Kembali
Market Update: JCI: The Perfect Storm - Nico Laure
Oleh Tim Riset Panin SekuritasRisiko geopolitik masih membayangi pasar global, sementara US midterm election berpotensi mengubah arah kebijakan fiskal dan sentimen pasar keuangan. Tekanan inflasi dan Rupiah yang masih tinggi mempersempit fleksibilitas moneter BI, di tengah meningkatnya risiko fiskal dan keterbatasan external buffer. Kami melakukan simulasi untuk IHSG berdasarkan komposisi kepemilikan data KSEI di Okt-26, dimana pada skenario dasar kami ada ruang bahwa IHSG dapat menyentuh 4.642 dan pada skenario terburuk mengasumsi probabilita downgrade yang meningkat serta asumsi porsi dana asing keluar lebih tinggi, indeks dapat menyentuh 4.195 (tabel 13-14). Kami melihat beberapa katalis negatif untuk IHSG di Nov-26: (1) Tensi geopolitik yang masih akan tinggi khususnya setelah mid-term election di US, (2) meningkatnya risiko gagal bayar perusahaan AI global, (3) potensi downgrade obligasi Indonesia seiring melemahnya Rupiah dan defisit yang masih lebar, serta (4) potensi downgrade ke stand-alone yang dapat memicu outflow USD5-10bn. Rekomendasi kami mengalahkan IHSG pada Okt-26 PANS: -9,1% (IHSG: -16,7%). Untuk Nov-26 kami merekomendasikan: MEDC, EMAS, AMMN, BBCA, AADI, DSNG, ASII.
Risiko geopolitik masih membayangi pasar global, sementara US midterm election berpotensi mengubah arah kebijakan fiskal dan sentimen pasar keuangan. Upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran dan Houthi-Arab Saudi mulai diintensifkan, meski belum menghasilkan terobosan signifikan. Kebuntuan negosiasi terkait Selat Hormuz dan blokade AS masih memperkuat ekspektasi konflik akan berkepanjangan, menjaga harga minyak di atas USD100/barel. Di sisi lain, midterm election di AS pada 3-Nov-26 menjadi perhatian pasar, seiring hasil survei mengindikasikan peluang Demokrat merebut kendali Kongres AS. Skenario divided government berpotensi membatasi ekspansi fiskal melalui legislative gridlock, sehingga memberikan ruang bagi penurunan yield UST. Namun, defisit fiskal AS yang tetap tinggi, mendekati -6% PDB, membatasi potensi perbaikan tersebut. Sementara itu, penguatan dominasi Demokrat berpotensi meningkatkan kekhawatiran pengetatan regulasi sektor teknologi AI, yang dapat menekan valuasi saham sekaligus meningkatkan daya Tarik obligasi.
Tekanan inflasi dan Rupiah yang masih tinggi mempersempit fleksibilitas moneter BI, di tengah meningkatnya risiko fiskal dan keterbatasan external buffer. Inflasi IHK Okt-26 diperkirakan melambat secara tahunan utamanya imbas moderasi inflasi inti akibat high-base effect harga emas serta melambat secara bulanan imbas moderasi daya beli domestik yang diiringi tren harga pangan yang mixed. Namun, inflasi diperkirakan tetap di atas +3% YoY seiring harga BBM yang relatif tinggi tetap menempatkan real policy rate spread di level yang belum optimal, sehingga fundamental Rupiah belum cukup ada dukungan yang meaningful sekaligus mempersempit ruang bauran kebijakan BI. Di sisi lain, menipisnya bantalan cadangan devisa setelah memperhitungkan kewajiban net forward membatasi ruang BI untuk terus mengandalkan intervensi valas dan insentif FX hedging. Kondisi ini memperkuat base case kami atas kenaikan BI Rate sebesar 25bps menjadi 6,00% pada RDG BI Nov-26, bahkan apabila rilis data PDB 3Q26 melampaui ekspektasi. Walau perlu cermati bilamana rilis data net ekspor better-than-expected dapat memacu keberlanjutan sikap berimbang BI terhadap dual mandate-nya. Sementara itu, yield SBN 10Y yang menembus 7,5% turut mengindikasikan persepsi pasar mengenai kenaikan premi risiko fiskal dan external buffer. Meski demikian, reformasi pasar modal oleh OJK-SRO, percepatan belanja fiskal yang lebih terarah, serta potensi de-eskalasi Timur Tengah dapat memperbaiki sentimen pasar keuangan domestik.
