Kembali
Panin Sekuritas - Trading Idea 30 Oktober 2026
Oleh Tim Riset Panin SekuritasUlasan Pasar
Bursa pada Sesi I. IHSG ditutup melemah -1,29% di level 5.032, atau sejalan dengan bursa AS yang ditutup melemah seiring data PCE inflation yang naik ke 3,6% dengan inflasi inti PCE naik ke 3,1%, sehingga memberikan ruang kenaikan suku bunga pada pertemuan Des-26 nanti. Di sisi lain, rilis data pertumbuhan ekonomi di US tercatat lebih baik di 3,4% 3Q26 (est: 3,2%) yang didorong oleh belanja konsumsi dan investasi AI. IHSG dibuka melemah dan tetap berada di zona merah hingga penutupan. Saat ini investor sedang mencermati data PCE AS yang meningkat ditengah pertumbuhan ekonomi AS yang solid sehingga meningkatkan kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed. Adapun, outflow dana asing masih berlanjut seiring dengan ketidakpastian mengenai potensi downgrade status Indonesia dari emerging market menjadi stand-alone market.
Bursa Regional. Bursa Asia bergerak mayoritas melemah sepanjang sesi I dimana Indeks Kospi turun -3,01%, Shanghai -0,30%, Nikkei -2,33%, dan HangSeng +1,64%. Investor Asia saat ini sedang mencermati ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Des-26 seiring data laju PCE AS yang lebih tinggi. Adapun harga minyak global saat ini masih berada di level tinggi. Di sisi lain, penjualan ritel Korea Selatan pada Sep-26 tercatat tumbuh +3,6% MoM (prev: -1,8% MoM; est: +1,2% MoM). Adapun unemployment rate Jepang pada Sep-26 tercatat turun ke level 2,4% (prev: 2,5%; cons: 2,5%). Patut dicermati, BoJ menahan suku bunga stabil di level 1,25% pada pertemuan Oktober.
Indeks sektoral. Indeks sektoral mayoritas melemah pada sesi 1. Pelemahan terbesar terjadi di sektor basic -3,13% dan sektor infrastruktur -2,90%. Pelemahan sektor basic terjadi seiring dengan penurunan saham BRPT (-6,96%), AMMN (-3,74%), EMAS (-5,58%), dan MDKA (-6,77%) sebagai emiten dengan salah satu weighting terbesar di sektor ini. Penguatan terjadi di sektor kesehatan +0,16% seiring dengan penguatan emiten CARE (+8,33%), HEAL (+2,91%), dan KLBF (+1,40%).
Komoditas & Nilai Tukar. Harga komoditas mayoritas bervariasi, dimana harga minyak brent +1,01%, dan timah -2,51%. Harga soybean turun -0,39% menjadi USD12,2/Bu, didorong oleh tekanan supply seiring revisi naik proyeksi produksi soybean AS 2026/27 sebesar 1% menjadi rekor 4,56 miliar bushel, dengan yield diperkirakan mencapai 53,1 bushel/acre. Tekanan berlanjut seiring progres panen AS yang telah mencapai 79% dari total area per 25 Okt-26, sedikit di atas rata-rata 5 tahun sebesar 77%, serta meningkatnya daya saing soybean Brazil akibat pelemahan mata uang real yang membuat harga ekspornya lebih kompetitif. Namun demikian, downside berpotensi tertahan oleh penguatan permintaan ekspor AS, tercermin dari kenaikan export inspections menjadi 2,48 juta ton pada pekan hingga 22 Okt-26, dibandingkan 2,07 juta ton pada pekan sebelumnya dan 1,16 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Rupiah melemah -0,12% di level Rp18.158/USD.
Nilai Perdagangan. Perdagangan di pasar regular di sepanjang sesi I dengan nilai transaksi sekitar hampir Rp5,6 triliun, lebih rendah dari transaksi perdagangan Kamis kemarin. Dari nilai transaksi pada sesi 1 didominasi oleh transaksi saham financials, technology, dan energy.
