Kembali
CBUT CATAT PENDAPATAN RP14,14 TRILIUN HINGGA SEPTEMBER 2026
Emiten pengolahan kelapa sawit terintegrasi, PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT), mencatatkan kinerja keuangan yang sangat impresif sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp14,14 triliun, tumbuh 37,17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp10,31 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan interim Perseroan per 30 September 2026 yang belum diaudit, kenaikan pendapatan tersebut diikuti peningkatan laba bruto dan laba usaha. Laba periode berjalan Perseroan tercatat sebesar Rp297,15 miliar, meningkat 424,21% dibandingkan Rp56,69 miliar pada periode yang sama tahun 2025.
Dari sisi pendapatan, kontribusi terbesar berasal dari pihak ketiga yang mencapai Rp14,05 triliun atau sekitar 99,37% dari total pendapatan. Sementara itu, pendapatan dari pihak berelasi tercatat sebesar Rp88,40 miliar, setara dengan 0,63% dari total pendapatan Perseroan.
Kendati beban pokok penjualan meningkat 23,96% YoY menjadi Rp11,08 triliun dari sebelumnya Rp8,94 triliun, efisiensi operasional dan tren harga CPO yang positif membuat laba bruto (gross profit) melompat 123,60% YoY (naik Rp1,69 triliun) menjadi Rp3,06 triliun per September 2026, dibandingkan Rp1,37 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Peningkatan tersebut turut memperlebar margin laba bruto (gross profit margin) Perseroan secara drastis dari 13,26% pada 9M25 menjadi 21,62% pada 9M26.
Lonjakan Laba Usaha dan Laba Bersih
Kinerja operasional yang gemilang mengerek laba usaha (operating profit) Perseroan meroket 202,82% YoY (naik Rp325,37 miliar) menjadi Rp485,79 miliar, melesat dari Rp160,43 miliar pada 9M25.
Sementara itu, dari sisi finansial, meskipun beban keuangan tercatat berada di kisaran Rp105,84 miliar (relatif stabil dibanding Rp107,29 miliar pada periode lalu) di tengah ekspansi fasilitas modal kerja dan dinamika nilai tukar Rupiah, laba sebelum pajak penghasilan (profit before income tax) tetap melonjak luar biasa sebesar 436,31% YoY (naik Rp311,81 miliar) menjadi Rp383,27 miliar dari sebelumnya Rp71,46 miliar.
Setelah dikurangi total beban pajak penghasilan neto sebesar Rp86,12 miliar (pajak kini Rp87,47 miliar dikurangi pemulihan pajak tangguhan Rp1,36 miliar), CBUT membukukan laba periode berjalan (net profit) yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp297,15 rupiah miliar. Realisasi laba bersih ini melompat 424,21% YoY (melonjak secara riil sebesar Rp240,47 miliar) dari pencapaian per September 2025 yang sebesar Rp56,69 miliar.
Lonjakan laba bersih ini turut mengerek laba per saham dasar (basic earnings per share) Perseroan secara signifikan menjadi Rp95,09 per lembar saham, dibandingkan posisi tahun lalu sebesar Rp18,14.
Kesehatan Aset dan Posisi Neraca Keuangan
Dari sisi posisi keuangan per 30 September 2026, CBUT mencatatkan ekspansi skala bisnis yang masif dengan total aset mencapai Rp9,06 triliun, tumbuh 120,12% (naik Rp4,95 triliun) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp4,12 triliun.
Pertumbuhan aset ini didorong oleh kenaikan signifikan pada aset lancar, di mana kas dan setara kas akhir periode tercatat menguat 62,46% menjadi Rp462,73 miliar dari Rp284,84 miliar pada akhir tahun sebelumnya. Persediaan juga meningkat menjadi Rp2,03 triliun dari Rp784,33 miliar.
Selain itu, Perseroan juga mencatatkan instrumen bank yang dibatasi penggunaannya (restricted cash in bank) sebesar Rp3,30 triliun. Dalam laporan arus kas, penempatan dana tersebut berkaitan dengan fasilitas kredit beragunan tunai untuk devisa hasil ekspor.
Dari sisi pendanaan, total liabilitas Perseroan meningkat 154,56% menjadi Rp7,66 triliun per 30 September 2026, dari Rp3,01 triliun per akhir Desember 2025. Peningkatan liabilitas ini terutama bersumber dari penambahan pinjaman bank jangka pendek yang naik menjadi Rp5,24 triliun, dibandingkan Rp1,22 triliun pada akhir tahun sebelumnya.
