Company Update: BRIS (NOT RATED): Bridging the Sha
Oleh Tim Riset Panin SekuritasPT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) merupakan bank syariah terbesar di Indonesia dengan total aset sebesar Rp464,5 triliun dan modal inti mencapai Rp45,9 triliun hingga 6M26. BSI mencatatkan pembiayaan tumbuh sebesar Rp340 triliun (+15,98% YoY), dengan kontribusi terbesar berasal dari segmen consumer yaitu ~55,7% dari total pembiayaan atau Rp189 triliun (+2,71% QoQ; +16,7% YoY), serta DPK tumbuh positif sebesar Rp393 triliun (+4,4% QoQ; +21,8% YoY). Selain itu, BSI berencana melakukan right issue sebanyak 6,8 miliar saham baru. Saat ini, BRIS diperdagangkan di PB 1,24x (peers: 1,25x).
Pelemahan NIM menekan laba. BRIS mencatatkan laba bersih di 2Q26 sebesar Rp1,9 triliun (-11,1% QoQ; +5,0% YoY) setara dengan laba bersih sebesar Rp4,1 triliun di 6M26 (+11,1% YoY). Kinerja melemah kuartalan, tercermin dari NII yang menurun menjadi Rp4,7 triliun ( -4,9% QoQ; -7,4% YoY) seiring dengan NIM yang menurun ke level 5,42% (1Q26: 5,59%; 2Q25: 5,73%) yang masih berada di bawah guidance FY26 manajemen sebesar >5,50%. Namun, performa secara tahunan bahwa operating income pada 6M26 meningkat menjadi Rp13,7 triliun (+10,5% YoY) seiring meningkatnya fee-based income menjadi Rp4 triliun (+38,15% YoY) terutama besarnya kontribusi bisnis emas. Selain itu, PPoP tercatat menurun secara kuartalan menjadi Rp3 triliun (-13,7% QoQ; -4,6% YoY) seiring dengan CIR yang meningkat ke level 52,71% per Jun-26 (Mar-26: 50,46%; Jun-25: 49,37%) terutama karena besarnya beban depresiasi IT.
Pertumbuhan pembiayaan positif. Perseroan mencatatkan pembiayaan meningkat double-digit di 6M26 menjadi Rp340 triliun (+15,98% YoY), in-line dengan guidance FY26 14,00% - 16,00%. Segmen consumer menjadi kontributor terbesar sebesar Rp189 triliun (+2,71% QoQ; +16,7% YoY) atau ~55,7% dari total pembiayaan, didorong oleh bisnis emas yang tumbuh signifikan menjadi Rp30 triliun (+5,68% QoQ; +80,52% YoY) dan pembiayaan berbasis payroll (gaji) menjadi Rp72 triliun (+3,38% QoQ; +15,30% YoY), sementara KPR relatif flat sebesar Rp189 triliun (+2,71% QoQ; +3,83% YoY) ditengah kenaikan suku bunga +100bps di 2Q26. Di sisi lain, pembiayaan wholesale tumbuh menjadi Rp95 triliun (+4,65% QoQ; +16,62% YoY), ditopang segmen corporate sebesar Rp75 triliun (+5,22% QoQ; +21,13% YoY), sementara commercial relatif flat sebesar Rp19 triliun (+2,49%; +1,87% YoY). Adapun juga, pembiayaan UMKM yang berkontribusi 16,4% dari total pembiayaan tetap tumbuh double-digit menjadi Rp55,8 triliun (+4,36% QoQ; +12,58% YoY).
DPK konsisten tumbuh. Perseroan mencatatkan pendanaan yang relatif konsisten tumbuh menjadi Rp393 triliun per Jun-26 (+4,4% QoQ; +21,8% YoY), namun faktor likuiditas yang kian mengetat mendorong perseroan meningkatkan mencari dana yang lebih mahal. Hal ini tercermin dari CASA Ratio yang menurun ke level 60,6% di 2Q26 (1Q26: 62,7%; 2Q25: 61,8%) terefleksi pada pesatnya pertumbuhan time deposit (TD) per Jun-26 menjadi Rp155 triliun (+10,3% QoQ; +25,6% YoY), sementara kontribusi CASA tetap tumbuh sebesar Rp238 triliun (+0,9% QoQ; +19,5% YoY) namun tidak semasif TD, sehingga mendorong cost of fund yang relatif meningkat menjadi 2,19% per Jun-26 (Jun-25: 2,12%).
