Kembali
Panin Sekuritas - Trading Idea 8 Oktober 2026
Oleh Tim Riset Panin SekuritasUlasan Pasar
Bursa pada Sesi I. IHSG ditutup melemah -0,80% ke level 6.097,40 pada sesi I, melanjutkan tren pelemahan dengan pola pullback setelah mencatatkan penguatan pada perdagangan dua hari perdana pada pekan ini. Kami mencermati lingkup makroeksternal yang relatif belum akomodatif, termasuk repricing pasar terhadap higher-for-longer suku bunga moneter global yang mendorong penyempitan yield spread aset domestik dan aset benchmark asing. Perkembangan geopolitik pun belum menunjukkan perkembangan yang meaningful, dengan harga minyak brent yang masih bertahan di level USD100/barel. Dari domestik, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan uang primer atau M0 adjusted pada Sep-26 yang melambat signifikan menjadi +9,3% YoY (prev: +16,3% YoY), didorong pertumbuhan giro bank umum di BI sebesar +3,9% YoY (prev: +19% YoY). Perlambatan M0 ini mengindikasikan ekspansi likuiditas domestik oleh BI yang mulai terbatas, sehingga berpotensi positif untuk Rupiah seiring pengetatan likuiditas domestik dapat membatasi supply Rupiah dan meredam tekanan depresiasi di tengah tightening cycle oleh The Fed. Hanya saja, ini memberikan downside risk ke pasar modal.
Bursa Regional. Bursa Asia bergerak melemah seluruhnya sepanjang sesi I. Pasar Singapura dan Filipina mencatatkan pelemahan yang paling signifikan. Kenaikan pasar saham global yang sempat mendekati rekor tertinggi sepanjang masa kembali melemah seiring melonjaknya harga minyak akibat ketegangan baru di Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran akan inflasi. Harga minyak acuan global Brent naik 2% hingga menembus level USD102/barel. Kenaikan harga minyak memperumit prospek ekonomi dengan menambah tekanan inflasi setelah The Fed menaikkan suku bunga bulan lalu, sebuah langkah yang didukung secara bulat oleh para dewan Fed. Saham-saham AS sebagian besar telah mengabaikan kenaikan suku bunga dan harga minyak yang tinggi untuk mencapai rekor, namun musim earnings yang dimulai pekan depan akan menguji apakah capex pada sektor AI-related dapat memberikan imbal hasil yang sepadan.
Indeks sektoral. Indeks sektoral ditutup melemah pada sesi I, kecuali pada sektor transportasi-logistik +0,46% dan konsumer siklikal +0,08%. Keduanya ditopang oleh reli pada emiten BOGA (+22,76%), BLTA (+10,81%), dan FILM (+5,83%). Sektor transportasi-logistik juga tengah dipengaruhi sentimen kenaikan biaya tanker Selat Hormuz-Asia yang kembali mencatatkan all-time high. Di sisi lain, pelemahan terbesar tercatat pada sektor teknologi -1,82% dan energi -1,73% utamanya imbas pelemahan emiten GOTO (-6,67%), CUAN (-6,55%), dan ENRG (-4,72%).
Komoditas & Nilai Tukar. Harga komoditas tercatat mixed, dengan sorotan utama pada kenaikan harga CPO +3,36% dan harga minyak brent +2,21%. Harga minyak brent kembali naik menyusul laporan bahwa Gedung Putih meminta Pentagon untuk menyusun opsi serangan terhadap Iran yang dapat dilaksanakan sebelum pemilihan sela, serta serangan yang dilakukan kelompok Houthiâ??yang didukung Iranâ??terhadap dua bandara di Arab Saudi. Harga CPO naik seiring melemahnya nilai tukar Ringgit dan menguatnya harga minyak mentah yang meningkatkan daya saing CPO. Rupiah menguat tipis ke level Rp17.897/USD.
Nilai Perdagangan. Perdagangan di pasar regular di sepanjang sesi I dengan nilai transaksi sekitar hampir Rp6,0 triliun, lebih tinggi dari transaksi perdagangan Rabu kemarin. Dari nilai transaksi pada sesi 1 didominasi oleh transaksi saham technology, financials, dan consumer non-cyclicals.
Yield SUN. Yield obligasi bergerak mixed, turun pada tenor 5 naik dan flat pada tenor 10 turun seiring penguatan tipis Rupiah.