Kendati demikian, total ekuitas Perseroan tetap mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 26,86% (naik Rp298,30 miliar) menjadi Rp1,41 triliun per 30 September 2026, naik dari posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp1,11 triliun, yang ditopang oleh akumulasi penambahan saldo laba berjalan.(end)
Berdasarkan laporan keuangan interim Perseroan per 30 September 2026 yang belum diaudit, kenaikan pendapatan tersebut diikuti peningkatan laba bruto dan laba usaha. Laba periode berjalan Perseroan tercatat sebesar Rp297,15 miliar, meningkat 424,21% dibandingkan Rp56,69 miliar pada periode yang sama tahun 2025.
Dari sisi pendapatan, kontribusi terbesar berasal dari pihak ketiga yang mencapai Rp14,05 triliun atau sekitar 99,37% dari total pendapatan. Sementara itu, pendapatan dari pihak berelasi tercatat sebesar Rp88,40 miliar, setara dengan 0,63% dari total pendapatan Perseroan.
Kendati beban pokok penjualan meningkat 23,96% YoY menjadi Rp11,08 triliun dari sebelumnya Rp8,94 triliun, efisiensi operasional dan tren harga CPO yang positif membuat laba bruto (gross profit) melompat 123,60% YoY (naik Rp1,69 triliun) menjadi Rp3,06 triliun per September 2026, dibandingkan Rp1,37 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Peningkatan tersebut turut memperlebar margin laba bruto (gross profit margin) Perseroan secara drastis dari 13,26% pada 9M25 menjadi 21,62% pada 9M26.
Lonjakan Laba Usaha dan Laba Bersih
Kinerja operasional yang gemilang mengerek laba usaha (operating profit) Perseroan meroket 202,82% YoY (naik Rp325,37 miliar) menjadi Rp485,79 miliar, melesat dari Rp160,43 miliar pada 9M25.
Sementara itu, dari sisi finansial, meskipun beban keuangan tercatat berada di kisaran Rp105,84 miliar (relatif stabil dibanding Rp107,29 miliar pada periode lalu) di tengah ekspansi fasilitas modal kerja dan dinamika nilai tukar Rupiah, laba sebelum pajak penghasilan (profit before income tax) tetap melonjak luar biasa sebesar 436,31% YoY (naik Rp311,81 miliar) menjadi Rp383,27 miliar dari sebelumnya Rp71,46 miliar.
Setelah dikurangi total beban pajak penghasilan neto sebesar Rp86,12 miliar (pajak kini Rp87,47 miliar dikurangi pemulihan pajak tangguhan Rp1,36 miliar), CBUT membukukan laba periode berjalan (net profit) yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp297,15 rupiah miliar. Realisasi laba bersih ini melompat 424,21% YoY (melonjak secara riil sebesar Rp240,47 miliar) dari pencapaian per September 2025 yang sebesar Rp56,69 miliar.
Lonjakan laba bersih ini turut mengerek laba per saham dasar (basic earnings per share) Perseroan secara signifikan menjadi Rp95,09 per lembar saham, dibandingkan posisi tahun lalu sebesar Rp18,14.
Kesehatan Aset dan Posisi Neraca Keuangan
Dari sisi posisi keuangan per 30 September 2026, CBUT mencatatkan ekspansi skala bisnis yang masif dengan total aset mencapai Rp9,06 triliun, tumbuh 120,12% (naik Rp4,95 triliun) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp4,12 triliun.
Pertumbuhan aset ini didorong oleh kenaikan signifikan pada aset lancar, di mana kas dan setara kas akhir periode tercatat menguat 62,46% menjadi Rp462,73 miliar dari Rp284,84 miliar pada akhir tahun sebelumnya. Persediaan juga meningkat menjadi Rp2,03 triliun dari Rp784,33 miliar.
Selain itu, Perseroan juga mencatatkan instrumen bank yang dibatasi penggunaannya (restricted cash in bank) sebesar Rp3,30 triliun. Dalam laporan arus kas, penempatan dana tersebut berkaitan dengan fasilitas kredit beragunan tunai untuk devisa hasil ekspor.
Dari sisi pendanaan, total liabilitas Perseroan meningkat 154,56% menjadi Rp7,66 triliun per 30 September 2026, dari Rp3,01 triliun per akhir Desember 2025. Peningkatan liabilitas ini terutama bersumber dari penambahan pinjaman bank jangka pendek yang naik menjadi Rp5,24 triliun, dibandingkan Rp1,22 triliun pada akhir tahun sebelumnya.
Kendati demikian, total ekuitas Perseroan tetap mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 26,86% (naik Rp298,30 miliar) menjadi Rp1,41 triliun per 30 September 2026, naik dari posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp1,11 triliun, yang ditopang oleh akumulasi penambahan saldo laba berjalan.(end)

