Kembali
Result Update: BIRD (BUY - TP: Rp2.200): Welcoming
Oleh Tim Riset Panin SekuritasBIRD membukukan kinerja positif dengan pendapatan yang in-line, didorong ekspansi armada Taksi serta pertumbuhan Shuttle dan Bigbird, namun laba bersih tercatat di bawah estimasi kami seiring tekanan margin di tengah kenaikan OPEX karena meningkatnya insentif untuk driver. Ke depan, Bluebird Prime berpotensi menjadi katalis positif untuk peningkatan ARPV, didukung optimalisasi aset, ekspansi armada, serta pertumbuhan segmen Non-Taksi. Kami tetap mempertahankan rekomendasi BUY dengan TP Rp2.200 (implied EV/EBITDA 4,54x di 2027F) dari sebelumnya Rp2.100 seiring rollover valuasi ke 2027, dengan prospek pertumbuhan didukung ekspansi bisnis dan potensi perbaikan core profitability melalui cost discipline.
Sekilas performa 2Q. BIRD membukukan pendapatan sebesar Rp1,52 triliun di 2Q26 (+4,6% QoQ; +11% YoY) setara Rp2,97 triliun di 1H26 (+11,3% YoY) in-line (PANS: 46,2%; Cons: 45,9%; Avg: 46,1%). Kinerja 2Q ditopang oleh segmen Taksi (kontribusi: 69,2%) yang mencatat pendapatan sebesar Rp1,05 triliun (+3% QoQ; +10,9% YoY) atau setara Rp2,07 triliun di 1H26 (+11,4% YoY) seiring meningkatnya avg. operating fleet, utamanya di luar Greater Jakarta, di tengah peremajaan armada, menjadi 14.430 unit pada 1H26 (+10,6% YoY) dengan utilisasi yang relatif stabil di 80,6% (1H25: 80,4%). Sementara itu, rata-rata pendapatan per armada (ARPV) tercatat sekitar Rp718 ribu di 1H26 (+1,3% YoY), sedikit melambat seiring working days yang lebih sedikit di Mei-26. Sementara itu, segmen Non-Taksi membukukan pendapatan sebesar Rp493 miliar pada 2Q26 (+8,9% QoQ; +10,9% YoY) atau setara Rp946 miliar pada 1H26 (+10,1% YoY) tumbuh didorong oleh Shuttle yang menjadi fastest-growing business seiring peningkatan ketersediaan armada, optimalisasi rute, serta demand yang meningkat selama Libur Sekolah menjelang Jun-26. Di sisi lain, Bigbird tetap resilien ditopang meningkatnya demand dari korporasi.
Laba bersih menjadi perhatian. GPM tercatat di level 31,1% di 2Q26 (1Q26: 30,6%), naik seiring pertumbuhan revenue yang lebih tinggi daripada direct cost, meski secara kumulatif di 1H26, GPM tertekan ke level 30,9% (1H25: 33,2%) akibat meningkatnya beban operasional menjadi Rp1,49 triliun di 1H26 (+11,4% YoY) didorong insentif driver yang meningkat di tengah persaingan ride hailing yang semakin kompetitif, adapun insentif tsb diupayakan untuk menjaga availability driver BIRD. Di sisi lain, kami melihat OPEX tumbuh sekitar +14,7% YoY di 1H26, melebihi revenue growth, akibat adanya peningkatan beban renumerasi menjadi Rp276,4 miliar di 1H26 (+13,2% YoY), sehingga OPM tercatat di level 10,8% di 1H26 (1H25: 13,6%). Adapun laba pelepasan aset yang sebesar Rp91,4 miliar di 1H26 (+41,9% YoY) kami nilai belum mampu menopang laba bersih secara keseluruhan, sehingga laba bersih tercatat sebesar Rp165 miliar di 2Q26 (+6,2% QoQ; -2,9% YoY) atau setara Rp320,5 miliar di 1H26 (-4,4% YoY) di bawah estimasi kami, in-line dengan konsensus (PANS: 42,8%; Cons: 46,3%; Avg. 5yrs: 49,2%).
Bluebird Prime is coming. Posisi Bluebird Prime berada di antara taksi Regular dan Silverbird, dengan ruang kabin yang lebih luas dan tarif yang lebih terjangkau dibandingkan Silverbird. Saat ini Bluebird Prime baru beroperasi di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Bali dengan menggunakan armada Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid EV dan BYD E6. Kami menilai, peluncuran ini berpotensi meningkatkan ARPV segmen Taksi ke depan, adapun sejak peluncurannya di pertengahan Jul-26, Bluebird Prime mencatat rata-rata pendapatan per armada (ARPV) sebesar Rp797 ribu per hari, didukung total armada Prime sebanyak ~754 unit dengan avg. operating fleet ~712 unit per hari (utilisasi: 94,4%; di atas guidance 85-87%). Mengingat Bluebird Prime baru beroperasi sejak pertengahan Jul-26, kami mengestimasikan kontribusi ~2% terhadap total pendapatan segmen Taksi di 26F (estimasi beroperasi ~168 hari sejak launching), adapun segmen Taksi kami proyeksikan tumbuh +7,5%/+12,7% YoY di 26/27F, sementara segmen Non-Taksi diproyeksikan tumbuh sekitar +9% YoY di 26/27F.
Strategi dan prospek 26F. Ke depan, kami melihat fokus manajemen ada pada scale-up Bluebird Prime yang berpotensi meningkatkan ARPV sekaligus sebagai bentuk diversifikasi segmen Taksi, didukung optimalisasi aset existing ke segmen dengan utilisasi yang lebih tinggi. Di sisi lain, optimalisasi MyBluebird juga menjadi concern untuk tetap menjaga market GoldenBird yang tengah melambat, diikuti dengan cost dicipline di tengah meningkatnya kompetisi ride-hailing yang kami nilai berpotensi berpotensi membawa perbaikan pada perbaikan core profit, sehingga earnings growth ke depan tidak bergantung lagi pada disposal aset
Rekomendasi BUY dengan TP Rp2.200. Ke depannya, BIRD tetap fokus pada ekspansi armada, peningkatan utilisasi, hingga diversifikasi layanan (include Bluebird Prime). Adapun kami memproyeksikan top-line tumbuh +9,5%/11,5% YoY di 26/27F, diikuti bottom-line tumbuh +2%/+4,7% YoY di 26/27F, didorong: 1) pertumbuhan segmen Taksi seiring ekspansi armada, serta potensi positif dari kontribusi Bluebird Prime terhadap peningkatan ARPV, 2) Potensi positif dari bisnis Shuttle dan Bigbird corporate yang kemudian menopang segmen Non-Taksi, serta 3) peremajaan armada. Oleh karena itu, kami tetap merekomendasikan BUY dengan penyesuaian target harga menjadi Rp2.200 (implied EV/EBITDA 4,54x di 2027F) dari sebelumnya Rp2.100 seiring rollover valuasi ke 2027.
Full Report: https://pans.id/ResultUpdateBIRD_2Q26

