Kembali
NILAI TUKAR RUPIAH MENGUAT TERHADAP DOLAR AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat, bergerak menguat 11 poin atau 0,061 persen menjadi Rp18.133 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.144 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan penguatan kurs rupiah dipengaruhi penilaian investor terkait pernyataan Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober 2026 yang menunjukkan sinyal lebih dovish.
"Fed tidak memberikan sinyal yang jelas mengenai potensi kenaikan suku bunga pada Desember 2026, sehingga investor menurunkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat," ucapnya di Jakarta, Jumat.
Dalam FOMC, The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 3,75-4,00 persen, sesuai dengan ekspektasi konsensus.
Di samping itu, The Fed tidak memberikan indikasi yang jelas mengenai kemungkinan kenaikan kembali suku bunga kebijakan pada Desember 2026, dengan menekankan bahwa keputusan kebijakan ke depan akan bergantung pada perkembangan data dan diarahkan untuk membawa inflasi kembali ke target 2 persen.
Sentimen lainnya berasal dari rilis indikator inflasi yang menjadi acuan utama Fed, yaitu PCE Price Index dan Core PCE Price Index, masing-masing meningkat menjadi 3,6 persen year on year (yoy) dan 3,1 persen yoy pada September 2026, sejalan dengan ekspektasi konsensus. (end/ant)
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan penguatan kurs rupiah dipengaruhi penilaian investor terkait pernyataan Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober 2026 yang menunjukkan sinyal lebih dovish.
"Fed tidak memberikan sinyal yang jelas mengenai potensi kenaikan suku bunga pada Desember 2026, sehingga investor menurunkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat," ucapnya di Jakarta, Jumat.
Dalam FOMC, The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 3,75-4,00 persen, sesuai dengan ekspektasi konsensus.
Di samping itu, The Fed tidak memberikan indikasi yang jelas mengenai kemungkinan kenaikan kembali suku bunga kebijakan pada Desember 2026, dengan menekankan bahwa keputusan kebijakan ke depan akan bergantung pada perkembangan data dan diarahkan untuk membawa inflasi kembali ke target 2 persen.
Sentimen lainnya berasal dari rilis indikator inflasi yang menjadi acuan utama Fed, yaitu PCE Price Index dan Core PCE Price Index, masing-masing meningkat menjadi 3,6 persen year on year (yoy) dan 3,1 persen yoy pada September 2026, sejalan dengan ekspektasi konsensus. (end/ant)

