Kembali
Fixed Income Weekly Report: Stressed but Still Int
Oleh Tim Riset Panin SekuritasDi sisi global, reli pasar UST seiring rotasi flight-to-safety yang sempat diawali aksi jual signifikan setelah rilis data CPI AS.Yield UST 10-Yr sempat melonjak hingga 5,30% pasca rilis data Core CPI AS Sep-26 yang hotter-than-expected, yakni +2,6% YoY (prev: +2,4%; cons: +2,5%), sebelum akhirnya mencatatkan reli pasar dengan yield 10-Yr berbalik turun hingga ke 5,07%. Di sisi domestik,confidence shock dari anjloknya pasar saham merambat ke Rupiah dan SBN. Namun, kami menilai dampak langsung terhadap SBN berpotensi tetap terbatas karena klasifikasi MSCI tidak menentukan kelayakan Indonesia dalam indeks obligasi global serta tingkat kedalaman pasar domestik sebagai buffer pasar SBN terhadap aksi jual asing. Tercatat aliran modal asing di pasar fixed income periode 12â??15-Okt-26 dengan total beli neto Rp13,9 triliun (vs jual neto Rp0,42 triliun). Selain itu, pada penutupan Jumat lalu,nilai tukar Rupiah melemah ke level Rp18.027/USD (vs Rp17.899/USD), posisi yield SBN 10 tahun naik ke 7,45% (vs 7,21%) dan CDS Indonesia naik ke 97,54bps (vs 92,20bps).
Reli pasar UST seiring rotasi flight-to-safety yang sempat diawali aksi jual signifikan setelah rilis data CPI AS.Yield UST 10-Yr sempat melonjak hingga 5,30% pasca rilis Core CPI AS Sep-26 yang hotter-than-expected, yakni +2,6% YoY (prev: +2,4%; cons: +2,5%), sebelum akhirnya mencatatkan reli pasar dengan yield 10-Yr berbalik turun tajam hingga ke 5,07%. Kami menilai level yield UST memang mulai menawarkan valuasi yang menarik untuk akumulasi di tengah potensi inflection point tren inflasi AS. Pembalikan ini juga mengindikasikan bahwa pasar belum sepenuhnya meyakini satu rilis inflasi cukup untuk mendorong pengetatan tambahan The Fed dari base case pasar yang saat ini melihat satu kali rate hike lagi oleh The Fed pada FOMC Dec-26. Kami juga mencermati lonjakan yield justru memicu koreksi tajam di pasar saham AS seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap valuasi emiten terkait AI hingga mendorong rotasi flight-to-safety dari pasar saham ke pasar UST. Ke depan, volatilitas diperkirakan masih berlanjut di tengah eskalasi militer Timur Tengah, ketidakpastian politik Prancis, serta dinamika menjelang midterm election AS. Namun, UST berpotensi kembali berperan sebagai defensive asset apabila sentimen risiko memburuk, terutama ketika level yield yang tinggi mulai menarik minat beli.
Panic selling pada pasar saham memicu sentiment spillover terhadap pasar SBN, walau direct impact-nya terbatas. Confidence shock dari pasar saham merambat ke Rupiah dan SBN. MSCI membuka konsultasi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada Jumâ??at (16/10), mendorong IHSG anjlok -11,57%, koreksi terbesar kedua sepanjang sejarah. Shock tersebut meningkatkan persepsi risiko sovereign dan memicu sell-off tajam pada pasar SBN, yang dimana pada hari Jumat (16/10) saja, yield 5-Yr melonjak +22bps ke 7,30% dan 10-Yr naik +20bps ke 7,45%. Namun, kami menilai dampak langsung terhadap SBN berpotensi tetap terbatas karena klasifikasi MSCI tidak menentukan kelayakan Indonesia dalam indeks obligasi global seperti J.P. Morgan GBI-EM, sementara dominasi investor domestik (â�?87% dari total outstanding value) dapat menjadi buffer terhadap tekanan jual asing. Dengan demikian, risiko jangka pendek lebih terkonsentrasi pada peningkatan volatilitas pasar dan spillover ke Rupiah ketimbang repricing struktural SBN. Buffer eksternal masih relatif terjaga, dengan cadev setara 5,3 bulan impor per Sep-26 dan defisit fiskal yang diperkirakan sekitar -2,9% PDB pada tahun ini. Di sisi lain, front-end SBN relatif anchored, seiring ruang BI Rate untuk hold pada RDG Okt-26 pekan ini masih terbuka seiring inflasi masih di bawah batas atas target +3,5% YoY dan surplus neraca dagang per Aug-26 yang membaik. Namun, risiko rate hike tetap terbuka apabila BI menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk membantu memulihkan kepercayaan pasar melalui yield yang lebih atraktif. Tercatat aliran modal asing di pasar fixed income periode 12â??15-Okt-26 dengan total beli neto Rp13,9 triliun (vs jual neto Rp0,42 triliun) dengan perincian yakni: net inflow Rp9,21 triliun pada pasar SBN dan net inflow Rp4,69 triliun di pasar SRBI. Selain itu, pada penutupan pekan lalu, nilai tukar Rupiah melemah ke level Rp18.027/USD (vs Rp17.899/USD), posisi yield SBN 10 tahun naik ke 7,45% (vs 7,21%) dan CDS Indonesia naik ke 97,54bps (vs 92,20bps).
Sementara itu berita dari surat utang dalam negeri lainnya sebagai berikut:
â� Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah melaksanakan lelang SBN pada 13-Okt-26 lalu, dengan rasio bid-to-cover sebesar 1,85x, total bid sebesar Rp64,86 triliun dan total cover sebesar Rp35 triliun (bid-to-cover. prev: 3,26x; akumulatif YtD: 1,97x).
â� PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) telah melunasi Obligasi USD Berkelanjutan II Tahap IV Tahun 2025 Seri A senilai USD5,820,000 dan Obligasi USD Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2023 Seri A senilai USD1,495,000. Keduanya dilunasi pada 12-Okt-26
â� PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) berencana melunasi dua surat utang matured pada 8-Des-26, termasuk Obligasi Berkelanjutan II Tahap II Tahun 2021 Seri C senilai Rp338,34 miliar dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2021 Seri C senilai Rp247,09 miliar, dengan menggunakan kombinasi sumber pendanaan, yang terdiri dari dana hasil issue Obligasi Berkelanjutan VI Tahap III Tahun 2026 senilai total Rp2 triliun, kemungkinan hasil issue Obligasi Berkelanjutan VI Tahap IV Tahun 2026, serta kas internal setara dengan nilai sekitar USD726,7 juta pada akhir Jun-26.

