Kembali
Result Snapshot: BBCA (BUY - TP: Rp7.400): Solid r
Oleh Tim Riset Panin SekuritasIncome statement: BBCA mencatatkan laba bersih Rp15,7 triliun di 3Q26 (+5,6% QoQ; +9,0% YoY) in-line (PANS: 77,2%; Cons: 75,3%). NIM perseroan naik ke 5,6% di 3Q26 (2Q26: 5,3%) dengan risk adjusted NIM di 5,3% (2Q26: 5,1%) didorong oleh kenaikan asset yield ditengah repricing loan yang dilakukan perseroan pasca kenaikan suku bunga acuan yang meng-offset kenaikan funding cost. Perseroan tidak merubah guidance NIM di level 5,4-5,6%.
Loan: Kredit tumbuh ke Rp1.063 triliun di Sep-26 (+2,7% QoQ; +12,6% YoY) didorong oleh segmen korporasi Rp528 triliun (+2,9% QoQ; +20,9% YoY) dan SME di Rp149 triliun (+10,8% QoQ; +15,4% YoY) namun segmen consumer masih lemah, disebabkan oleh kredit properti (-0,4% QoQ) dan vehicle (-5,1% QoQ). Sektor yang mendorong pertumbuhan kredit adalah IT (+175% ytd), farming fishery (+221% ytd) dengan porsi kredit Rupiah mendominasi di 92%. Perseroan merevisi naik pertumbuhan kredit ke 10-11% pada 2026F (sebelumnya: 8-10%).
Dana pihak ketiga (DPK): DPK tercatat meningkat ke Rp1.301 triliun pada Sep-26 (+1,3% QoQ; +8,0% YoY) dengan rasio dana murah (CASA) stabil di 84,8% Patut dicermati, deposito turun ke Rp198 triliun (-1,8% QoQ; -3,7% YoY) karena likuiditas perseroan yang masih kuat, dengan LDR longgar di 79,8% pada Sep-26 (Jun-26: 78,7%). Patut dicermati, AUM investasi perseroan naik lebih 2x lipat dalam 4 tahun terakhir, saat ini sebesar Rp354 triliun (2025: Rp313 triliun; 2022: Rp139 triliun).
Kualitas kredit (NPL): Kualitas aset relatif stabil dengan LAR turun ke 4,6% (Jun-26: 4,9%) dengan NPL stabil di 1,8% (Jun-26: 1,8%) dimana porsi kenaikan pada LAR dan NPL lebih disebabkan oleh segmen consumer. Perseroan masih menargetkan cost of credit di 50-60bps pada 2026F.
Rekomendasi: Kami masih merekomendasikan BUY, namun menurunkan target harga ke Rp 7.400 (implied PB 3x di 2027F) dari sebelumnya di Rp8.000, seiring dengan meningkatnya premi risiko untuk Indonesia pasca potensi downgrade ke stand-alone market. Rekomendasi positif masih didorong oleh: (1) pertumbuhan kredit yang kuat, (2) likuiditas dengan LDR yang masih kuat, (3) komposisi dana murah yang tinggi, serta (4) kualitas aset yang relatif terjaga.

