Kembali
Result Update: BRMS (BUY - TP: Rp500): Moving towa
Oleh Tim Riset Panin SekuritasKinerja BRMS pada 3Q26 membaik dengan EBITDA mencapai USD24 juta (+298,4% YoY), didukung pemulihan penjualan emas menjadi 16,7 koz (+165,8% QoQ) pasca kendala penjualan pada 2Q26 serta adanya kontrak offtake ANTM. Ke depan, kami melihat prospek pertumbuhan tetap menarik seiring peningkatan gold grade pasca selesainya pushback di Poboya, ekspansi kapasitas pabrik CIL dari 500 menjadi 2.000 tpd yang diperkirakan mulai beroperasi pada Nov-26, serta dimulainya penambangan underground pada 2H27F. Adapun kami memperkirakan produksi emas FY26E/FY27F mencapai 60 koz/89 koz. Kami merekomendasikan BUY dengan TP Rp500 (implied EV/Reserves 17,6x FY27F).
Perbaikan penjualan emas menopang kinerja. BRMS mencatatkan pendapatan 3Q26 sebesar USD72 juta (+172,8% QoQ; +14,4% YoY), namun sepanjang 9M26 tertekan menjadi USD168 juta (-8,7% YoY) atau in-line dengan estimasi kami namun di bawah konsensus (PANS: 63,5%; Cons: 59,9%; 70,5%). Perbaikan pendapatan di 3Q26 terjadi seiring dengan peningkatan penjualan emas akibat kontrak offtake ANTM dengan harga yang kompetitif, namun secara kumulatif 9M26 tetap tertekan akibat penjualan emas yang lebih rendah. Manajemen juga mengindikasikan bahwa emas yang tidak terjual di 2Q26 sudah sepenuhnya terjual di 3Q26. Di sisi lain, EBITDA di 3Q26 tercatat sebesar USD24 juta (+298,4% YoY) atau secara kumulatif 9M26 sebesar USD60 juta (-20,3% YoY). Adapun perseroan mencatatkan perbaikan laba bersih 3Q26 sebesar USD11 juta (2Q26: -USD5 juta; 3Q25: USD15 juta), namun sepanjang 9M26 tercatat USD24 juta (-36,9%) di bawah estimasi kami dan konsensus (PANS: 52,4%; Cons: 52,0%; 5Y Avg: 65,6%).
Gold grade meningkat pasca selesainya pushback. Kami ingin menyoroti penjualan emas di 3Q26 meningkat signifikan mencapai 16,7k oz (+165,8% QoQ; -4,6% YoY) yang terjadi seiring dengan low-base effect kendala penjualan emas di 2Q26 serta kontrak offtake ANTM. Namun demikian, secara tahunan penjualan emas masih tertekan menjadi 37,8k oz (-33,1% YoY). Adapun gold grade di 3Q26 berhasil meningkat menjadi 1,94 g/t (2Q26: 0,9 g/t; 3Q25: 1,5 g/t), serta sepanjang 9M26 menjadi 1,5 g/t (9M25: 1,4 g/t) akibat pushback yang sudah selesai. Di sisi lain, ASP di 3Q26 relatif flat menjadi USD4.128 (-0,2% QoQ; +19% YoY), namun secara tahunan masih positif di USD4.280/oz (+35,6% YoY).
Sekilas industri. Harga emas berada di sekitar ~USD4.050/oz (+0,4% YoY), dimana volatilitas jangka pendek masih tinggi di tengah stance hawkish The Fed dan ekspektasi kenaikan suku bunga 1x hingga akhir 2026E. Namun demikian, permintaan jangka panjang masih ditopang oleh tren dedolarisasi khususnya dari bank sentral global. Adapun PBoC melanjutkan akumulasi emas selama 23 bulan berturut-turut, dengan kepemilikan pada Sep-26 mencapai 77,5 juta oz (~9% dari total reserves). Selain itu, permintaan investasi juga tetap solid, tercermin dari arus dana masuk global gold ETF yang mencapai rekor USD31 miliar sepanjang 3Q26, sementara kepemilikan meningkat menjadi rekor 4.256 ton (+10,9% YoY) pada Sep-26 meskipun harga emas terkoreksi -6,4%. Namun patut dicermati, kondisi emas domestik sedang dibayangi kondisi oversupply pasca implementasi tarif bea keluar hingga ~15%, dimana ekspor emas Indonesia hingga 3Q26 tertekan menjadi hanya 3,74 juta ton (FY25: 19,7 juta ton). Kondisi ini juga meningkatkan bargaining power untuk pemain downstream (refiners) agar dapat mendapatkan diskon yang tinggi sehingga menekan margin untuk miners.
Production ramp-up. Kami memperkirakan penjualan emas perseroan membaik pada 2H26 pasca kendala operasional dan penjualan pada 2Q26. Aktivitas pushback di area Poboya telah selesai pada Jul-26, dengan manajemen mengindikasikan gold grade pada 4Q26 dapat mencapai 1,5-1,7 g/t dan volume emas terjual di atas >20 koz. Di sisi lain, kami melihat kontrak offtake dengan ANTM yang berlaku hingga Jun-28 dapat menyerap sekitar ~60% produksi emas bulanan CPM pada harga kompetitif, sehingga mengurangi kekhawatiran penumpukan inventori akibat oversupply emas domestik. Moving ahead ke FY27F, kami melihat prospek produksi berpotensi membaik didukung peningkatan kapasitas pabrik dari 500 menjadi 2.000 tpd yang diperkirakan mulai beroperasi pada Nov-26, serta dimulainya penambangan underground pada 2H27F dengan ekspektasi kadar emas sekitar 3,2-4,9 g/t. Dengan dukungan tersebut, kami memperkirakan produksi emas FY26E/FY27F mencapai 60koz/89koz, relatif in-line dengan manajemen di 65koz/95koz. Kami memandang FY27F sebagai tahun transisi, dengan kontribusi produksi open pit dan underground diperkirakan relatif 50/50, sebelum porsi underground meningkat menjadi sekitar 70% pada FY28F. Meski demikian, realisasi proyeksi tetap bergantung pada kelancaran ramp-up kapasitas pengolahan dan eksekusi tambang bawah tanah.
Kami merekomendasikan BUY untuk BRMS namun menurunkan target harga ke Rp500 (Implied EV/Reserves 17,6x di 2027F) dari Rp650. Beberapa pertimbangan: 1) peningkatan kapasitas produksi emas CIL pertama ke 2.000 tpd, 2) selesainya operational pushback menopang perbaikan kadar bijih ke depan, 3) tambang underground yang diperkirakan mulai di 2H27F dengan ekspektasi kadar emas 3,2-4,9 g/t, serta 4) basis cadangan emas yang besar. Namun patut dicermati, downside risk volatilitas harga emas seiring dengan kekhawatiran inflasi global serta meningkatnya premi risiko untuk Indonesia pasca potensi downgrade ke stand-alone market.
Full Report:
https://pans.id/ResultUpdateBRMS_3Q26