Asset quality kian solid. Perseroan mencatatkan gross NPF yang konsisten membaik hingga 2Q26 ke level 1,80% (2Q25: 1,87%). Di sisi lain, cash coverage berada pada posisi yang kian tebal sebesar 245,3% sehingga memberikan kapasitas penyerapan risiko yang kuat dalam mengantisipasi potensi pemburukan kualitas pembiayaan. Perbaikan ini tercermin dari CoC yang mulai melandai ke level 0,62% di 2Q26 (2Q25: 0,95%) mengindikasikan efisiensi pada beban provisi. Sementara itu, rasio CAR mengalami koreksi tipis ke level 20,4% di 2Q26 (2Q25: 21,4%), namun tingkat permodalan masih relatif sehat dan jauh di atas ketentuan minimum regulator.
Bisnis emas dorong fee-based income. Perseroan memiliki 3 produk utama bisnis emas, yaitu Cicil Emas, Gadai Emas, dan Emas Digital. Pembiayaan bisnis emas meningkat pada produk cicil emas menjadi Rp17 triliun (+2,99% QoQ; +87,01% YoY) dan gadai emas menjadi Rp13,5 triliun (+9,27% QoQ; +72,96% YoY), sehingga bisnis emas mencatatkan kontribusi fee-based income yang konsisten meningkat menjadi 32,22% (6M25: 23,12%; 2025: 28,14%; 2024: 17,58%). Kenaikan FBI terakselerasi atas (1) FBI gadai emas sebesar Rp1 triliun (+56% YoY) in-line dengan jumlah nasabah aktif mencapai 209 ribu (+28,8% YoY) dan (2) FBI emas digital berkontribusi Rp303 miliar (6M25: Rp35 miliar) didukung jumlah nasabah yang mencapai 1,2 juta (+700% YoY).
Whatâ??s Next? (1) Perseroan berencana melakukan right issue dengan menerbitkan 6,8 miliar saham baru yang ditargetkan rampung pada 1Q27, seiring free float masih ~9,9%, sehingga in-line dengan ketentuan terbaru bursa yang mensyaratkan free float minimum 12,5% bagi emiten dengan total market cap >Rp5 triliun paling lambat 1Q27, dimana penggunaan dana akan digunakan untuk memperkuat modal inti dan penyaluran pembiayaan. (2) Pembukaan rekening bagi WNI berusia 17 tahun, khususnya di Aceh, dengan setoran awal sebesar Rp50 ribu diperkirakan belum berdampak material terhadap customer base BSI dalam jangka pendek, namun dengan basis nasabah yang besar tetap memberikan ruang untuk meningkatkan monetisasi melalui peningkatan transaksi dan penetrasi produk.
Kami memandang POSITIF untuk perseroan karena: (1) pembiayaan tumbuh Rp340 triliun (+15,98% YoY) in-line guidance FY26 14,00% - 16,00%. (2) Asset quality solid, dengan gross NPF konsisten membaik di 2Q26 ke level 1,80% (2Q25: 1,87%), (3) kontribusi fee-based income konsisten meningkat didorong tumbuhnya bisnis emas, (4) Rencana right issue sebanyak 6,8 miliar berpotensi meningkatkan free float (saat ini: ~9,9%), in-line dengan regulasi bursa yang mensyaratkan minimum 12,5% pada 1Q27. Namun, downside-risk atas CASA Ratio yang menurun ke level 60,6% di 2Q26 (1Q26: 62,7%; 2Q25: 61,8%) seiring likuiditas yang kian mengetat, sehingga meningkatkan cost of fund per Jun-26 ke level 2,19% (Jun-25: 2,12%) yang membuat NIM tertekan ke level 5,42% (1Q26: 5,59%; 2Q25: 5,73%) yang masih berada di bawah guidance FY26 sebesar >5,50%. Saat ini, BRIS diperdagangkan pada PB 1,24x (peers: 1,25x).
Full Report:
https://pans.id/CompanyUpdate_BRIS_2026