Yield SUN. Yield obligasi untuk tenor 5 tahun turun dan 10 tahun naik, investor mencermati penurunan yield UST dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Rekomendasi Saham
PGAS closing 1335 tertinggi 1375, +ASII, pilihan saham-saham dengan frekuensi perdagangan tertinggi untuk scalping (trading cepat)
Full Report
https://pans.id/TradingIdea30Oktober2026
Bursa pada Sesi I. IHSG ditutup melemah -1,29% di level 5.032, atau sejalan dengan bursa AS yang ditutup melemah seiring data PCE inflation yang naik ke 3,6% dengan inflasi inti PCE naik ke 3,1%, sehingga memberikan ruang kenaikan suku bunga pada pertemuan Des-26 nanti. Di sisi lain, rilis data pertumbuhan ekonomi di US tercatat lebih baik di 3,4% 3Q26 (est: 3,2%) yang didorong oleh belanja konsumsi dan investasi AI. IHSG dibuka melemah dan tetap berada di zona merah hingga penutupan. Saat ini investor sedang mencermati data PCE AS yang meningkat ditengah pertumbuhan ekonomi AS yang solid sehingga meningkatkan kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed. Adapun, outflow dana asing masih berlanjut seiring dengan ketidakpastian mengenai potensi downgrade status Indonesia dari emerging market menjadi stand-alone market.
Bursa Regional. Bursa Asia bergerak mayoritas melemah sepanjang sesi I dimana Indeks Kospi turun -3,01%, Shanghai -0,30%, Nikkei -2,33%, dan HangSeng +1,64%. Investor Asia saat ini sedang mencermati ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Des-26 seiring data laju PCE AS yang lebih tinggi. Adapun harga minyak global saat ini masih berada di level tinggi. Di sisi lain, penjualan ritel Korea Selatan pada Sep-26 tercatat tumbuh +3,6% MoM (prev: -1,8% MoM; est: +1,2% MoM). Adapun unemployment rate Jepang pada Sep-26 tercatat turun ke level 2,4% (prev: 2,5%; cons: 2,5%). Patut dicermati, BoJ menahan suku bunga stabil di level 1,25% pada pertemuan Oktober.
Indeks sektoral. Indeks sektoral mayoritas melemah pada sesi 1. Pelemahan terbesar terjadi di sektor basic -3,13% dan sektor infrastruktur -2,90%. Pelemahan sektor basic terjadi seiring dengan penurunan saham BRPT (-6,96%), AMMN (-3,74%), EMAS (-5,58%), dan MDKA (-6,77%) sebagai emiten dengan salah satu weighting terbesar di sektor ini. Penguatan terjadi di sektor kesehatan +0,16% seiring dengan penguatan emiten CARE (+8,33%), HEAL (+2,91%), dan KLBF (+1,40%).
Komoditas & Nilai Tukar. Harga komoditas mayoritas bervariasi, dimana harga minyak brent +1,01%, dan timah -2,51%. Harga soybean turun -0,39% menjadi USD12,2/Bu, didorong oleh tekanan supply seiring revisi naik proyeksi produksi soybean AS 2026/27 sebesar 1% menjadi rekor 4,56 miliar bushel, dengan yield diperkirakan mencapai 53,1 bushel/acre. Tekanan berlanjut seiring progres panen AS yang telah mencapai 79% dari total area per 25 Okt-26, sedikit di atas rata-rata 5 tahun sebesar 77%, serta meningkatnya daya saing soybean Brazil akibat pelemahan mata uang real yang membuat harga ekspornya lebih kompetitif. Namun demikian, downside berpotensi tertahan oleh penguatan permintaan ekspor AS, tercermin dari kenaikan export inspections menjadi 2,48 juta ton pada pekan hingga 22 Okt-26, dibandingkan 2,07 juta ton pada pekan sebelumnya dan 1,16 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Rupiah melemah -0,12% di level Rp18.158/USD.
Nilai Perdagangan. Perdagangan di pasar regular di sepanjang sesi I dengan nilai transaksi sekitar hampir Rp5,6 triliun, lebih rendah dari transaksi perdagangan Kamis kemarin. Dari nilai transaksi pada sesi 1 didominasi oleh transaksi saham financials, technology, dan energy.
Yield SUN. Yield obligasi untuk tenor 5 tahun turun dan 10 tahun naik, investor mencermati penurunan yield UST dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Rekomendasi Saham
PGAS closing 1335 tertinggi 1375, +ASII, pilihan saham-saham dengan frekuensi perdagangan tertinggi untuk scalping (trading cepat)
Full Report
https://pans.id/TradingIdea30Oktober2026

