Fixed Income Weekly Report: More Throttle, Firmer
Oleh Tim Riset Panin SekuritasDi sisi global, reli pasar UST berlanjut, terutama di tenor long-end, seiring rotasi flight-to-safety yang dipicu oleh rilis data yang menunjukkan ekspektasi pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi AS yang melambat. Kini, yield UST 10-Yr telah turun ke bawah 5,0%. Di sisi lain, tenor short-end masih anchored oleh ekspektasi pengetatan lanjutan The Fed hingga akhir tahun 2026. Di sisi domestik, yield SBN relatif mixed sepanjang tenor seiring dengan keputusan BI yang kembali menahan BI-Rate di 5,75% pada RDG Okt-26 pekan lalu.BI kembali memperluas bauran kebijakannya, dengan kombinasi terkini mencerminkan upaya BI untuk memperluas kapasitas likuiditas sektor perbankan demi menjaga momentum pertumbuhan kredit sembari menjaga suku bunga pasar uang tetap atraktif untuk membatasi tekanan depresiasi Rupiah. Tercatat aliran modal asing di pasar fixed incomeperiode 19â??22-Okt-26 dengan total jual neto Rp12,3 triliun (vs beli neto Rp13,7 triliun). Selain itu, pada penutupan Jumat lalu, nilai tukar Rupiah flat di level Rp18.080/USD (vs Rp18.027/USD), posisi yield SBN 10 tahun turun ke 7,43% (vs 7,45%) dan CDS Indonesia naik ke 105,88bps (vs 97,54bps).
Kurva yield UST cenderung flattening seiring reli long-end akibat flight-to-safety, sementara ekspektasi higher-for-longer The Fed menahan short-end. Reli pasar UST berlanjut pekan lalu seiring koreksi pasar saham AS. Yield UST 10-Yr tercatat turun hingga di bawah level 5%. Sentimen pasar tengahtertuju pada tekanan terhadap prospek pertumbuhan AS yang mulai terlihat dari sektor perumahan, dengan housing starts Sep-26 turun -5,2% MoM (prev: -5,9% MoM) dan pending home sales melambat -7,3% MoM ke level terendah sepanjang sejarah. Pelemahan tersebut mendorong penurunan long-end yield UST, terutama melalui penurunan real yield yang mencerminkan moderasi ekspektasi pertumbuhan, sementara short-end masih tertahan relatif tinggi oleh ekspektasi pengetatan lanjutan The Fed. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap valuasi emiten terkait AI dan ketidakpastian menjelang midterm election AS pada3-Nov-26 turut membayangi risk appetite. Ke depan, perhatian pasar tertuju pada FOMC Okt-26, dengan base case The Fed mempertahankan suku bunga untuk mengevaluasi dampak pengetatan sebelumnya terhadap kondisi keuangan. Meski demikian, harga energi yang masih tinggi berpotensi menjaga tekanan inflasi dan membatasi ruang penurunan short-end yield, sehingga kecenderungan flattening kurva UST masih dapat berlanjut.
Panic selling pada pasar saham memicu sentiment spillover terhadap pasar SBN, walau direct impact-nya terbatas. Yield SBN bergerak mixed seiring dengan keputusan RDG BI Okt-26 pada pekan lalu. BI kembali mempertahankan BI-Rate di 5,75% sembari memperluas bauran kebijakan pro-growth melalui penurunan GWM perbankan sebesar 200bps secara bertahap dan penyesuaian insentif KLM menjadi 5%, dengan potensi total tambahan likuiditas sekitar Rp190 triliun. Namun, pelonggaran tersebut diimbangi kenaikan Deposit Facility Rate sebesar 25bps menjadi 5,0% serta tambahan kembali untuk insentif FX hedging via DNDF. Kami menilai kombinasi ini mencerminkan upaya BI memperluas kapasitas likuiditas sektor perbankan demi menjaga momentum pertumbuhan kredit sembari menjaga suku bunga pasar uang tetap atraktif untuk membatasi tekanan depresiasi Rupiah. Kami melihat short-end SBN akan berpotensi relatif anchored terhadap BI-Rate yang terus ditahan, meski risiko tren depresiasi Rupiah yang berlanjut dapat memicu upaya BI untuk menarik foreign portfolio inflow via kenaikan yield SRBI. Sementara itu, long-end masih dibayangi kenaikan risk premium, termasuk rapuhnya sentimen pasar keuangan imbas shock di pasar saham dan percepatan belanja fiskal pada 4Q26 di tengah harga minyak yang masih tinggi. Tercatat aliran modal asing di pasar fixed income periode 19â??22-Okt-26 dengan total jual neto Rp12,3 triliun (vs beli neto Rp13,7 triliun) dengan perincian yakni: net outflow Rp5,74 triliun pada pasar SBN dan net outflow Rp6,54 triliun di pasar SRBI. Selain itu, pada penutupan pekan lalu, nilai tukar Rupiah flat di level Rp18.080/USD (vs Rp18.027/USD), posisi yield SBN 10 tahun turun ke 7,43% (vs 7,45%) dan CDS Indonesia naik ke 105,88bps (vs 97,54bps).
Sementara itu berita dari surat utang dalam negeri lainnya sebagai berikut:
- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah melaksanakan lelang SBN pada 27-Okt-26 lalu, dengan rasio bid-to-cover sebesar 1,51x, total bid sebesar Rp31,09 triliun dan total cover sebesar Rp20 triliun. Sebagai catatan, awarded bid lebih rendah dari target indikatif yang sebesar Rp30 triliun (bid-to-cover. prev: 2,28x; akumulatif YtD: 1,92x).
- PT Pos Indonesia tercatat gagal menyelesaikan pembayaran kupon yang terlewat dalam masa tenggang pembayaran kupon atas Obligasi I Tahun 2022 Seri B (tenor 5-Yr, kupon 11,75%) per jatuh tempo 28-Sep-26 tidak dilakukan. Fitch Ratings melakukan rating downgrade terhadap obligasi tersebut dari C menjadi D (Default). Sebagai catatan, perseroan sudah mengalami corporate rating downgrade ke RD per 18-Sep-26.
- PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mendapatkan penetapan peringkat idAA dengan outlook stabil dari Pefindo. Rating tersebut mencerminkan potensi dukungan yang sangat tinggi dari induk usaha (MIND ID), posisi bisnis yang kuat, serta profil keuangan yang sangat kokoh. Kendari demikian, rating dapat diturunkan jika perusahaan mengambil utang lebih tinggi dari perkiraan untuk belanja modal tanpa diimbangi peningkatan kinerja atau bila terdapat indikasi melemahnya dukungan induk.
Full Report: pans.id/WeeklyFixedIncome_27-Okt-26

