 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan saldo laba seiring dengan pencapaian laba bersih Perseroan sepanjang periode berjalan.
Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi tercatat naik dari sebelumnya Rp4,20 triliun menjadi Rp4,44 triliun atau naik 9% YoY. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan profitabilitas serta penurunan pembayaran pada pemasok dan pembayaran bunga.
Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi tercatat naik dari periode sebelumnya Rp2,21 triliun menjadi Rp3,50 triliun sampai dengan 30 September 2026. Kenaikan penggunaan kas untuk aktivitas investasi tersebut terutama dipengaruhi oleh adanya penempatan deposito berjangka atas Devisa Hasil Ekspor (DHE).
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan tercatat turun dari periode sebelumnya Rp2,17 triliun menjadi Rp0,70 triliun sampai dengan 30 September 2026. Penurunan penggunaan kas bersih tersebut terutama dipengaruhi oleh pembayaran dividen yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, serta peningkatan penerimaan pinjaman jangka panjang untuk mendukung pembiayaan Proyek Tanjung Enim-Kramasan.
Sebagai penutup, Corporate Secretary Division Head, Bapak Eko Prayitno menyampaikan "Ke depan, PTBA akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, serta percepatan penyelesaian proyekproyek strategis. Sejalan dengan itu, Perseroan juga terus mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan bisnis energi dan hilirisasi batu bara sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan energi yang berkelanjutan. Berbagai langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat daya saing Perseroan sekaligus menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan". (end)
Dalam siaran pers PTBA (29/10) Direktur Utama PTBA, Bapak Bambang Ismawan mengatakan "Di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun 2026, PTBA berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III 2026. Pencapaian ini didukung oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin.
Ke depan, Perseroan akan terus memperkuat efisiensi di seluruh rantai bisnis, mengoptimalkan peluang pasar domestik dan ekspor, serta memastikan pengembangan infrastruktur logistik dapat segera berjalan agar mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan".
Ikhtisar
- PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp4,41 Triliun dan EBITDA sebesar Rp7,19 Triliun, dengan net profit margin dan EBITDA margin berturut-turut di angka 13% dan 20%.
- PTBA mencatatkan pemulihan kinerja operasional pada kuartal III-2026, yang ditandai oleh peningkatan kinerja secara QoQ, baik dari sisi produksi (naik 17%) maupun penjualan (naik 2%). Selain itu, harga jual rata-rata (ASP) juga naik 7% secara QoQ dan 18% secara YoY.
GUIDANCE FY26 PT BUKIT ASAM (PERSERO) TBK
- Volume Produksi : 49,55 juta ton
- Volume Penjualan : 49,51 juta ton
- Volume Angkutan : 41,00 juta ton
- Stripping Ratio : 5,63x
- Capital Expenditure : Rp3,64 triliun
Pendapatan Usaha dan Harga Jual Rata-rata
PTBA membukukan pendapatan usaha sebesar Rp35,20 triliun hingga September 2026, meningkat 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 18% secara tahunan, sejalan dengan penguatan harga batu bara global yang tercermin dari kenaikan indeks Newcastle dan ICI-3 masing-masing sebesar 25% dan 26% secara tahunan.
Penguatan harga jual tersebut mampu mengimbangi penurunan volume penjualan sebesar 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi komposisi penjualan, pasar domestik berkontribusi sebesar 52% terhadap total volume penjualan, sementara pasar ekspor menyumbang 48%. Adapun lima negara tujuan ekspor terbesar Perseroan meliputi Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand.
Beban Pokok Pendapatan dan Beban Operasional
Beban pokok pendapatan Perseroan tercatat sebesar Rp27,94 triliun, meningkat sekitar 1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh peningkatan harga bahan bakar sebesar 36% secara tahunan, yang berdampak pada biaya operasional penambangan dan pengangkutan batu bara.
Namun demikian, dampak kenaikan biaya bahan bakar dapat diimbangi oleh penurunan stripping ratio dari 5,98x menjadi 5,59x, serta penurunan volume produksi dan angkutan batu bara masing-masing sebesar 4% dan 10% secara tahunan. Kondisi tersebut turut mendukung pengendalian beban pokok pendapatan Perseroan sepanjang periode berjalan.
Sementara itu, beban operasional meningkat sebesar Rp266,77 miliar atau 13% secara tahunan, sejalan dengan perkembangan aktivitas operasional sepanjang periode berjalan.
Penghasilan Keuangan, Biaya Keuangan, dan Bagian atas Laba Neto Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama
Penghasilan keuangan Perseroan meningkat 16% secara tahunan menjadi Rp183,50 miliar, terutama didukung oleh peningkatan penempatan deposito berjangka, termasuk dalam rangka pengelolaan likuiditas dan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Di sisi lain, biaya keuangan menurun 45% secara tahunan menjadi Rp136,52 miliar, sejalan dengan berkurangnya beban bunga setelah penyelesaian fasilitas kredit modal kerja Perseroan pada akhir tahun 2025 yang lalu.
Selain itu, bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama meningkat 75% secara tahunan menjadi Rp581,31 miliar
Didukung oleh pertumbuhan pendapatan dan pengendalian beban pokok pendapatan, Perseroan membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp4,41 triliun.
Total Aset
Hingga 30 September 2026, total aset Perseroan mencapai Rp51,55 triliun, meningkat 17% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp43,92 triliun. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan deposito berjangka, piutang usaha sejalan dengan penguatan harga jual batu bara, serta kenaikan pajak dibayar di muka terkait restitusi pajak pertambahan nilai (PPN).
Total Liabilitas dan Ekuitas
Total liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp24,31 triliun pada 30 September 2026, meningkat 14% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp21,30 triliun. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan kewajiban operasional serta penambahan pinjaman bank untuk mendukung pengembangan Proyek Tanjung Enim - Kramasan.
Sementara itu, total ekuitas Perseroan meningkat 20% menjadi Rp27,24 triliun dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp22,62 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan saldo laba seiring dengan pencapaian laba bersih Perseroan sepanjang periode berjalan.
Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi tercatat naik dari sebelumnya Rp4,20 triliun menjadi Rp4,44 triliun atau naik 9% YoY. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan profitabilitas serta penurunan pembayaran pada pemasok dan pembayaran bunga.
Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi tercatat naik dari periode sebelumnya Rp2,21 triliun menjadi Rp3,50 triliun sampai dengan 30 September 2026. Kenaikan penggunaan kas untuk aktivitas investasi tersebut terutama dipengaruhi oleh adanya penempatan deposito berjangka atas Devisa Hasil Ekspor (DHE).
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan tercatat turun dari periode sebelumnya Rp2,17 triliun menjadi Rp0,70 triliun sampai dengan 30 September 2026. Penurunan penggunaan kas bersih tersebut terutama dipengaruhi oleh pembayaran dividen yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, serta peningkatan penerimaan pinjaman jangka panjang untuk mendukung pembiayaan Proyek Tanjung Enim-Kramasan.
Sebagai penutup, Corporate Secretary Division Head, Bapak Eko Prayitno menyampaikan "Ke depan, PTBA akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, serta percepatan penyelesaian proyekproyek strategis. Sejalan dengan itu, Perseroan juga terus mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan bisnis energi dan hilirisasi batu bara sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan energi yang berkelanjutan. Berbagai langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat daya saing Perseroan sekaligus menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan". (end)

