Result Snapshot: BBNI (BUY - TP: Rp4.200): Earning
Oleh Tim Riset Panin SekuritasIncome statement: BBNI mencatatkan laba bersih Rp5,4 triliun di 3Q26 (+5,2% QoQ; +6,7% YoY) in-line (PANS: 78,5%; Cons: 76,5%). NIM mengalami penurunan ke 3,3% pada 3Q26 (2Q26: 3,6%) ditengah kenaikan loan yield ke 7,1% pada 3Q26 (2Q26: 6,9%) disebabkan oleh meningkatnya funding cost ke 3,2% pada 3Q26 (2Q26: 2,6%). Manajemen menginformasikan ada ruang perbaikan NIM di 4Q26, didorong oleh likuiditas yang membaik serta relaksasi GWM. Patut dicermati, cost to income ratio perseroan meningkat ke 48,2% (2Q26: 45,6%). Saat ini perseroan masih menjaga guidance net interest margin di 3,3-3,5%.
Loan: Kredit tumbuh ke Rp993 triliun di Sep-26 (+2,5% QoQ; +22,2% YoY) didorong oleh segmen wholesale yang tumbuh ke Rp674 triliun (+2,7% QoQ; +30,3% YoY) didorong oleh Agrinas, electricity, telco dan juga operator airport. Sementara itu, natural resources juga tumbuh signifikan (+54,4% YoY) dengan kualitas aset yang stabil. Untuk eksposur PTPP dan ADHI saat ini tercatat sebesar Rp2,9 triliun dengan coverage di 14%. Perseroan merevisi naik pertumbuhan kredit ke 10-13% (sebelumnya: 8-10%).
Dana pihak ketiga (DPK): DPK tercatat meningkat ke Rp1.124 triliun pada Sep-26 (+2,2% QoQ; +20,4% YoY) dengan komposisi dana murah stabil di 65,3%. Patut dicermati bahwa, devisi hasil ekspor memberi kontribusi yang signifikan, tercatat sebesar Rp25 triliun (+58% YoY). Patut dicermati bahwa funding cost untuk deposito naik signifikan ke 5,4% (2Q26: 4,3%) ditengah ketatnya likuiditas.
Kualitas kredit (NPL): Kualitas aset membaik dengan LAR turun ke 7,8% (2025: 8,1%) dengan NPL stabil di 1,9% (2Q26: 1,9%). Patut dicermati bahwa, LAR untuk korporasi naik ke 7% (Jun-26: 6,9%) dan ada kenaikan NPL di segmen small ke 3,9% (Jun-26: 3,8%) dan consumer ke 3,2% (Jun-26: 3%). Namun untuk segmen lain relatif stabil. Perseroan masih menjaga guidance untuk credit cost di 1-1,2%.
Kami masih merekomendasikan BUY, namun menurunkan TP ke Rp4.200 (implied PB 0,9x di 2027F) sebelumnya di Rp5.000, dimana hal ini disebabkan oleh meningkatnya premi risiko seiring potensi downgrade Indonesia ke stand-alone market dan perseroan masuk dalam MSCI global standard index. Namun kami melihat positif: (1) stabilnya pertumbuhan kredit yang rendah risiko, (2) ekspektasi NIM yang lebih stabil di 4Q26, (3) kualitas aset yang membaik, serta (4) valuasi yang atraktif, paling murah diantara 4 bank besar.
Full report:
https://pans.id/ResultSnapshotBBNI_3Q26

