Kembali
SSIA CATAT PENDAPATAN Rp4,81 TRILIUN HINGGA SEPTEMBER 2026
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatatkan pendapatan konsolidasian sebesar Rp4,81 triliun hingga September 2026 (9M26), meningkat 44,7% dibandingkan Rp3,32 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan siaran pers Perseroan, Selasa, pertumbuhan pendapatan terutama ditopang segmen properti yang membukukan pendapatan Rp1,48 triliun, meningkat 172,2% dari Rp545 miliar pada 9M25. Segmen perhotelan juga mencatatkan pertumbuhan 161,2% menjadi Rp940,9 miliar dari Rp360,2 miliar.
Sementara itu, segmen konstruksi membukukan pendapatan Rp2,51 triliun, turun 5,4% dibandingkan Rp2,65 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perlambatan tersebut terutama disebabkan penurunan perolehan kontrak baru.
Seiring pertumbuhan pendapatan, laba kotor SSIA meningkat 113,9% menjadi Rp1,58 triliun dari Rp739,3 miliar. EBITDA tercatat sebesar Rp951,5 miliar, melonjak 270,6% dibandingkan Rp256,7 miliar pada 9M25. Margin EBITDA juga meningkat menjadi 19,8% dari 7,7%.
Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp344,4 miliar, meningkat signifikan dibandingkan Rp6,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun laba komprehensif tercatat sebesar Rp326,4 miliar dibandingkan Rp3,8 miliar pada 9M25.
Dari sisi segmen usaha, properti menjadi kontributor utama laba dengan EBITDA Rp601 miliar, diikuti konstruksi sebesar Rp204,9 miliar dan perhotelan Rp201,6 miliar.
Pada segmen properti, SSIA mencatatkan penjualan pemasaran lahan industri seluas 24 hektare melalui PT Suryacipta Swadaya (SCS), meningkat dari 18 hektare pada 9M25. Nilai penjualan pemasaran tersebut mencapai Rp477,9 miliar dibandingkan Rp352,6 miliar. Hingga September 2026, nilai backlog penjualan lahan tercatat Rp292,4 miliar atau setara 15,1 hektare.
Sementara itu, unit usaha konstruksi melalui PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) memperoleh kontrak baru senilai Rp2,32 triliun pada 9M26, turun 10,1% dibandingkan Rp2,58 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. NRCA mencatatkan laba bersih Rp133,3 miliar, turun 14,8% secara tahunan.
Di segmen perhotelan, pendapatan meningkat seiring tingkat okupansi yang kuat di Paradisus by Melia Bali serta kenaikan tarif kamar di UMANA Bali. UMANA Bali mencatatkan okupansi 56,7% dengan rata-rata tarif kamar (ARR) Rp10,88 juta, sedangkan Paradisus by Melia Bali membukukan okupansi 65,1% dengan ARR Rp4,04 juta.
Dari sisi posisi keuangan, SSIA mencatatkan total liabilitas sebesar Rp4,61 triliun pada September 2026, meningkat 1,4% dibandingkan Rp4,54 triliun pada Juni 2026. Total aset tercatat sebesar Rp13,23 triliun, naik 1,5% dibandingkan Rp13,03 triliun pada Juni 2026. Sementara itu, ekuitas mencapai Rp5,87 triliun.
Kas dan setara kas Perseroan tercatat Rp928,9 miliar, turun 15% dibandingkan Rp1,09 triliun pada Juni 2026. Penurunan tersebut terutama disebabkan kebutuhan pendanaan untuk akuisisi lahan dan biaya pengembangan lahan di Subang Smartpolitan. Utang berbunga tercatat sebesar Rp2,24 triliun dengan rasio utang terhadap ekuitas sebesar 26%. (end)
Berdasarkan siaran pers Perseroan, Selasa, pertumbuhan pendapatan terutama ditopang segmen properti yang membukukan pendapatan Rp1,48 triliun, meningkat 172,2% dari Rp545 miliar pada 9M25. Segmen perhotelan juga mencatatkan pertumbuhan 161,2% menjadi Rp940,9 miliar dari Rp360,2 miliar.
Sementara itu, segmen konstruksi membukukan pendapatan Rp2,51 triliun, turun 5,4% dibandingkan Rp2,65 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perlambatan tersebut terutama disebabkan penurunan perolehan kontrak baru.
Seiring pertumbuhan pendapatan, laba kotor SSIA meningkat 113,9% menjadi Rp1,58 triliun dari Rp739,3 miliar. EBITDA tercatat sebesar Rp951,5 miliar, melonjak 270,6% dibandingkan Rp256,7 miliar pada 9M25. Margin EBITDA juga meningkat menjadi 19,8% dari 7,7%.
Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp344,4 miliar, meningkat signifikan dibandingkan Rp6,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun laba komprehensif tercatat sebesar Rp326,4 miliar dibandingkan Rp3,8 miliar pada 9M25.
Dari sisi segmen usaha, properti menjadi kontributor utama laba dengan EBITDA Rp601 miliar, diikuti konstruksi sebesar Rp204,9 miliar dan perhotelan Rp201,6 miliar.
Pada segmen properti, SSIA mencatatkan penjualan pemasaran lahan industri seluas 24 hektare melalui PT Suryacipta Swadaya (SCS), meningkat dari 18 hektare pada 9M25. Nilai penjualan pemasaran tersebut mencapai Rp477,9 miliar dibandingkan Rp352,6 miliar. Hingga September 2026, nilai backlog penjualan lahan tercatat Rp292,4 miliar atau setara 15,1 hektare.
Sementara itu, unit usaha konstruksi melalui PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) memperoleh kontrak baru senilai Rp2,32 triliun pada 9M26, turun 10,1% dibandingkan Rp2,58 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. NRCA mencatatkan laba bersih Rp133,3 miliar, turun 14,8% secara tahunan.
Di segmen perhotelan, pendapatan meningkat seiring tingkat okupansi yang kuat di Paradisus by Melia Bali serta kenaikan tarif kamar di UMANA Bali. UMANA Bali mencatatkan okupansi 56,7% dengan rata-rata tarif kamar (ARR) Rp10,88 juta, sedangkan Paradisus by Melia Bali membukukan okupansi 65,1% dengan ARR Rp4,04 juta.
Dari sisi posisi keuangan, SSIA mencatatkan total liabilitas sebesar Rp4,61 triliun pada September 2026, meningkat 1,4% dibandingkan Rp4,54 triliun pada Juni 2026. Total aset tercatat sebesar Rp13,23 triliun, naik 1,5% dibandingkan Rp13,03 triliun pada Juni 2026. Sementara itu, ekuitas mencapai Rp5,87 triliun.
Kas dan setara kas Perseroan tercatat Rp928,9 miliar, turun 15% dibandingkan Rp1,09 triliun pada Juni 2026. Penurunan tersebut terutama disebabkan kebutuhan pendanaan untuk akuisisi lahan dan biaya pengembangan lahan di Subang Smartpolitan. Utang berbunga tercatat sebesar Rp2,24 triliun dengan rasio utang terhadap ekuitas sebesar 26%. (end)

