Kembali
JEC DAN PTA PERLUAS AKSES PEMERIKSAAN MATA GRATIS DI TANGERANG
JEC Eye Hospitals and Clinics berkolaborasi dengan Parent Teacher Association (PTA) Secondary Syafana Islamic School memperluas akses pemeriksaan kesehatan mata dan pemberian kacamata gratis bagi ratusan warga serta tenaga pendidik di Kabupaten Tangerang, Banten.
Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics Tjahjono D. Gondhowiarjo melalui keterangan tertulis di Tangerang, Jumat, mengatakan melalui kegiatan bakti sosial bertema "Melihat Lebih Luas, Berbagi Lebih Luas" menargetkan 250 hingga 300 peserta dari kalangan dhuafa, staf sekolah, serta anak didik di Lengkong Kulon, Pagedangan, sebagai penerima manfaat bantuan tersebut.
"Kelainan refraksi dapat dialami siapa saja dan kerap tidak disadari sejak awal. Padahal, kondisi ini mempengaruhi kenyamanan belajar dan aktivitas sehari-hari. Karena itu, pemeriksaan berkala penting dilakukan untuk mengenali gangguan penglihatan sedini mungkin," katanya.
Ia mengemukakan bahwa perluasan akses pemeriksaan tersebut untuk deteksi dini terhadap kelainan refraksi seperti miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmatisme (mata silinder) sangat krusial untuk menunjang kualitas hidup serta produktivitas masyarakat.
Ia menambahkan, sebagai institusi layanan kesehatan mata yang telah melayani masyarakat selama lebih dari empat dekade, JEC berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan layanan berkualitas melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan institusi pendidikan.
"Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2025, dari sekitar 55 juta penduduk berusia di atas tujuh tahun yang mengikuti skrining kesehatan mata, sekitar 17 persen di antaranya terdeteksi mengalami gangguan penglihatan," ujarnya.
Menurutnya, dengan tingginya angka tersebut didorong oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan melihat dekat dalam waktu lama, penggunaan perangkat digital, hingga minimnya aktivitas luar ruangan.
"Harapannya agar sinergi antara dunia kesehatan dan institusi pendidikan ini dapat menginspirasi gerakan serupa di berbagai wilayah lain guna menekan laju gangguan penglihatan di tengah masyarakat," kata dia.
Sementara itu, Ketua PTA Secondary Syafana Islamic School Sundus Wahidah menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata penanaman nilai kepedulian sosial bagi seluruh sivitas akademika dan keluarga besar sekolah.
"Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Melalui pemeriksaan dan pemberian kacamata ini, kami berharap warga sekolah dan masyarakat sekitar dapat terbantu dalam menjalani aktivitas sehari-hari," ucap Sundus. (end/ant)
Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics Tjahjono D. Gondhowiarjo melalui keterangan tertulis di Tangerang, Jumat, mengatakan melalui kegiatan bakti sosial bertema "Melihat Lebih Luas, Berbagi Lebih Luas" menargetkan 250 hingga 300 peserta dari kalangan dhuafa, staf sekolah, serta anak didik di Lengkong Kulon, Pagedangan, sebagai penerima manfaat bantuan tersebut.
"Kelainan refraksi dapat dialami siapa saja dan kerap tidak disadari sejak awal. Padahal, kondisi ini mempengaruhi kenyamanan belajar dan aktivitas sehari-hari. Karena itu, pemeriksaan berkala penting dilakukan untuk mengenali gangguan penglihatan sedini mungkin," katanya.
Ia mengemukakan bahwa perluasan akses pemeriksaan tersebut untuk deteksi dini terhadap kelainan refraksi seperti miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmatisme (mata silinder) sangat krusial untuk menunjang kualitas hidup serta produktivitas masyarakat.
Ia menambahkan, sebagai institusi layanan kesehatan mata yang telah melayani masyarakat selama lebih dari empat dekade, JEC berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan layanan berkualitas melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan institusi pendidikan.
"Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2025, dari sekitar 55 juta penduduk berusia di atas tujuh tahun yang mengikuti skrining kesehatan mata, sekitar 17 persen di antaranya terdeteksi mengalami gangguan penglihatan," ujarnya.
Menurutnya, dengan tingginya angka tersebut didorong oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan melihat dekat dalam waktu lama, penggunaan perangkat digital, hingga minimnya aktivitas luar ruangan.
"Harapannya agar sinergi antara dunia kesehatan dan institusi pendidikan ini dapat menginspirasi gerakan serupa di berbagai wilayah lain guna menekan laju gangguan penglihatan di tengah masyarakat," kata dia.
Sementara itu, Ketua PTA Secondary Syafana Islamic School Sundus Wahidah menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata penanaman nilai kepedulian sosial bagi seluruh sivitas akademika dan keluarga besar sekolah.
"Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Melalui pemeriksaan dan pemberian kacamata ini, kami berharap warga sekolah dan masyarakat sekitar dapat terbantu dalam menjalani aktivitas sehari-hari," ucap Sundus. (end/ant)

