Kembali
Company Update: ERAA (BUY - TP: Rp650): Not Just a
Oleh Tim Riset Panin SekuritasBisnis ERAA kami nilai positif didukung: 1) peluncuran model iPhone terbaru, 2) diversifikasi bisnis melalui segmen active and lifestyle, serta 3) ekspansi Erablue pada bisnis consumer electronics. Meski begitu, ketatnya pasokan chip global berpotensi mendorong kenaikan harga smartphone dan menekan demand, khususnya pada smartphone entry-level. Di sisi lain, segmen Telepon Seluler dinilai relatif lebih resilien didukung smartphone premium, seperti iPhone dan Samsung dengan sensitivitas harga yang lebih rendah. Kami mempertahankan rekomendasi BUY untuk ERAA dengan TP 650 (implied P/E 5,3x di 27F).
Laba bersih tertekan di 3Q26 menjadi Rp304 miliar (-8,3% QoQ; +39,8% YoY) karena 1) pertumbuhan penjualan yang lebih soft menjelang perilisan iPhone 18 Pro/ProMax dan iPhone Duo (4Q26), adapun kontribusi penjualan segmen Telepon Seluler tercatat turun ke level 69,5% (2Q26: 72,4%; 3Q25: 75,4%), dan 2) kenaikan harga smartphone (akibat kelangkaan chip) yang kemudian menekan penjualan smartphoneentry-level. Di sisi lain, biaya operasional meningkat menjelang perilisan iPhone model baru, dengan OPEX to sales tercatat di level 9,7% di 3Q26 (2Q26: 9,1%; 3Q25: 9,5%) seiring meningkatnya biaya iklan dan promosi. Kami memproyeksikan kinerja positif untuk ERAA di 26/27F, didukung 1) perilisan iPhone terbaru, 2) performa positif segmen active and lifestyle serta Erablue, dan 3) perputaran modal yang cepat dengan CCC yang memendek (32 hari; 3Q25: 38 hari; avg. peers: 87 hari), meski patut dicermati terkait kelangkaan chip yang berpotensi masih berlangsung hingga 2027F.
Perilisan iPhone 18 Pro/Max (16-Okt) dan iPhone Duo (30-Okt) di Indonesia. Kami proyeksikan mampu membawa kontribusi segmen Telepon Seluler tumbuh +8%/+14,4% YoY di 26/27F seiring ASP dan volume yang masing-masing kami perkirakan +12% dan -3,9% YoY di 26F. Membandingkan ERAA dengan MAPI selaku peers, ERAA memiliki skala bisnis gadget yang lebih besar dengan 69,5% pendapatan dikontribusikan oleh Telepon Seluler, didukung 219 gerai iBox dan >1.103 gerai Erafone, sementara MAPI memiliki 107 gerai Digimap, tidak lebih banyak dari ERAA, sehingga penetrasi ERAA lebih luas dan mudah meng-capture peluang demand. Di samping itu, iPhone diproyeksikan akan menghadirkan iPhone 18 standard dan iPhone Air 2 di Mar-27 yang kami perkirakan baru akan masuk ke Indonesia di 2Q27, kemudian diikuti perilisan iPhone 20 Pro dan iPhone Duo 2 yang diperkirakan masuk ke Indonesia di 2H27. Dengan itu, kami memperkirakan kontribusi segmen Telepon Seluler tumbuh +14,4% YoY dengan ASP dan volume masing-masing diperkirakan +15% dan -0,5% YoY di 27F.
Segmen Active and Lifestyle terus lakukan diversifikasi portofolio melalui anak usahanya, ERAL, yang baru saja resmi menjadi salah satu pemegang hak distribusi dan ritel Leviâ??s di Indonesia pada Jul-26 lalu. Melalui kemitraan ini, ~20 Original Leviâ??s Store yang tersebar di Indonesia kini berada di bawah pengelolaan ERAL, yang kemudian kini telah bertambah 2 gerai baru lainnya, sehingga total gerai Leviâ??s saat ini sebanyak 22. Kemitraan ini kami nilai positif sebab mampu memperkuat portofolio bisnis ERAL, utamanya pada Fashion Apparel. Adapun berdasarkan Top Brand Index, Leviâ??s memiliki mind share dan brand loyalty paling kuat pada kategori celana jeans Indonesia dibanding merek lainnya, meanwhile dari sisi global, brand Leviâ??s sendiri memiliki kinerja yang solid dengan laba bersih sebesar USD95 juta di 2Q26 (+18,8% YoY) seiring solidnya penjualan pakaian wanita. Tidak hanya itu, prospek positif dari penjualan unit otomotif juga kami nilai mampu menjadi kontributor positif untuk segmen ini.
Erablue menunjukkan peningkatan produktivitas gerai, tercermin dari SSSG tercatat +3,5% YoY di Sep-26 atau +13,7% YoY di 9M26, disertai pendapatan mencapai Rp2,9 triliun di Sep-26 (+86% YoY; contribution to total sales ERAA: 4,5%). Sebagai informasi, total gerai Erablue saat ini mencapai 337 gerai dan ERAA sendiri memiliki â??kepemilikan secara tidak langsungâ?� atas Erablue melalui anak usahanya PT Erafone Artha Retailindo (EAR), sebesar 55%, adapun pendapatan Erablue terkonsol ke segmen Komputer dan Elektronik, yang mana berdasarkan kinerja terakhir, segmen Komputer dan Elektronik mencatat penjualan sebesar Rp1,46 triliun di 3Q26 (+6,7% QoQ; +78,8% YoY; kontribusi: 6,9%) atau Rp3,86 triliun di 9M26 (+19,5% YoY). Membandingkan dengan peer-nya, ECII masih mencatat rugi bersih hingga 6M26, kerugian berlanjut sejak 2023 yang kami nilai di tengah meningkatnya persaingan dengan pemain ritel elektronik modern, seperti Erablue. Kedepan, Erablue kami nilai berpotensi menjadi salah satu growth dan margin driver untuk segmen non-smartphone ERAA seiring dengan rencana ekspansi ~500 gerai pada 1Q27F dan SSSG yang solid, namun patut dicermati terkait potensi tekanan marjin dari ekspansi yang agresif serta risiko persaingan harga di tengah daya beli konsumen elektronik yang belum pulih sepenuhnya.
Kami mempertahankan rekomendasi BUY untuk ERAA dengan penyesuaian target harga menjadi Rp650 (implied P/E 5,3x di 27F), sebelumnya Rp400, didorong oleh potensi positif dari: 1) 2x perilisan model terbaru iPhone, 2) segmen active and lifestyle yang ekspansif, dan 3) performa positif Erablu. Ke depan, meski ERAA sangat bergantung pada perilisan smartphone, utamanya iPhone, kinerja dari anak usaha kami nilai berpotensi menjadi earnings driver.
Selengkapnya disini: https://pans.id/ResultUpdateERAA_3Q26