Kami menyarankan tactical trading dan wait & see. IHSG tercatat melemah tajam pada Okt-26 (-16,7% MoM) disebabkan oleh: (1) tensi geopolitik yang masih tinggi mengakibatkan harga minyak tetap tinggi, (2) meningkatnya yield obligasi di global yang mengurangi attractiveness dari saham, serta, (3) melemahnya nilai tukar Rupiah diiringi kenaikan yield obligasi ~70-100bps seiring meningkatnya premi risiko, serta (4) potensi downgrade satus Indonesia ke stand-alone oleh MSCI yang masih akan menunggu feedback investor hingga Apr-26 dan keputusan di Jun-26. Sebagai informasi, tekanan cukup tinggi untuk saham yang masuk dalam kategori MSCI dan HSC, khususnya MSCI Standard yaitu: ASII, BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, BRMS, BRPT, TLKM dan UNTR; 35 saham di MSCI small cap serta 81 saham yang masuk dalam kategori HSC. Sebagai informasi, BEI dan OJK menginformasikan bahwa saham yang masuk dalam kategori HSC tidak akan dimasukkan ke dalam penghitungan indeks IHSG, LQ45, IDX30 dan IDX80 sejak 2 Nov-26, yang dapat meningkatkan bobot 0,3-1,5% untuk saham dengan kapitalisasi pasar besar (dengan asumsi mutual fund melakukan rebalancing dan masih menjaga porsi saham) dimana beberapa emiten yang diuntungkan adalah BMRI, TLKM, ASII, SMMA, AMMN, BBNI, TPIA, BRPT, UNTR dan INDF (tabel 15). Kami melakukan simulasi untuk IHSG berdasarkan komposisi kepemilikan data KSEI di Okt-26, dimana pada skenario dasar kami ada ruang bahwa IHSG dapat menyentuh 4.642 dan pada skenario terburuk mengasumsi probabilita downgrade yang meningkat serta asumsi porsi dana asing keluar lebih tinggi, indeks dapat menyentuh 4.195 (tabel 13-14). Patut dicermati bahwa, volatilitas pasar masih akan tinggi seiring menanti kebijakan dari regulator terkait dengan beberapa masalah yang dibahas oleh MSCI terkait dengan coordinated trading dan material improvement dan regulator merespon dengan memberikan sanksi untuk beberapa sekuritas, individu, Direksi serta beberapa perusahaan lainnya. Kami menyarankan untuk membatasi alokasi aset untuk saham serta lebih tactical dan tidak melakukan buy and hold jangka panjang.
Tekanan IHSG masih akan tinggi. Kami melihat beberapa katalis negatif IHSG: (1) Tensi geopolitik yang masih akan tinggi khususnya setelah mid-term election di US, (2) meningkatnya risiko gagal bayar perusahaan AI global, (3) potensi downgrade obligasi seiring dengan melemahnya nilai tukar Rupiah dan defisit yang masih lebar, serta (4) potensi downgrade ke stand-alone yang dapat memicu outflow dana asing sebesar USD5-10bn. Rekomendasi kami mampu mengalahkan IHSG pada Okt-26 dengan negatif -9,1% (IHSG: -16,7%). Untuk Nov-26 kami merekomendasikan: MEDC, EMAS, AMMN, BBCA, AADI, DSNG, ASII.
Full Report:
https://pans.id/MarketUpdateOkt-Nov2026

