Kembali
Result Snapshot: BMRI (BUY - TP: Rp5.000): Better
Oleh Tim Riset Panin SekuritasIncome statement: BMRI mencatatkan laba bersih Rp15,1 triliun di 3Q26 (+0,6% QoQ; +13,9% YoY) setara dengan laba bersih Rp45,5 triliun di 9M26 (+20,7% YoY), relatif in-line (PANS: 80,1%; Cons: 79,6%). Patut dicermati, loan yield naik 12bps QoQ ke 7,03%, setelah sebelumnya mencatatkan penurunan, didorong oleh inisiatif repricing. Namun, funding cost masih naik 30bps QoQ ke 2,3%, karena meningkatnya deposito. Perseroan melakukan beberapa inisiatif, yang salah satunya adalah mendorong CASA dan mengurangi ketergantungan terhadap deposito special rate. Sementara itu, recurring fee income naik +42% YoY, didorong oleh transaksi digital dari Livin. Kami melihat positif penurunan beban operasi, dimana CIR turun ke 38% di 9M26 (9M25: 43,8%) dan perseroan merevisi turun CIR ke 37-39% (sebelumnya: 39-41%).
Loan & Funding: Kredit tumbuh ke Rp1.694 triliun di Sep-26 (+1% QoQ; +15,4% YoY) dengan kredit ritel hanya tumbuh +4,3% YoY di Sep-26, karena kebijakan yang lebih selective. Sementara itu kredit SME (+11,2% YoY) dan mortgage (+8,6% YoY) menginformasikan perbaikan awal. Namun patut dicermati, kredit otomotif masih lemah. DPK meningkat ke Rp1.750 triliun pada Sep-26 (+2,4% QoQ; +17,7% YoY) namun CASA retail terus menunjukan pertumbuhan, sebesar Rp633 triliun di Sep-26 (+13,6% YoY) ytd funding cost turun ke 0,42% (Sep-25: 0,62%) yang membawa LDR stabil di 91,2%.
Kualitas kredit (NPL): LAR mengalami kenaikan ke 6,76% pada Sep-26 (Jun-26: 5,83%) karena adanya restrukturisasi kredit. Manajemen menginformasikan untuk 2 kredit konstruksi BUMN yaitu PTPP dan ADHI, pencadangan saat ini sudah mencapai Rp13-14 triliun dan angka 10-15% sudah cukup memadai untuk pencadangan setelah restrukturisasi.
Rekomendasi: Kami masih merekomendasikan BUY namun menurunkan target harga ke Rp5.000 (implied PB 1,6x di 2027F) karena meningkatnya premi risiko Indonesia, seiring potensi downgrade ke stand-alone market dan perseroan masuk dalam kategori global standard index. Namun beberapa hal positif: (1) potensi perbaikan NIM di 4Q26, serta (2) rasio dividen yang masih tinggi di 70-80%.

