Fixed Income Weekly Report: Cautious Calm - Muhamm
Oleh Tim Riset Panin SekuritasDi sisi global, eskalasi militer di Timur Tengah dan ketidakpastian politik di Eropa membayangi pasar global seiring pasar yang relatif stabil. Kurva yield UST bergerak turun seiring dengan pricing pasar terhadap FOMC Okt-26 akan rate hold kian menguat serta hasil lelang UST 10-Yr dan 30-Yr yang relatif solid. Adapun juga terdapat kekhawatiran fiskal di Prancis dan tekanan harga energi mendorong yield spread obligasi Prancisâ??Jerman ke level tertinggi sejak krisis utang eropa 2011â??2012, membebani sentimen EUR dan sebaliknya menopang apresiasi USD yang bertahan di level 102 (DXY Index). Di sisi domestik,yield SBN tercatat mixed, dengan penurunan tercatat merata pada short-end seiring dengan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang relatif turun serta base case BI Rate yang more likely tetap rate hold. Selain itu, pasar mencermati realisasi APBN per Sep-26 yang mencatatkan pelebaran defisit menjadi -1,24% PDB dengan indikator fiskal yang masih relatif intact. Tercatat aliran modal asing di pasar fixed income periode 5â??8-Okt-26 dengan total jual neto Rp0,56 triliun (vs beli neto Rp5,34 triliun). Selain itu, pada penutupan Jumat lalu,nilai tukar Rupiahmelemah tipis ke level Rp17.899/USD (vs Rp17.882/USD), posisi yield SBN 10 tahun naik ke 7,21% (vs 7,17%) dan CDS Indonesia turun ke 92,20bps (vs 94,39bps).
Eskalasi militer di Timur Tengah dan ketidakpastian politik di Eropa membayangi pasar global seiring pasar yang relatif stabil.Yield UST bergerak turun di seluruh tenor pekan lalu dengan UST 10Y turun 3,3bps ke 5,24%, didukung lelang UST 10Y dan 30Y pekan lalu yang relatif solid dengan hasil lelang masing-masing 2,77x pada yield 5,30% dan 2,54x pada yield 5,62%. Sejalan dengan itu, market pricing FOMC Okt-26 untuk rate hold meningkat menjadi 82,8% (prev: 77,9%), seiring FOMC Sep-26 Minutes menunjukkan mayoritas pejabat komite Fed masih menilai kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir tahun kemungkinan diperlukan, dengan tetap data-dependent. Di sisi lain, kekhawatiran fiskal di Prancis dan tekanan harga energi memperlebar yield spread obligasi Prancisâ??Jerman ke level tertinggi sejak krisis utang eropa 2011â??2012, membebani sentimen terhadap EUR dan sebaliknya menopang apresiasi USD yang bertahan di level 102 (DXY Index). Sementara itu, harga minyak relatif stabil secara mingguan namun masih di atas USD100/barel, di tengah perkembangan pasokan diesel dari Rusia dan serangan terhadap bandara utama Arab Saudi oleh militan Houthi yang didukung Iran. Ke depan, rilis inflasi CPI AS Sep-26 menjadi fokus pasar, dengan peluang inflasi yang kembali meningkat berpotensi menggeser ekspektasi suku bunga The Fed ke arah higher-for-longer.
Yield SBN cenderung mixed seiring rilis data defisit APBN Sep-26 yang melebar dan peluang BI-Rate kembali hold bulan ini. Yield SBN tercatat mixed, dengan penurunan tercatat merata pada short-end seiring dengan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang relatif turun serta base case BI Rate yang more likely melanjutkan rate hold dan kembali mengintensifikasi insentif hedging untuk modal asing. Inflasi yang masih relatif terkendali di rentang target BI serta neraca dagang yang better-than-expected menjadi katalis makro pendukung untuk BI-Rate akan hold. Perkembangan domestik lainnya datang darirealisasi APBN per Sep-26 mencatatkan pelebaran defisit menjadi -1,24% PDB (prev: -0,93% PDB) terutama karena percepatan realisasi belanja negara. Kami memandang indikator fiskal masih intact, mencakup defisit yang relatif kecil dari tahun lalu, rasio beban bunga utang terhadap penerimaan yang relatif terkendali, dan keseimbangan primer yang tetap surplus. Tercatat aliran modal asing di pasar fixed income periode 5â??8-Okt-26 dengan total jual neto Rp0,56 triliun (vs beli neto Rp5,34 triliun) dengan perincian yakni: net inflow Rp0,18 triliun pada pasar SBN dan net outflow Rp0,74 triliun di pasar SRBI. Selain itu, pada penutupan pekan lalu, nilai tukar Rupiah melemah tipis ke level Rp17.899/USD (vs Rp17.882/USD), posisi yield SBN 10 tahun naik ke 7,21% (vs 7,17%) dan CDS Indonesia turun ke 92,20bps (vs 94,39bps).
Sementara itu berita dari surat utang dalam negeri lainnya sebagai berikut:
- â� Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah melaksanakan lelang SBN pada 6-Okt-26 lalu, dengan rasio bid-to-cover sebesar 3,26x, total bid sebesar Rp32,62 triliun dan total cover sebesar Rp10 triliun (bid-to-cover. prev: 1,49x; akumulatif YtD: 1,98x).
- â� PT Danareksa (Persero) mendapatkan rating downgrade dari idAA menjadi idA+ oleh Pefindo pada 8-Okt-26. Rating action mencerminkan asesmen atas potensi tingkat dukungan pemerintah yang lebih rendah menyusul transformasi signifikan Danareksa dari perusahaan induk lintas sektor (jasa keuangan, konstruksi, kawasan industri, dan lainnya) menjadi perusahaan induk kawasan industri.
- â� PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) mendapatkan rating downgrade dari idB menjadi idCCC w/ status CreditWatch with Negative Implications oleh Pefindo pada 6-Okt-26. Rating action tersebut merespons ketidakmampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban kupon pada SR Bond III Tahap I 2021 Seri B dan SR Mudharabah Sukuk I Tahap I 2021 Seri B senilai Rp17,06 miliar yang jatuh tempo pada 2-Okt-26.
- â� PT OKI Pulp & Paper Mills tengah melakukan penawaran awal Obligasi Berkelanjutan II Tahap VI Tahun 2026 dengan target indikatif Rp3 triliun dan rating idA+ oleh Pefindo. Obligasi ini terdiri dari 2 seri, yaitu seri A (3 tahun, 9,50%â??10,00%/p.a.) dan seri B (5 tahun, 10,00%â??10,50%/p.a.). Masa bookbuilding akan berlangsung pada 7â??22-Okt-26.
Full Report: pans.id/WeeklyFixedIncome_12-Okt-26

