Kembali
BDMN: Will MUFG Unlock the Re-RatingÂ
Oleh Tim Riset Panin SekuritasPT Bank Danamon Indonesia Tbk merupakan anak perusahaan grup konglomerasi MUFG dengan kepemilkan mencapai 92,47%. Danamon memiliki segmen nasabah yang bervariasi, seperti nasabah korporasi, usaha kecil dan menengah, hingga nasabah retail dengan total kredit dan trade balance mencapai Rp230 triliun hingga 6M26 (+5% QoQ; +12% YoY), serta DPK yang meningkat mencapai Rp182 triliun (+3,2% QoQ; +13,7% YoY). Selain itu, Bank Danamon berencana melakukan aksi integrasi dengan MUFG Indonesia mulai efektif di 2027. Saat ini, BDMN diperdagangkan di PB 0,9x (peers KBMI III : 0,8x).
Laba bersih positif. BDMN mencatatkan laba bersih di 2Q26 sebesar Rp1,3 triliun (+11,2% QoQ; +31,3% YoY) setara laba bersih Rp2,3 triliun di 6M26 (+33,0% YoY) didorong oleh, pertumbuhan Net Interest Income (NII) sebesar Rp5,8 triliun (+18,9% QoQ; +8,2% YoY), sejalan dengan ekspansi kredit dan trade balance di 6M26 yang masih tumbuh sebesar Rp230 triliun (+12% YoY). Selain itu, laba operasi secara kuartalan tercatat meningkat menjadi Rp7 triliun di 2Q26 (+24,9% QoQ; +6,3% YoY) didukung oleh meningkatnya kontribusi non-interest income pada pendapatan provisi dan komisi sebesar Rp428 miliar (+17,2% QoQ; -2,0% YoY) serta imbalan jasa lain (imbalan administrasi + transaksi bancassurance + transaksi kartu kredit + lain-lain) mencapai Rp1 triliun (+64,1% QoQ; +9,7% YoY), serta NIM secara kuartalan membaik ke level 8,6% di 2Q26 (1Q26: 7,6%; 2Q25: 9,1%) yang sebagian besar ditopang oleh bisnis Home Credit Indonesia (HCI) dengan yield sekitar ~30% pasca Danamon menjadi Pemegang Saham Pengendali (PHP) per Juni-26, dari yang sebelumnya dimiliki oleh PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk.
Penyaluran kredit didominasi segmen EBFI. Perseroan mencatatkan kredit dan trade finance yang meningkat di 6M26 sebesar Rp230 triliun (+5% QoQ; +12% YoY) yang dikontribusikan oleh semua segmen. Adapun 2 segmen utama pembiayaan, yaitu (1) Wholesale lending yang mencapai Rp137 triliun (+8% QoQ; +16% YoY) terdiri dari segmen EBFI dan SME. Segmen Enterprise Banking (Korporasi & komersial) & Financial Institution (EBFI) berkontribusi terbesar terhadap penyaluran kredit sebesar Rp109 triliun (+9% QoQ; +19% YoY), diikuti dengan segmen SME sebesar Rp28 triliun (+2% QoQ; +7% YoY). (2) Retail lending yang tumbuh relatif moderat sebesar Rp92 triliun (~0% QoQ; +6% YoY) yang terdiri dari segmen Consumer (KPR, KTA, CC) dan Subsidiaries (Adira Finance + HCI). Segmen consumer tumbuh tipis ke Rp23 triliun (+1% QoQ; +5% YoY), diikuti dengan segmen subsidiaries sebesar Rp69 triliun (~0% QoQ; +6% YoY).
Adira Finance: mesin pembiayaan utama kedua. Pertumbuhan new disbursed loan 2W di 5M26 tercatat tumbuh +16,8% YoY (industri: +0,7% YoY), sementara segmen 4W tumbuh sekitar +48,4% YoY (+12,8% YoY). Meningkatnya penyaluran pembiayaan baru pada sektor otomotif didorong oleh peningkatan permintaan konsumen pada kendaraan EV dan belanja pemerintah, seiring dengan terlaksananya Indonesia International Motor Show (IIMS) ke-5 (2026) di Surabaya.
