Kembali
PWON CATAT PENDAPATAN Rp5,21 TRILIUN HINGGA SEPTEMBER 2026
PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) membukukan pendapatan Rp5,21 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, naik sekitar 1,8 persen dari Rp5,12 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2026 yang belum diaudit, bisnis hotel menjadi penopang paling kencang dengan kenaikan sekitar 17 persen menjadi Rp1,07 triliun dari Rp910,1 miliar. Pendapatan sewa ruangan, kontributor terbesar, tumbuh sekitar 6,7 persen menjadi Rp1,81 triliun, dan pendapatan apartemen servis naik menjadi Rp59,6 miliar.
Pendapatan jasa pemeliharaan relatif stabil di Rp762,6 miliar, sementara pendapatan usaha lainnya, seperti penagihan listrik, air, gas, dan parkir, naik menjadi Rp738,7 miliar dari Rp681,2 miliar. Segmen penjualan properti justru melemah. Penjualan kondominium dan kantor turun sekitar 27 persen menjadi Rp508,2 miliar dari Rp698,8 miliar, dan penjualan tanah dan bangunan turun sekitar 18 persen menjadi Rp262,1 miliar dari Rp321,7 miliar.
Dari sisi biaya, beban pokok pendapatan turun menjadi Rp2,25 triliun dari Rp2,28 triliun, sehingga laba kotor naik sekitar 4,3 persen menjadi Rp2,96 triliun. Meski begitu, laba bersih periode berjalan turun sekitar 16 persen menjadi Rp1,78 triliun dari Rp2,12 triliun.
Laba sebelum pajak tercatat Rp1,79 triliun, turun dari Rp2,13 triliun.Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun lebih dalam, sekitar 19,3 persen, menjadi Rp1,39 triliun dari Rp1,73 triliun. Laba per saham dasar ikut turun menjadi Rp28,93 dari Rp35,85.
Penurunan laba terutama dipicu pos lain-lain bersih, yang berbalik dari keuntungan Rp238,2 miliar tahun lalu menjadi kerugian Rp327,7 miliar. Pembanding tahun lalu juga masih memuat keuntungan tender offer obligasi Rp30,4 miliar yang tidak berulang. Beban umum dan administrasi naik menjadi Rp466,3 miliar dari Rp423,5 miliar. Di sisi lain, kerugian kurs menyempit menjadi Rp44,9 miliar dari Rp157,0 miliar, dan keuntungan instrumen derivatif naik menjadi Rp72,4 miliar dari Rp1,3 miliar.
Arus kas operasi justru menguat. Kas bersih dari aktivitas operasi naik sekitar 24,6 persen menjadi Rp2,56 triliun dari Rp2,06 triliun. Perseroan menempatkan Rp1,85 triliun pada reksadana dan membayar dividen tunai Rp625,0 miliar. Entitas anak juga membayar dividen kepada kepentingan nonpengendali Rp350,3 miliar, jauh di atas Rp37,5 miliar tahun lalu. Kas dan setara kas di neraca tercatat Rp4,54 triliun, turun dari Rp5,19 triliun pada akhir 2025.
Total aset per akhir September 2026 mencapai Rp37,73 triliun, naik dari Rp36,47 triliun pada akhir 2025. Total liabilitas Rp10,33 triliun, dengan utang obligasi jangka panjang Rp5,99 triliun, sedangkan total ekuitas Rp27,41 triliun. (end)
Pendapatan jasa pemeliharaan relatif stabil di Rp762,6 miliar, sementara pendapatan usaha lainnya, seperti penagihan listrik, air, gas, dan parkir, naik menjadi Rp738,7 miliar dari Rp681,2 miliar. Segmen penjualan properti justru melemah. Penjualan kondominium dan kantor turun sekitar 27 persen menjadi Rp508,2 miliar dari Rp698,8 miliar, dan penjualan tanah dan bangunan turun sekitar 18 persen menjadi Rp262,1 miliar dari Rp321,7 miliar.
Dari sisi biaya, beban pokok pendapatan turun menjadi Rp2,25 triliun dari Rp2,28 triliun, sehingga laba kotor naik sekitar 4,3 persen menjadi Rp2,96 triliun. Meski begitu, laba bersih periode berjalan turun sekitar 16 persen menjadi Rp1,78 triliun dari Rp2,12 triliun.
Laba sebelum pajak tercatat Rp1,79 triliun, turun dari Rp2,13 triliun.Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun lebih dalam, sekitar 19,3 persen, menjadi Rp1,39 triliun dari Rp1,73 triliun. Laba per saham dasar ikut turun menjadi Rp28,93 dari Rp35,85.
Penurunan laba terutama dipicu pos lain-lain bersih, yang berbalik dari keuntungan Rp238,2 miliar tahun lalu menjadi kerugian Rp327,7 miliar. Pembanding tahun lalu juga masih memuat keuntungan tender offer obligasi Rp30,4 miliar yang tidak berulang. Beban umum dan administrasi naik menjadi Rp466,3 miliar dari Rp423,5 miliar. Di sisi lain, kerugian kurs menyempit menjadi Rp44,9 miliar dari Rp157,0 miliar, dan keuntungan instrumen derivatif naik menjadi Rp72,4 miliar dari Rp1,3 miliar.
Arus kas operasi justru menguat. Kas bersih dari aktivitas operasi naik sekitar 24,6 persen menjadi Rp2,56 triliun dari Rp2,06 triliun. Perseroan menempatkan Rp1,85 triliun pada reksadana dan membayar dividen tunai Rp625,0 miliar. Entitas anak juga membayar dividen kepada kepentingan nonpengendali Rp350,3 miliar, jauh di atas Rp37,5 miliar tahun lalu. Kas dan setara kas di neraca tercatat Rp4,54 triliun, turun dari Rp5,19 triliun pada akhir 2025.
Total aset per akhir September 2026 mencapai Rp37,73 triliun, naik dari Rp36,47 triliun pada akhir 2025. Total liabilitas Rp10,33 triliun, dengan utang obligasi jangka panjang Rp5,99 triliun, sedangkan total ekuitas Rp27,41 triliun. (end)