Rekomendasi Saham
INCO closing 4390 tertinggi 4560, +INDF, pilihan saham-saham dengan frekuensi perdagangan tertinggi untuk scalping (trading cepat)
Full Report
https://pans.id/TradingIdea8Oktober2026
Bursa pada Sesi I. IHSG ditutup melemah -0,80% ke level 6.097,40 pada sesi I, melanjutkan tren pelemahan dengan pola pullback setelah mencatatkan penguatan pada perdagangan dua hari perdana pada pekan ini. Kami mencermati lingkup makroeksternal yang relatif belum akomodatif, termasuk repricing pasar terhadap higher-for-longer suku bunga moneter global yang mendorong penyempitan yield spread aset domestik dan aset benchmark asing. Perkembangan geopolitik pun belum menunjukkan perkembangan yang meaningful, dengan harga minyak brent yang masih bertahan di level USD100/barel. Dari domestik, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan uang primer atau M0 adjusted pada Sep-26 yang melambat signifikan menjadi +9,3% YoY (prev: +16,3% YoY), didorong pertumbuhan giro bank umum di BI sebesar +3,9% YoY (prev: +19% YoY). Perlambatan M0 ini mengindikasikan ekspansi likuiditas domestik oleh BI yang mulai terbatas, sehingga berpotensi positif untuk Rupiah seiring pengetatan likuiditas domestik dapat membatasi supply Rupiah dan meredam tekanan depresiasi di tengah tightening cycle oleh The Fed. Hanya saja, ini memberikan downside risk ke pasar modal.
Bursa Regional. Bursa Asia bergerak melemah seluruhnya sepanjang sesi I. Pasar Singapura dan Filipina mencatatkan pelemahan yang paling signifikan. Kenaikan pasar saham global yang sempat mendekati rekor tertinggi sepanjang masa kembali melemah seiring melonjaknya harga minyak akibat ketegangan baru di Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran akan inflasi. Harga minyak acuan global Brent naik 2% hingga menembus level USD102/barel. Kenaikan harga minyak memperumit prospek ekonomi dengan menambah tekanan inflasi setelah The Fed menaikkan suku bunga bulan lalu, sebuah langkah yang didukung secara bulat oleh para dewan Fed. Saham-saham AS sebagian besar telah mengabaikan kenaikan suku bunga dan harga minyak yang tinggi untuk mencapai rekor, namun musim earnings yang dimulai pekan depan akan menguji apakah capex pada sektor AI-related dapat memberikan imbal hasil yang sepadan.
Indeks sektoral. Indeks sektoral ditutup melemah pada sesi I, kecuali pada sektor transportasi-logistik +0,46% dan konsumer siklikal +0,08%. Keduanya ditopang oleh reli pada emiten BOGA (+22,76%), BLTA (+10,81%), dan FILM (+5,83%). Sektor transportasi-logistik juga tengah dipengaruhi sentimen kenaikan biaya tanker Selat Hormuz-Asia yang kembali mencatatkan all-time high. Di sisi lain, pelemahan terbesar tercatat pada sektor teknologi -1,82% dan energi -1,73% utamanya imbas pelemahan emiten GOTO (-6,67%), CUAN (-6,55%), dan ENRG (-4,72%).
Komoditas & Nilai Tukar. Harga komoditas tercatat mixed, dengan sorotan utama pada kenaikan harga CPO +3,36% dan harga minyak brent +2,21%. Harga minyak brent kembali naik menyusul laporan bahwa Gedung Putih meminta Pentagon untuk menyusun opsi serangan terhadap Iran yang dapat dilaksanakan sebelum pemilihan sela, serta serangan yang dilakukan kelompok Houthiâ??yang didukung Iranâ??terhadap dua bandara di Arab Saudi. Harga CPO naik seiring melemahnya nilai tukar Ringgit dan menguatnya harga minyak mentah yang meningkatkan daya saing CPO. Rupiah menguat tipis ke level Rp17.897/USD.
Nilai Perdagangan. Perdagangan di pasar regular di sepanjang sesi I dengan nilai transaksi sekitar hampir Rp6,0 triliun, lebih tinggi dari transaksi perdagangan Rabu kemarin. Dari nilai transaksi pada sesi 1 didominasi oleh transaksi saham technology, financials, dan consumer non-cyclicals.
Yield SUN. Yield obligasi bergerak mixed, turun pada tenor 5 naik dan flat pada tenor 10 turun seiring penguatan tipis Rupiah.
Rekomendasi Saham
INCO closing 4390 tertinggi 4560, +INDF, pilihan saham-saham dengan frekuensi perdagangan tertinggi untuk scalping (trading cepat)
Full Report
https://pans.id/TradingIdea8Oktober2026