Tren dana pihak ketika (DPK) meningkat. DPK tercatat meningkat ke Rp182 triliun pada Jun-26 (+3,2% QoQ; +13,7% YoY), namun terlihat bahwa tren komposisi dana murah (CASA) tercatat menurun secara kuartalan per Jun-26 menjadi Rp70,5 triliun (-8,5% QoQ; +0,9% YoY) sehingga mendorong CASA ratio yang menurun ke level 38,8% (1Q26: 43,8%; 2Q25:43,6%). Namun patut dicermati juga bahwa LDR turut mengalami kenaikan, menunjukan likuiditas yang kian mengetat, di 100,4% pada Juni-26 (Mar-26: 97,7%; Jun-25: 97,8%) seiring dengan meningkatnya komposisi dana mahal, time deposit (TD), per Jun-26 menjadi Rp111 triliun (+12,2% QoQ; +23,2% YoY) yang berpotensi meningkatkan dari sisi funding cost.
Kualitas aset relatif solid. NPL gross tercatat menurun pada 2Q26 ke level 1,7% (2Q25: 2,0%) seiring dengan loan at risk (LAR) yang menunjukan tren penurunan ke level 7,8% di 2Q26 (1Q26: 8,3%; 2Q25: 9,9%). Namun demikian, risiko kredit sebagian besar masih dikontribusikan pada segmen subsidiaries (Adira Finance + Home Credit Indonesia) dengan total NPL yang tercatat di 2Q26 sebesar Rp1,4 triliun (+0,4% QoQ; +19,1% YoY) atau sekitar 39% dari total NPL perseroan sebesar Rp3,7 triliun. Di lain sisi, NPL coverage perseroan berada posisi yang kuat sebesar 282,4% sehingga memiliki bantalan yang solid dalam mengantisipasi potensi pemburukan kualitas kredit. Perbaikan tersebut turut tercermin oleh Cost of Credit yang menurun ke level 2,3% di 2Q26 (2Q25: 2,8%) mengindikasikan menurunnya tekanan pencadangan akibat risiko kredit serta pebaikan kualitas aset secara keseluruhan. Selain itu, rasio CAR mengalami sedikit penurunan ke level 21,8% di 2Q26 (2Q25: 24,0%) seiring ekspansi aset berisiko tumbuh lebih cepat, namun level CAR 21,8% masih berada pada tingkat yang solid dan jauh dari batas minimum regulator.
Potensi integrasi MUFG (Indonesia). Sebagai tambahan, Bank Danamon memiliki total aset per 6M26 sekitar Rp301 triliun yang telah mencakup bank konvensional, unit usaha syariah, dan pembiayaan melalui anak usahanya, sementara MUFG Indonesia, kantor cabang dari MUFG Bank,Ltd., memiliki total aset mencapai Rp210 triliun. Potensi integrasi ini berpotensi memberikan jaringan global dan nasional yang lebih luas bagi bisnis perseroan. Patut dicermati juga, kualitas aset, komposisi dana murah (CASA) serta kecukupan modal (CAR) MUFG yang kuat, yang akan menjadi katalis positif untuk integrasi ini.
Kami memandang NEUTRAL untuk perseroan karena: (1) Kenaikan laba bersih double-digit tercermin dari kinerja NIM kuartalan meningkat ke level 8,6% di 2Q26 (1Q26: 7,6%; 2Q25: 9,1%) yang sebagian besar ditopang oleh HCI, (2) pertumbuhan kredit double-digit menjadi Rp230 triliun dikontribusikan oleh semua segmen, (3) kualitas aset yang solid sehingga mampu memaksimalkan penyaluran kredit. Namun patut dicermati, downside-risk atas komposisi dana murah yang menurun secara kuartalan dan relatif flat secara tahunan sehingga mendorong CASA ratio yang menurun ke level 38,8% di 2Q26 (1Q26: 43,8%; 2Q25:43,6%), detail integrasi antara Bank Danamon dengan MUFG (Indonesia) masih menunggu perkembangan lebih lanjut, serta free float yang masih dibawah <10%. Saat ini, BDMN diperdagangkan di PB 0,9x (peers KBMI III : 0,8x).
Full Report:
https://pans.id/CompanyUpdate_BDMN_2026

