Kembali
TAMA BERENCANA TAMBAH KEGIATAN USAHA
PT Lancartama Sejati Tbk (TAMA) berencana menambah dua kegiatan usaha baru, yakni aktivitas perusahaan holding (KBLI 64210) dan aktivitas jasa akses internet atau Internet Service Provider (ISP) (KBLI 61104).
Rencana tersebut merupakan bagian dari upaya Perseroan untuk mengembangkan dan mendiversifikasi kegiatan usaha. Saat ini, TAMA menjalankan kegiatan usaha di bidang jasa konstruksi serta penyewaan ruang kantor dan hunian.
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan pada 29 Oktober 2026, Perseroan menjelaskan bahwa penambahan kegiatan usaha holding bertujuan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan investasi dan penyertaan pada entitas anak maupun entitas lainnya. Sementara itu, kegiatan usaha ISP diharapkan dapat membuka sumber pendapatan baru seiring perkembangan kebutuhan layanan konektivitas dan internet.
Untuk kegiatan usaha holding, Perseroan merencanakan pengembangan portofolio investasi pada lima sektor, yaitu Construction & Property, Infrastructure, ISP & Digital Connectivity, Manufacturing & Industrial, serta Strategic Investment.
Dalam studi kelayakan yang dilakukan KJPP Syarif, Endang dan Rekan, penambahan kegiatan usaha holding menghasilkan Net Present Value (NPV) sebesar Rp72,40 miliar, Internal Rate of Return (IRR) 16,90%, dan Profitability Index (PI) 1,48796. Adapun periode pengembalian investasi atau Payback Period diperkirakan selama 10 tahun 11 bulan.
Sementara itu, untuk kegiatan usaha ISP, Perseroan merencanakan penyediaan layanan internet bagi pelanggan residensial, bisnis, dan enterprise melalui infrastruktur jaringan fiber optik. Studi kelayakan kegiatan usaha tersebut menghasilkan NPV sebesar Rp211,46 miliar, IRR 57,30%, dan PI 3,34570, dengan Payback Period selama 2 tahun 8 bulan.
Perseroan menyebutkan pengembangan kegiatan usaha ISP akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan operasional, kemampuan keuangan, dan perkembangan usaha. Investasi awal antara lain mencakup penyediaan infrastruktur, perangkat pendukung, sistem teknologi informasi, pemasaran, serta penambahan sumber daya manusia.
Kedua rencana penambahan kegiatan usaha tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 7 Desember 2026 di Jakarta. (end)
Rencana tersebut merupakan bagian dari upaya Perseroan untuk mengembangkan dan mendiversifikasi kegiatan usaha. Saat ini, TAMA menjalankan kegiatan usaha di bidang jasa konstruksi serta penyewaan ruang kantor dan hunian.
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan pada 29 Oktober 2026, Perseroan menjelaskan bahwa penambahan kegiatan usaha holding bertujuan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan investasi dan penyertaan pada entitas anak maupun entitas lainnya. Sementara itu, kegiatan usaha ISP diharapkan dapat membuka sumber pendapatan baru seiring perkembangan kebutuhan layanan konektivitas dan internet.
Untuk kegiatan usaha holding, Perseroan merencanakan pengembangan portofolio investasi pada lima sektor, yaitu Construction & Property, Infrastructure, ISP & Digital Connectivity, Manufacturing & Industrial, serta Strategic Investment.
Dalam studi kelayakan yang dilakukan KJPP Syarif, Endang dan Rekan, penambahan kegiatan usaha holding menghasilkan Net Present Value (NPV) sebesar Rp72,40 miliar, Internal Rate of Return (IRR) 16,90%, dan Profitability Index (PI) 1,48796. Adapun periode pengembalian investasi atau Payback Period diperkirakan selama 10 tahun 11 bulan.
Sementara itu, untuk kegiatan usaha ISP, Perseroan merencanakan penyediaan layanan internet bagi pelanggan residensial, bisnis, dan enterprise melalui infrastruktur jaringan fiber optik. Studi kelayakan kegiatan usaha tersebut menghasilkan NPV sebesar Rp211,46 miliar, IRR 57,30%, dan PI 3,34570, dengan Payback Period selama 2 tahun 8 bulan.
Perseroan menyebutkan pengembangan kegiatan usaha ISP akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan operasional, kemampuan keuangan, dan perkembangan usaha. Investasi awal antara lain mencakup penyediaan infrastruktur, perangkat pendukung, sistem teknologi informasi, pemasaran, serta penambahan sumber daya manusia.
Kedua rencana penambahan kegiatan usaha tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 7 Desember 2026 di Jakarta. (end)

